Aksara Jawa Membedah Makna Sejati.

Budaya, aksara Jawa

Rajapatni.com: SURABAYA – Aksara Jawa bukan sekedar sistem simbol visual atau tanda grafis, yang digunakan manusia untuk berkomunikasi tulis dan merepresentasikan ujaran bahasa. Aksara adalah spiritual, yang mampu berbisik dan berpesan. Aksara memang bukan sekadar goresan tinta biasa atau deretan abjad mati. Lebih dari itu, ia adalah wadah energi, pengetahuan, dan vibrasi spiritual.

Secara spiritual, Aksara memang berpesan lewat sunyi dalam kegaduhan. Secara spiritual, keheningan atau “sunyi” memang ruang dimana batin dan suara hati, termasuk pesan dari aksara/tulisan, bisa didengar dengan jernih. Di tengah “kegaduhan” dunia, keheningan menjadi jangkar agar pesan-pesan kebijaksanaan tidak tenggelam.

Di lorong sunyi, aksara bicara.. Foto: ist

Suara Aksara memang lirih tapi teruntai hingga menusuk hati. Untaiannya tidak bersudut berapapun derajatnya, tapi meliuk indah dan luwes artistik, menentramkan kalbu. Dari untaian aksara, yang berwujud pesan itulah semakin kudalami pesan pesan yang hampir terlupakan. Aksara menuntun memahami dan mendalami jati diri Śūrabhaya.

Itu adalah jati diri kota yang dulu adalah naditira pradesa di tepian kali. Kali itu bernama Kali Surabaya karenanya Naditira Pradesa itu bernama Śūrabhaya.

Śūrabhaya memiliki arti yang dalam karena ia bersifat spiritual. Tidak hanya bisa dilihat oleh telanjang mata kepala tapi harus dilihat oleh mata hati.

Melalui Aksara (mengerti Aksara), bisa menuntun ke lorong dan menyingkap kabut putih memahami jati diri Śūrabhaya. Terhadap kata Śūrabhaya tidak segampang mengucapkan suara /Ś/, akibatnya menjadi tulisan SURABAYA.

Bangsa Eropa untuk menuliskan Śūrabhaya mencari padanan dalam huruf Eropa yang bisa dipakai dalam bahasa Perancis. Seperti huruf /Ç/ pada kata Garçon dan Façade. Maka jadilah Çūrabhaya. Tapi karena lidah lokal maka jadilah huruf /S/ sehingga tertulis SURABAYA.

Padahal suara /Ś/ dan /S/ dalam bahasa Sansekerta memiliki arti yang berbeda. Kata /Śūra/ dalam bahasa Sansekerta berarti orang yang berani. Sementara /Sura/ dalam bahasa Sansekerta berarti minuman keras yang memabukkan.

Pemahaman makna antara Śūra dan Sura ini bisa diketahui bila mengerti Aksara Jawa. Tidak semuanya karena bunyi /Ś/ dalam aksara Jawa ditulis /ꦯꦹ /. Umumnya Huruf SA ditulis /ꦱ/. Karenanya sekarang, mana yang lebih sesuai dengan filosofi Surabaya, antara “orang yang berani menghadapi bahaya” atau “buaya peminum minuman keras yang memabukkan”?

Jika saya tidak mengerti Aksara Jawa (meski belum ahlinya), mungkin saya tidak bisa menulis artikel ini. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *