Menyimak Isi Berita Prasasti Canggu (1358 M) Vs Prasasti Kamalagyan (1037 M) Di Mata Filolog Unair Abimardha Kurniawan Dalam Ensiklopedia Surabaya 

Budaya, sejarah

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Ensiklopedia Tradisional (Cetak/Daring Tertutup), seperti Encyclopædia Britannica dan Ensiklopedia Surabaya, Informasi di dalamnya memiliki keabsahan yang sangat tinggi, sangat akurat, dan dapat diandalkan karena ditulis oleh para ahli di bidangnya dan melalui proses penyuntingan (redaksi) serta pemeriksaan fakta (verifikasi) yang ketat.

Buku Ensiklopedia Surabaya yang diterbitkan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Foto: dok nng

Dalam sebuah ensiklopedi Surabaya Filolog Universitas Airlangga Dr. Abimardha Kurniawan, menjelaskan asal-usul serta makna kata “surabaya” yang dikaitkan dengan dua sumber primer: Prasasti Canggu dan Prasasti Kamalagyan.

Peluncuran buku Ensiklopedia Surabaya. Foto: ist

Abimardha mengatakan bahwa tulisannya di buku Ensiklopedia Surabaya itu bertujuan untuk membahas makna kata “Surabaya” dari sisi etimologi. Etimologi merupakan cabang ilmu bahasa, yang mempelajari sejarah suatu kata (Durkin 2009, 1).

Menurutnya pembahasan dalam buku ensiklopedia itu dimulai dari sumber-sumber awal, yang menyebut toponimi Surabaya seperti Prasasti Canggu dan Kakawin Deśawarṇana.

Abimardha sempat menyinggung nama Hujung Galuh, yang dianggap sebagian sejarawan berada di sekitar Surabaya.

 

Kontroversi Letak Hujung Galuh

Wacana letak Hujung Galuh memang muncul dari penafsiran atas frasa Hujung Galuh pada Prasasti Kamalagyan (1037 M), yang dikeluarkan oleh Raja Airlangga tahun 959 Śaka (sekitar 1037 Masehi).

Prasasti Kamalagyan di Krian. Foto: ist

Sebagian ahli seperti N.J. Krom (1926), B.J.O. Schrieke (1957), dan Soenarto Timoer (2010), berpendapat bahwa Hujung Galuh terletak di sekitar Surabaya sekarang.

Sebaliknya, sebagian ahli lainnya seperti W. Fruin Mees (1922), J.G. de Casparis (1958), dan R. Pitono Hardjowardojo (1961), berpendapat bahwa Hujung Galuh letaknya lebih ke pedalaman.

Berdasarkan teks prasasti Kamalagyan sendiri Hujung Galuh dinyatakan terkait dengan pembangunan bendungan Waringin Sapta, yang selanjutnya berdampak pada aliran sungai (bangawan) dipecah menjadi tiga dan mengalir ke utara.

Hal itu (pembangunan bendungan di Waringin Sapta Krian) membuat para pengguna perahu merasa senang ketika bersama-sama berperahu menuju ke hulu (maparahu ring samanghulu) untuk mengambil barang dagangan di Hujung Galuh (Brandes 1913, prasasti LXI).

Dengan demikian, Hujung Galuh tidak terletak di bagian muara sungai, namun lebih ke arah pedalaman (hulu sungai) di Hujung Galuh. Maka Hujung Galuh tidak bersangkut-paut dengan Surabaya. 

 

Toponimi Surabaya

Toponimi Surabaya sebenarnya tidak berakar dari bahasa lokal, melainkan serapan dari kosakata bahasa Sansekerta. Sumber paling awal yang menyebutkan toponimi Surabaya adalah prasasti Canggu atau lazim disebut sebagai prasasti Trowulan I. Prasasti yang bertarikh 1280 Śaka (sekitar tahun 1358 Masehi) ini dikeluarkan oleh raja Majapahit bergelar Śrī Rājasanagara atau yang masyhur dikenal dengan nama Hayam Wuruk.

Saat itu Hayam Wuruk bertahta sebagai wakil (makamanggalya) dari ibunya Śrī Tribhuwanottunggadewi.

Prasasti Canggu dalam genggaman. Foto: doknng

Prasasti Canggu sendiri diterbitkan sebagai regulasi negara atas transportasi penyeberangan sungai (tambang) di seluruh wilayah Jawa (sayawadwīpamaṇḍala).

Toponimi śūrabhaya tertulis pada prasasti ini sebagai satu di antara sekian daerah tepian sungai (nadītīra pradeśa), yang ada di Jawa (Prasasti Canggu, lempeng 5r, baris 4).

Potongan prasasti Canggu..Foto: dognng

[…] (3) i sarba, i waringin pitu, i lagada, i pamotan, i tulangan, i panumbangan, i jruk, i trung, i kambang śri, i tḍa, i gsang, (4) i bukul, i śūrabhaya, muwah prakāraning nadītīra pradeśa sthānaning anāmbangi, […] (Prasasti Canggu, fol. 5r, baris 4). 

 

Terjemahan:

[…] di Sarba, di Waringin Pitu, di Lagada, di Pamotan, di Tulangan, di Panumbangan, di Jruk, di Trung, di Kambang Śri, di Tḍa, di Gsang, di Bukul, di Śūrabhaya serta permasalahan daerah-daerah tepian sungai tempat penyeberangan […]

Nama Śūrabhaya disebut setelah Gĕsang dan Bukul yang sekarang masing-masing dikenal sebagai Pagesangan dan Bungkul.

Dari keterangan/penjelasan Abimardha di Ensiklopedia Surabaya, yang diterbitkan oleh Pemerintah Kota Surabaya, ini jelas apa arti Surabaya dan apa pula keterkaitan dengan Hujung Galuh yang kontras dari isi teks Prasasti Kamalagyan. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *