Budaya sejarah
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati. Dari mana asal usul Surabaya, dari pinggir kali dalam cerita prasasti.
Ada Panji Margabhaya, seorang tokoh pahlawan. Adalah pahlawan Kemanusiaan, yang berjasa bagi sesama.
Ia tidak angkat senjata untuk menaklukkan lawan. Ia membantu sesama untuk urusan Kemanusiaan. Panji Margabhaya penyedia jasa Tambangan. Menyeberangkan warga untuk urusan perdagangan, Melancarkan jalannya warga untuk urusan keagamaan. Mendukung aktivitas warga meningkatkan kesejahteraan. Memperlancar dinamika sosial untuk urusan Kebudayaan. Ia adalah pahlawan tanpa senjata api.
Surabaya yang modern sekarang adalah berperang dalam pembangunan ekonomi, memperkukuh kebudayaan, mempererat persaudaraan dan persatuan. Bukan lagi mewarisi aktivitas angkat senjata api.
Apa yang dilakukan warga Surabaya sekarang bagai apa yang diperbuat Panji Margabhaya.
Pahlawan memiliki relevansi yang tidak harus berjuang angkat senjata api. Kita kenal ada pahlawan ekonomi Ada pahlawan keluarga, Ada pahlawan olahraga Ada pahlawan pendidikan, Dan masih ada pahlawan pahlawan lainnya. Pahlawan, yang harus angkat senjata, adalah TNI

Dalam sejarah Surabaya, ada sosok yang berjasa dengan angkat senjata. Ada juga sosok yang berjasa dengan membantu sesama.
Contoh Sosok pahlawan, yang berjasa pada sesama, adalah Panji Margabhaya, hingga jasanya dikenang oleh sang raja yang berkuasa di Wilwatikta.
Catatan sang raja itu diantaranya tentang Naditira Pradesa Śūrabhaya. Cerita ini bukan kiasan belaka tapi nyata. Sumbernya adalah prasasti, sebagai bukti otentik dan primer dalam dunia sejarah.
Sejarah Surabaya nyata terurai pada prasasti yang bernama Canggu, Dikeluarkan oleh sang raja Wilwatikta. Tepatnya pada 7 Juli 1358 Masehi, Yang kini keberadaannya ada di Museum Nasional Indonesia di Jakarta. (PAR/nng)
