Uang Memorabilia Surabaya: Alat Diplomasi Raffles.

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Dari sederetan uang Nusantara, yang pernah diproduksi mulai dari era kerajaan kerajaan di abad 9 hingga era Kolonial pada abad 20, ada satu mata uang yang dengan jelas tersebut (terenkripsi) pada keping mata uang itu (berbahan logam emas dan perak). Yaitu uang Ropij Jawa terbitan pemerintahan Inggris di Hindia Timur (1811-1816).

Mungkin ada lainnya namun tidak ada tanda khusus terkait dengan Surabaya, dimana mata uang diterbitkan. Mata uang itu adalah pecahan, yang keluar di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels. Masa pemerintahan Herman Willem Daendels di Hindia Belanda berlangsung singkat, yaitu antara tahun 1808 hingga 1811.

Pada masa itu Daendels membuat tempat pembuatan uang baru di tepi sungai Krembangan, yang satu area dengan tempat yang dikenal dengan Artillerie Constructie Winkel (ACW). Ini adalah perpindahan dari tempat yang jadi satu dengan bangunan gereja Calvinis di Willemsplein di Kota Lama (Benedenstad) Surabaya di dekat Balai Kota (Stadhuis).

Gereja-Gereja Reformasi Calvinis (GGRCI) memiliki jemaat dan karya misi di berbagai wilayah di Hindia Belanda, termasuk Pulau Jawa dan Surabaya, yang menganut teologi Reformed berdasarkan katekismus Heidelberg, Belgia, dan Dort. Gereja Calvinis yang pernah ada di Kota Lama berganti ke gereja Bubutan yang bernama GPIB Immanuel Surabaya. Pada masa kolonial Belanda, awalnya merupakan gereja Reformed (Calvinis) Belanda.

Di lokasi kota Lama (Benedenstad) di dalam gedung gereja Calvinis ini pernah dipakai produksi mata uang (GH Von Faber: Oud Soerabaia) sebelum era Gubernur Jenderal Daendels.

Pada tahun 1808, Daendels mengambil alih pabrik uang logam yang berdiri sejak 1805 dan memindahkannya ke kompleks ACW yang terletak di daerah Kalisosok.

Pabrik ini dilengkapi dengan mesin plat molen, yang digerakkan oleh aliran air dari Kali Krembangan (Kali Krembangan adalah kali yang telah ditutup/disosok, yang sekarang menjadi nama jalan Kalisosok).

Pabrik ini selain memproduksi alat alat berbasis logam besi, juga memproduksi uang logam, yang ketika Pemerintah Inggris masuk di bawah Raffles diteruskan untuk membuat Ropij Jawa.

Surabaya pada zaman itu memegang peran, yang sangat krusial sebagai pangkalan militer dan kota pertahanan utama di Jawa selama masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811). Daendels, yang ditugaskan oleh Prancis (melalui Belanda) untuk mempertahankan Jawa dari serangan Inggris, mengubah wajah Surabaya dari kota dagang menjadi pangkalan militer modern.

Ketika Belanda jatuh ke tangan Inggris, maka Inggris menerbitkan mata uang baru Ropij Jawa dengan memanfaatkan sarana yang sudah ada. Sebagai simbol legitimasi, uang menjadi alatnya.

Meski secara fisik Inggris menguasai Surabaya pada 1811-1816, namun melalui mata uang Ropij Jawa, mata uang logam emas dan perak itu diberi tahun emisi 1808. Tahun itu adalah mulainya Inggris ingin menguasai Jawa. Koin-koin “Ropij Jawa”, yang dicetak pada masa pendudukan Inggris (1811-1816), sering kali menggunakan tahun emisi 1808. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi moneter Inggris di Jawa.

Raffles melakukan perombakan besar-besaran terhadap sistem moneter yang kacau peninggalan era Daendels (Belanda). Ropij Jawa ini menjadi salah satu upaya Inggris untuk menstabilkan perekonomian Jawa melalui penerbitan mata uang yang lebih konsisten dibandingkan sebelumnya.

Fakta moneter ini menjadikan Ropij Jawa, yang beraksara Jawa dan Arab ini, menjadi istimewa. Apalagi pada koin itu bertuliskan nama Surapringga (nama lama Surabaya).

Koin Ropij Jawa beraksara Jawa dan Arab ini sekaligus benda ber inskripsi atau prasasti mulia. Ada nilai penting pada uang Ropij Jawa keluaran tahun 1808 ini. Yaitu: 1) penggunaan nama Surapringga, 2) menjadi alat diplomasi moneter dan politik, 3) merujuk pada eksistensi kota/daerah penting di Jawa.

Koin ini bertuliskan; Sisi belakang:

Koin keluaran di masa Inggris dengan tulisan Surapringga (Surabaya). Foto: ist

ꦏꦼꦩ꧀ꦥ꧀ꦤꦶꦲꦶꦁꦭꦶꦱ꧀

ꦪꦱꦲꦶꦁꦱꦸꦫꦥꦿꦶꦁꦒ꧉

꧇꧑꧗꧔꧐꧇”꧉

“Kempni Hinglis, jasa ing Surapringga. 1740”.

(Kompeni Inggris ketika di Surapringga, 1740)

Sisi lainnya beraksara Arab Pegon. Foto : ist (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *