Budaya, literasi, kejuangan
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Waktu terus berjalan. Rumah Radio Pemberontakan Bung Tomo di jalan Mawar 10 Surabaya pun hilang. Tidak ada lagi jejak Bung Tomo yang kasat mata.
Namun arek arek Surabaya, yang masih Peduli pada jejak perjuangan Bung Tomo, mau menjaga ingatan kolektif bangsa itu. Caranya tidak lagi dengan angkat senjata, tetapi dengan pena dan papan tombol digital, merangkai kata, menyusun kalimat, maka jadilah narasi dalam sebuah buku sebagai simbol keberanian sebagai kado penegasan sifat berani Śūrabhaya.
Buku itu berjudul “Reportase Jejak Perjuangan Bung Tomo di Mawar 10-12 Surabaya”. Peluncuran buku di Radio Republik Indonesia (RRI) Surabaya ini sekaligus menjadi jawaban intelek atas pertanyaan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang dilontarkan pada Rakernas Kepala Daerah se Indonesia di Bogor pada 2 Februari 2026 lalu.

Talkshow, yang menandai peluncuran buku itu, akan dihadiri oleh Putera Bung Tomo, Bambang Sulistomo; Heroe Budiarto, Peneliti Dewan Kebudayaan Surabaya; dan Nanang Purwono, penulis. Jalannya Talkshow akan dipandu oleh moderator yang sekaligus jurnalis yang kala itu mengetahui awal pembongkaran pada Mei 2016, Kuncarsono Prasetyo.
Buku ini mengangkat keberanian Bung Tomo, yang kala itu berprofesi sebagai jurnalis dan orator yang membakar semangat arek arek Surabaya.
“dengarkanlah ini tentara Inggris, ini jawaban kita, ini jawaban rakyat Surabaya, ini jawaban pemuda Indonesia kepada kau sekalian.
Hai tentara Inggris! kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu, kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu, kau menyuruh kita membawa senjata-senjata yang telah kita rampas dari tentara jepang untuk diserahkan kepadamu, tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada, tetapi inilah jawaban kita: selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah, yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga”, begitulah petikan pidato Bung Tomo.
Melalui penulisan dan peluncuran buku ini kami arek arek Surabaya juga berseru bahwa inilah jawaban kita kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, yang menanyakan dimanakah radio pemberontakan yang pernah digunakan Bung Tomo itu.

Untuk menjaga ingatan kolektif itu, tidak hanya buku yang menjadi produk intelektual, tapi juga radio ala zaman dulu, yang kalau dinyalakan akan otomatis berbunyi cuplikan pidato Bung Tomo. Radio ala jadul dengan suara pidato Bung Tomo ini menjadi pengingat bagaimana heroisme pidato Bung Tomo kala itu.

Pembuatan radio, yang diproduksi oleh siswa SMKN 12 Surabaya itu, sekaligus diluncurkan untuk menandai nilai keberanian dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Surabaya ke 733.
Yang istimewa dari peluncuran buku berikut radio, yang bermerk Radio Bung Tomo (RBT) ini, bertempat di Radio Republik Indonesia (RRI) Surabaya, yang secara historis keberadaannya tidak lepas dari kiprah perjuangan Bung Tomo. RRI Surabaya mendukung kegiatan dalam menjaga ingatan kolektif bangsa yang terjadi di Surabaya. (PAR/nng)
