Ahli Linguistik Ferdinand de Saussure: Bahasa dan Aksara bagaikan Jiwa dan Raga

Budaya, aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Menurut Ferdinand de Saussure, ahli linguistik modern, bahasa dan aksara adalah dua hal yang berbeda. Bahasa merupakan objek utama linguistik, yang hidup dalam pikiran dan ujaran manusia.

Sementara Aksara hanyalah sistem turunan yang diciptakan manusia untuk “mengawetkan” bahasa lisan. Namun keduanya saling terkait.

Saling terkait bukanlah hal yang sama. Keduanya ibarat jiwa dan raga dalam peradaban manusia. Jiwa dan Raga tidak sama. Jiwa dan raga adalah dua entitas yang berbeda. Raga adalah aspek fisik, material, dan biologis. Jiwa adalah inti spiritual, kesadaran, dan emosi.

Bahasa dan Aksara bagaikan Jiwa dan Raga.

Sekali lagi pemahaman dua entitas tersebut di atas (bahasa dan aksara) sebagaimana ditekankan oleh ahli linguistik modern Ferdinand de Saussure. Bahasa adalah sistem tanda yang bersifat auditori (citra bunyi), yang tidak dapat dilihat. Sementara itu, aksara (sistem tulisan) sebagai representasi visual yang menjadi lambang bunyi yang dapat dilihat.

Ferdinand de Saussure menambahkan bahwa Bahasa dan Tulisan (Aksara) memiliki hukumnya masing-masing. Dalam ilmu semiologi Saussure, tanda linguistik adalah gabungan antara konsep Petanda dan citra bunyi. Petanda adalah konsep, ide, atau makna mental, yang muncul di benak kita saat menerima penanda tersebut.

Penanda, bukan gabungan antara benda dan namanya atau antara huruf dan benda. Penanda (aksara) adalah bentuk fisik dari tanda, seperti bunyi yang diucapkan, kata tertulis, atau visual.

Untuk mendalami struktur tanda linguistik serta perbedaan antara bahasa lisan dan tulisan menurut bapak linguistik modern ini, Anda dapat membaca uraian konsepnya lebih lanjut di dokumen Pandangan Saussure tentang Bahasa atau ringkasan teori tanda linguistik di Hakikat Tanda Linguistik: Ferdinand de Saussure.

Teori semiotuka Ferdinand de Saussure. Foto: ist

 

Hakikat Tanda Linguistik: Saussure

Ferdinand de Saussure menjelaskan hakikat tanda linguistik dengan jelas dalam Cours de linguistique générale atau Kursus Linguistik Umum .

Cours de linguistique générale diterbitkan dalam bahasa Prancis pada tahun 1916 (hampir tiga tahun setelah kematiannya), dan merupakan kompilasi catatan yang diambil oleh murid-murid Saussure berdasarkan kuliah-kuliahnya. Buku ini disusun oleh Charles Bally dan Albert Séchehaye.

Buku ini sangat berpengaruh sehingga diterjemahkan ke dalam tujuh bahasa antara tahun 1928 dan 1983. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1959 oleh Wade Baskin sebagai Course in General Linguistics .

Bagian pertama buku Saussure ini menjelaskan hakikat tanda linguistik.

 

Apa itu Tanda Linguistik?

Tanda linguistik dapat berupa apa saja yang memberitahu kita sesuatu selain dirinya sendiri. Kursus Linguistik Umum karya Saussure terdiri dari lima bagian: 1) Prinsip Umum, 2) Linguistik Sinkronis, 3) Linguistik Diakronis, 4) Linguistik Geografis, dan 5) Pertanyaan Linguistik Retrospektif

Sebelum Saussure, bahasa dipandang hanya sebagai nomenklatur, yaitu hanya daftar istilah untuk memberi label pada berbagai hal dan gagasan. Bagi Saussure, hal ini menimbulkan tiga masalah:

1) Ketika bahasa hanya dipandang sebagai nomenklatur, kita berasumsi bahwa konsep atau gagasan yang dilabeli oleh kata tersebut ada secara independen dan tidak dipengaruhi oleh kata tersebut.

2) Hal ini juga tidak menjelaskan apakah istilah yang diberikan pada hal tersebut hanyalah rangkaian suara (entitas vokal), atau merupakan entitas psikologis yang dimiliki bersama oleh komunitas penutur untuk berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain.

3) Hal itu menyederhanakan hubungan antara sebuah nama dan konsep, benda, atau ide secara berlebihan.

Menurut Ferdinand de Saussure, “Tanda linguistik bukanlah penghubung antara suatu benda dan nama, melainkan antara suatu konsep dan pola bunyi.” Kita harus memahami bahwa pola bunyi sebenarnya bukanlah bunyi itu sendiri, melainkan kesan psikologis kita terhadap bunyi tersebut.

Misalnya, ketika kita membaca kata “Gajah”, kita dapat membaca kata tersebut dalam hati tanpa mengeluarkan suara apa pun, namun tetap memiliki kesan psikologis terhadap bunyi tersebut.

Pola bunyi dan konsep sangat terkait erat satu sama lain, sedemikian rupa sehingga masing-masing memicu yang lain. Saat Anda membaca kata “Gajah”, gambaran hewan sebenarnya terbentuk dalam pikiran Anda. Demikian pula, saat Anda melihat hewan sebenarnya, atau bahkan gambarnya, kata “Gajah” akan terlintas dalam pikiran Anda. Dengan demikian, sebuah tanda menggabungkan pola bunyi dan konsep.

