Budaya, Sejarah
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Beranikah kita bersikap jujur? Beranikah kita berdasar pada sejarah? Beranikah kita berpijak pada kebenaran. Dalam sejarah, sumber primer adalah prasasti. Dalam ilmu sejarah, prasasti merupakan sumber primer, yang paling otentik
Bersikap jujur, berpijak pada kebenaran, dan bersandar pada bukti sejarah adalah prinsip, yang sangat fundamental. Dalam ranah historiografi, prasasti menempati posisi tertinggi sebagai sumber primer (sumber sezaman) karena ditulis pada masa peristiwa itu terjadi dan memuat catatan langsung dari pelaku atau saksi sejarah.
Prasasti memberikan fakta objektif, yang meminimalkan bias tafsir atau mitos yang sering kali melekat pada sumber sekunder seperti babad atau naskah yang ditulis berabad-abad kemudian.
Salah satu dari prasasti itu adalah Prasasti Canggu, yang dikeluarkan oleh Raja Hayam Wuruk dari kerajaan Majapahit, yang tertanggal 7 Juli 1358 Masehi.

Prasasti Canggu (1358 M) dari era Kerajaan Majapahit mengisahkan tentang penetapan desa-desa di tepian sungai (naditira pradeça) sebagai daerah bebas pajak atau sima. Sebagai imbalan, desa-desa tersebut diwajibkan mengelola dan menjaga kelancaran aktivitas perahu penyeberangan serta pelabuhan.
Prasasti ini mengatur tata tertib pelayaran dan dermaga sungai, yang dikelola oleh petugas khusus bernama Panji Margabhaya. Śūrabhaya adalah salah satu dari naditira pradeça.
Dengan menggali informasi langsung dari sumber primer seperti ini, kita dapat merekonstruksi masa lalu secara faktual, apa adanya, dan terhindar dari informasi yang tidak valid. Termasuk mengenali sejatinya Śūrabhaya yang berarti berani menghadapi bahaya. Pergeseran penulisan dari Śūrabhaya menjadi Surabaya menjadikan pengartian secara leksikal yang berbeda. Surabaya adalah Buaya Mabuk (meminum minuman yang memabukkan seperti arak dan minuman keras). (PAR/nng)
