Budaya, aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Suara membedakan makna karena adanya elemen fonem (unit bunyi terkecil) dalam bahasa. Perubahan sedikit saja pada getaran pita suara, artikulasi (lidah, bibir), atau panjang-pendeknya bunyi dapat mengubah arti sebuah kata secara drastis.
Sekali lagi, fenomena bahasa yang menggunakan perbedaan nada atau suara untuk membedakan arti kata dikenal sebagai bahasa bernada (tonal language). Dalam bahasa-bahasa ini, perubahan tinggi-rendahnya nada vokal dapat mengubah total makna sebuah kata, meskipun ejaan konsonan dan vokalnya sama.
Biasanya perbedaan suara ditandai dengan diakritik. Tanda diakritik berfungsi sebagai modifikasi huruf untuk membedakan pelafalan, panjang-pendek, atau nada suatu suara.
Perbedaan Suara ini ada pada kata Surabaya. Nama kota yang tertulis SURABAYA sekarang ini berbeda penulisan dari asal kata yang bersumber dari Prasasti. Yaitu prasasti Canggu.
Prasasti Canggu menggunakan aksara Jawa Kuna (Kawi), dimana ada perbedaan bunyi bunyi konsonan yang ditandai dengan diakritik. Diakritik adalah tanda baca atau simbol tambahan yang ditempatkan pada huruf atau aksara untuk mengubah nilai fonetis (cara pengucapan), tekanan, panjang-pendek, atau nada suatu bunyi bahasa.
Dalam aksara Kawi atau Jawa Kuna, suara S dibedakan menjadi tiga: yaitu Ś, Ș dan S. Masing masing memiliki bunyi yang berbeda

Diakritik Ś / ś (Aksen Akut / Acute Accent).
Fungsi: Digunakan dalam bahasa Polandia, serta untuk transliterasi bahasa Sanskerta.
Bunyi: Pelafalannya seperti “Sy” namun lebih lembut (palatalisasi)
Diakritik S dengan Titik di bawah (Ṣ, ṣ):
Fungsi : digunakan untuk transliterasi fonetik bahasa Semit (seperti bahasa Arab) dan bahasa Sanskerta. Melambangkan konsonan desis retrofleksif (/ʂ/).
Huruf S tanpa diakritik, berbunyi “es” untuk penyebutannya, dan menghasilkan suara desisan lembut “ssss” seperti
Diakritik yang membedakan arti itu tampak pada aksara Kawi. Perhatian suara /Śa/, /Ṣa/ dan /Sa/, masing masing memiliki aksara yang berbeda.



Śūrabhaya dan Surabaya berbeda tulisan, suara dan makna. Menurut kamus Sanskerta Śūra artinya berani. Sura artinya alkohol atau arak.

Dari deskripsi dengan diakritik maka secara linguistik, setiap aksara bisa memiliki makna yang berbeda. Termasuk yang menjadi fokus adalah penulisan nama Śūrabhaya dan Surabaya. Śūrabhaya berarti berani menghadapi bahaya. Surabaya adalah buaya peminum alkohol atau arak.
Pendek kata bahwa dengan mengenal aksara, kita bisa lebih mengenal arti yang sejatinya. (PAR/nng)
