Budaya Sejarah
Rajapatni.com: SURABAYA – Bulan Mei is coming! Saatnya momen perayaan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS). Orang Jawa bilang:
“Aja keblinger sing ndadekake lali sejatine Surabaya”
Ukara Iki nduweni teges pitutur luhur supaya menungsa, utamane sing manggon utawa nggadahi gegayutan karo kutha Surabaya, aja nganti kesasar utawa lali jati dhirine Surabaya.
(Kalimat ini memiliki makna berupa nasihat mulia agar masyarakat, khususnya mereka yang tinggal atau memiliki hubungan dengan kota Surabaya, tidak kehilangan atau melupakan identitas Surabaya.)

Setiap tahun dalam perayaan Hari Jadi Kota Surabaya, pesan mulia yang dikumandangkan adalah kota yang “berani menghadapi bahaya” seperti yang telah dicontohkan oleh para pendahulu di perang 10 November 1945, perang Raden Wijaya 1393 M termasuk perang Trunojoyo 1677 M.
Peristiwa itu nyata adanya di wilayah Surabaya dan oleh rakyat Surabaya. Tapi, nama kota “Surabaya”, yang mestinya membawa pesan kepahlawanan itu, rancu dan ambigu. Apalagi sering terdengar guyonan tentang kata Suroboyo, dikatakan bahwa “Suro WANI, Boyo HUTANG”. Surabaya dibuat anekdot. “Berani Hutang”.
Kali ini diketahui bahwa secara harfiah dan leksikal, berdasarkan kamus, makna Surabaya (S-U-R-A-B-A-Y-A) mengandung makna kurang baik. Yaitu Buaya Mabuk.
Berdasarkan tinjauan bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno, Surā (सुरा) bermakna minuman keras (Wisdomlib.org) dan Baya (बय) dalam sastra Jawa Kuno adalah Wuhaya/Buhaya atau Buaya.
Sebetulnya Kata Surabaya sendiri diduga berasal kuat dari kata Śūrabhaya (ꦯꦹꦫꦨꦪ) sebagaimana terdapat pada Prasasti Canggu (1358 M).

Śūra (शूर) = brave (berani), Bhaya (भय) = danger (bahaya).
Sementara kota Surabaya sekarang ini tertulis S-U-R-A-B-A-Y-A, dimana
Surā (सुरा) = liquor (minuman keras) dan Baya (बय) = Wuhaya/Buhaya (buaya).
Menyadari yang ternyata Surabaya ditulis S-U-R-A-B-A-Y-A, yang bermakna kurang bagus, maka dalam rangka peringatan Hari Jadi Kota Surabaya ke 733 tahun 2026 bulan depan ini, alangkah baik dan bijaksananya bila ada penggunaan kembali sesanti Surabaya yang berbunyi dan tertulis Śūra ing Bhaya.
Śūrabhaya ⇒ Surabaya ?
Mengapa kok bisa berubah penulisannya dari Śūrabhaya ke Surabaya? Proses ini diduga terjadi di era pemerintahan Hindia Belanda.
Sesungguhnya suara Śū /Syu/ telah diwakili dengan huruf Ç (C dengan cedilla) yang ditulis /Çu/ karena huruf Ç memang dari Eropa seperti pada kata Garçon /gar-son/, Français /frang-say/ dan Façade /fa-sad/.
Tapi untuk memudahkan penulisan di era itu (kolonial), maka Śū disederhanakan menjadi Su (d/h: Soe). Sehingga di era kolonial Śūrabhaya ditulis Soerabaia, yang dalam ejaan EYD menjadi Surabaya.

Latar belakang itulah yang menyebabkan tulisan kota Pahlawan ini menjadi Surabaya. Padahal kata Surabaya memiliki makna tersendiri, yang tidak lagi bermakna “berani menghadapi bahaya”, tetapi bermakna “Minuman Keras” yang memabukkan dan Buaya, yang kalau disatukan menjadi “Buaya Mabuk”.
Karena makna yang kurang baik ini diketahui dan yang secara leksikal tidak lagi berarti “berani menghadapi bahaya”, maka perlu ada upaya pelurusan.
Caranya adalah dengan usulan penggunaan sesanti Śūra ing Bhaya (berani menghadapi bahaya) pada emblem resmi kota untuk menjaga makna Surabaya sebagai nama kota yang baik sesuai sejarah: a) Perang Raden Wijaya, b) Perang Trunojoyo, c) Perang Jayapuspita dan d) Perang Kemerdekaan. (PAR/nng)
