Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Aksara adalah dasar aktual dimana nama Śūrabhaya dapat dibaca. Nama itu terbaca pada larik di Prasasti Canggu atau Trowulan I, yang dikeluarkan oleh Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit pada 1358 Masehi, tepatnya pada 7 Juli.

Siapa yang berani menyangkalnya atau harus menjenguknya ke Museum Nasional Indonesia di Jakarta. Setidaknya melalui bakal replika prasasti, yang bagaimana pun akan dibuat untuk melengkapi khazanah kesejarahan Surabaya. Meski pembuatan itu tidaklah mudah.
Prasasti Canggu ditulis dalam aksara Jawa Kuno atau Kawi dan dalam prasasti itu menyebut nama Naditira Pradesa Śūrabhaya (desa di tepian sungai Śūrabhaya). Ini adalah data otentik dimana nama Surabaya berasal.
Prasasti adalah bukti otentik dan sumber primer sejarah. Dipahat pada media keras seperti batu atau logam, prasasti bersifat sezaman dengan peristiwa yang dicatatnya, sehingga meminimalkan risiko manipulasi atau bias yang sering ditemukan pada tradisi lisan atau naskah yang disalin berulang kali.
Selain prasasti, juga dikenal kitab. Frasa Bhinneka Tunggal Ika sebagai sesanti bangsa Indonesia ditemukan dalam karya sastra berupa kitab kakawin Jawa Kuno yaitu Kitab Sutasoma, yang dikarang oleh Mpu Tantular pada masa Kerajaan Majapahit (abad ke-14). Kalimat “Bhinneka Tunggal Ika” diambil dari bahasa Jawa Kuno. Pada naskah aslinya, teks ini ditulis menggunakan aksara Kawi (sering disebut sebagai aksara Jawa Kuno).
Bahasa dan aksara Jawa Kuno dalam pemajuannya menjadi Bahasa Jawa dan aksara Jawa (Hanacaraka).

Aksara Jawa Kuno ini secara faktual dapat ditemukan pada lapik arca Joko Dolog di belakang Taman Apsari di depan Kediaman Dinas Gubernur Jawa Timur di jalan Gubernur Suryo. Arca ini berasal dari Trowulan yang dibawa oleh Residen Surabaya de Salls.
Bagaimana bentuk aksara Jawa kuno dapat disimak pada arca Joko Dolog. Begitu pula aksara Jawa Kuno sebagaimana tertulis pada prasasti Canggu dimana nama Śūrabhaya dituliskan.
Dari prasasti inilah nama Surabaya berasal. Dari nama inilah arti Śūrabhaya didapat. Yaitu berani menghadapi bahaya. Aksara Jawa Kuno atau Kawi adalah aksara yang umum sebelum dikenal aksara Jawa Baru atau Hanacaraka.
Apakah kita melupakan aksara itu atau kita belum tahu? (PAR/nng)