Dengan demikian, Saussure membagi Tanda menjadi dua bagian. Ia mengganti istilah ‘konsep’ dengan signifikasi atau yang ditandai, dan menggunakan istilah sinyal atau penanda untuk ‘pola bunyi’

Diagram menurut Ferdinand. Foto: ist

Prinsip-prinsip Tanda Linguistik

Saat menjelaskan hakikat tanda linguistik, Saussure menyimpulkan bahwa tanda tersebut memiliki dua karakteristik atau prinsip penting:

• Tanda linguistik bersifat arbitrer.

• Penanda atau sinyal dari tanda tersebut bersifat linier.

Sekarang kita akan mencoba memahami kedua prinsip yang mengatur sifat tanda linguistik.

 

Prinsip 1: Tanda Linguistik bersifat arbitrer

Istilah ‘sembarangan’ berarti acak, atau tanpa alasan spesifik. Menurut Saussure, hubungan antara tanda dan ide/konsep/objek sepenuhnya acak, dan tidak memiliki hubungan internal. Prinsip ini adalah prinsip pengorganisasian utama untuk seluruh linguistik. Untuk menjelaskan hal ini lebih jelas, mari kita pertimbangkan objek “pohon”. Tidak ada hubungan intrinsik antara kata “pohon” (penanda) dan tanaman berkayu yang sebenarnya (yang ditandai).

Sifat arbitrer dari tanda linguistik semakin dipertegas oleh fakta bahwa satu ide/konsep/hal dapat dilambangkan dengan berbagai penanda dalam berbagai bahasa. Gambar di bawah ini mengilustrasikan pernyataan ini dengan jelas.

Ilustrasi menurut Ferdinand. Foto: ist

Seperti yang dapat kita lihat pada gambar, objek atau yang ditandai di tengah dilambangkan oleh penanda yang berbeda dalam bahasa yang berbeda. Hal ini semakin memperkuat klaim Saussure bahwa hubungan antara penanda dan yang ditandai bukanlah karena kualitas bawaan atau alasan khusus.

Selain itu, Saussure juga menyatakan bahwa bentuk ekspresi lain seperti pantomim juga didasarkan pada sifat arbitrer dari tanda linguistik. Misalnya, ungkapan bergandengan tangan sebagai tanda hormat di India adalah tanda yang berfungsi berdasarkan konvensi atau kebiasaan kolektif masyarakat, bukan nilai intrinsik dari penanda itu sendiri.

Ferdinand de Saussure selanjutnya mengomentari sifat arbitrer dari tanda linguistik. Ia menyatakan bahwa tanda linguistik tidak arbitrer dalam bahasa tersebut. Kita tidak dapat secara acak mengubah penanda sesuai keinginan kita dalam suatu komunitas linguistik. Jika demikian, masing-masing dari kita akan menciptakan penanda kita sendiri dan komunikasi akan runtuh. Saussure menekankan bahwa penanda atau sinyal bersifat arbitrer dan tidak termotivasi sehubungan dengan konsep/gagasan/hal yang ditandai.

Pengecualian terhadap sifat sewenang-wenang dari tanda linguistik.

Kata-kata onomatopoeik, yaitu kata-kata yang dibentuk oleh bunyi yang terkait dengan objek yang ditunjuknya, bukanlah kata-kata sembarangan. Misalnya, penanda seperti cegukan, percikan, ledakan bukanlah kata-kata sembarangan sehubungan dengan objek/konsep yang ditunjuk. Namun perlu diperhatikan bahwa kata-kata seperti itu jumlahnya sangat sedikit. Selain itu, beberapa kata yang tampaknya memiliki hubungan intrinsik dengan yang ditunjuk, hanya terjadi karena evolusi fonetik.

Kami juga menganggap seruan sebagai ekspresi alami dan spontan. Namun, kata-kata seperti itu pun bersifat marginal dan asal usul simboliknya patut dipertanyakan.

 

Prinsip 2: Penanda atau sinyal dari tanda tersebut bersifat linier

Untuk memahami prinsip kedua yang mengatur sifat tanda linguistik, pikirkan semua kata atau penanda tertulis termasuk persamaan matematika, notasi musik, dll. Anda akan memperhatikan bahwa penanda atau sinyal linguistik yang terkait dengan indra pendengaran kita selalu linier. Ini sangat kontras dengan tanda visual. Prinsip ini tampak sangat jelas, tetapi sama pentingnya dengan prinsip pertama.

Ada dua jenis sinyal atau penanda: sinyal pendengaran dan sinyal visual. Sinyal visual seperti bendera, lampu lalu lintas, rambu berhenti, ada secara multidimensional. Namun, penanda pendengaran hanya memiliki satu dimensi, yaitu linearitas waktu. Dalam Kursus Linguistik Umum, Saussure menyatakan bahwa tanda linguistik pendengaran memiliki karakteristik berikut:

a. Hal itu menempati ruang temporal tertentu, dan

b. Ruang ini diukur hanya dalam satu dimensi: yaitu sebuah garis”

Begitulah tinjauan linguistik oleh ahli linguist Ferdinand de Saussure tentang Bahasa dan Aksara. Keduanya adalah dua entitas yang berbeda. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *