Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Lembar pecahan mata uang Indonesia tidak hanya sekedar sebagai alat tukar yang bernilai ekonomi, tetapi sekaligus menjadi etalase yang mencerminkan identitas, kekayaan kebhinekaan, serta sejarah bangsa Indonesia. Ini juga berfungsi sebagai alat edukasi, penghormatan jasa pahlawan, dan kebanggaan nasional, yang dapat memperkuat identitas Rupiah sebagai simbol kedaulatan negara.
Karenanya disana terdapat gambar budaya, alam dan pahlawan nasional. Sebagai produk kebudayaan, uang kertas rupiah tidak hanya sekedar alat tukar, melainkan juga simbol yang mengandung nilai-nilai spiritual, estetika, dan fenomena kebudayaan yang ada di Indonesia.
Ketika dikomparasikan dengan pecahan mata uang asing seperti Jepang, China, Korea dan India, mereka menyertakan Aksara masing masing. Dengan penyertaan (penulisan) aksara itu, dapat diketahui pecahan uang itu dari negara mana. Misalnya aksara Hanzi adalah milik China, aksara Kanji milik Jepang, aksara Hangeul milik Korea dan aksara Nagari milik India.
Indonesia, selain tari tarian, juga memiliki aksara daerah yang tentu saja bisa digunakan sebagai identifikasi Rupiah. Aksara daerah (tradisional) Indonesia bermacam macam yang sesungguhnya menunjukkan kekayaan dan keberagaman daerah di satu negara Indonesia.
Keberagaman daerah ini bisa diselaraskan dengan gambar tarian pada pecahan uang yang ada. Misalnya ada gambar tari Legong asal Bali bisa menggunakan aksara Bali untuk menuliskan Tari Legong /ᬢᬭᬶᬩᬮᬶ/. Jika ada gambar tari Gambyong dari Jawa bisa ditulis dalam aksara Jawa /ꦠꦫꦶꦒꦩ꧀ꦧꦾꦺꦴꦁ/.
Setidaknya ada 7 jenis tarian yang termuat di dalam Uang Rupiah Kertas Tahun Emisi 2022. Sebagaimana dikutip dari laman Sindonews https://ekbis.sindonews.com/read/860149/178/7-jenis-tarian-tradisional-yang-ada-di-uang-kertas-baru-2022-ini-nama-dan-asal-daerahnya-1660835298?showpage=all tari tarian daerah itu sebagai berikut.
1. Tari Tifa (Pecahan Rp 1.000) . Tari Tifa merupakan tari tradisional asal Papua yang diiringi dengan alat musik tifa. Tifa adalah instrumen musik tradisi di tanah Papua yang terbuat dari kayu dengan membrane dari kulit binatang dan tergolong single-headed frame drum.
2. Tari Piring (Pecahan Rp 2.000) Tari Piring Asal Sumatera Barat merupakan warisan budaya tak benda yang menarik untuk diketahui. Tari piring atau dalam bahasa Minang disebut tari piriang yang merupakan tarian tradisional Minangkabau yang menampilkan atraksi menggunakan piring.
3. Tari Gambyong (Pecahan Rp 5.000) . Tari Gambyong berasal dari Surakarta, Jawa Tengah. Penarinya terdiri dari 2 orang perempuan remaja yang memakai kostum kemben hijau, bawahan batik, dan selendang yang melingkar di pinggang.
4. Tari Pakarena (Pecahan Rp 10.000) . Tari pakarena adalah jenis tarian tradisional yang menjadi tarian daerah provinsi Sulawesi Selatan. Tarian ini menjadi salah satu ikon kebudayaan provinsi yang beribukotakan di Makassar tersebut.
5. Tari Gong (Pecahan Rp 20.000) Tari Gong, yang disebut juga Tari Kancet Ledo, merupakan salah satu tari tradisional suku Dayak di Kalimantan Timur. Tari Gong dimainkan dengan menggunakan alat musik gong sebagai pengiringnya.
6. Tari Legong (Pecahan Rp 50.000) Tari Legong merupakan sebuah tarian klasik Bali dengan perbendaharaan gerak yang sangat komplek. Istilah Legong sendiri dikenal masyarakat Bali sebagai tarian persembahan yang bisa dibaca dalam lontar Catur Muni-Muni.
7. Tari Topeng Betawi (Pecahan Rp 100.000). Tari Topeng Betawi merupakan salah satu pertunjukan kesenian tradisional yang berasal dari masyarakat Betawi. Tarian ini biasanya dibawakan saat pementasan teater rakyat Topeng Betawi, bersamaan dengan musik, nyanyian, bobodoran (lawak), dan lakon (drama).
Nama tari tarian berdasarkan daerah asal bisa juga ditambahkan penulisan aksara daerah, bagi yang memiliki aksara daerah. Tidak semua daerah memiliki aksara daerah. Dari 700 bahasa daerah saja, yang memiliki aksara daerah hanya 12. Sebuah perbandingan yang jomplang antara bahasa daerah dan aksara daerah. 700 berbanding 12. Sangat rawan.
Dari hanya 12 aksara daerah yang tariannya termuat dalam pecahan rupiah tidak semuanya ada. Yang ada adalah Tari Legong Bali yang bisa ditulis ᬢᬭᬶᬩᬮᬶ dan Tari Gambyong Jawa yang bisa ditulis ꦠꦫꦶꦒꦩ꧀ꦧꦾꦺꦴꦁ. Mungkin Tari Topeng Betawi bisa ditulis Jawa ꦠꦫꦶꦠꦺꦴꦥꦺꦁꦧꦼꦠꦮꦶ.
Aksara Jawa pernah dipakai dalam pecahan uang di era Hindia Belanda baik pada pecahan uang kertas maupun koin logam.

Aksara Jawa memang pernah digunakan secara luas pada masa Hindia Belanda (sekitar 1800-an – 1900-an) karena aksara Jawa ditetapkan sebagai aksara resmi pemerintahan kolonial.

Aksara ini berkembang pesat di koran, iklan, surat kabar, bahkan mata uang Gulden, karena mesin cetak Jawa mulai ditemukan. Pemerintah Belanda memanfaatkannya untuk komunikasi administrasi, surat-menyurat, dan pengumuman resmi agar mudah dimengerti masyarakat Jawa kala itu. Sekarang justru banyak masyarakat Jawa tidak mengerti Aksara Jawa. Ironis. (PAR/nng)
