Kucek Kucek Mripate

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Ungkapan “Cintanya bagai bulan dan matahari, yang tidak pernah bertemu tapi saling menyinari” adalah nyata dan fakta, yang terjadi di muka bumi bagai siang dan malam yang selalu melengkapi kehidupan.

Kisah romantis ini adalah ekspresi lirik lagu yang berangkat dan berdasar dari lagu populer India “Kutch Kutch Hota hai”, yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa “Kucek Kucek Mripate”. Ia menangis karena cinta yang tak terbalas tapi ia ikhlas melakukannya. Ia melakukan apapun yang menjadi permintaannya (pujaan hatinya) dan bahkan ia sudah melakukan sebelum dipintanya.

Sebenarnya lagu dan film Kuch Kuch Hota Hai (1998) bercerita tentang cinta segitiga yang rumit, persahabatan, dan kesempatan kedua. Lagu ini menggambarkan perasaan “sesuatu terjadi” (jatuh cinta), yang awalnya tak disadari oleh Rahul, yang bersahabat dengan Anjali namun jatuh cinta pada Tina.

Sementara dalam versi bahasa Jawa, yang sedang digagas oleh Java-India Ties, sebuah kumpulan kecil yang mencoba memperkenalkan dan memajukan ikatan India-Nusantara, yang telah berlangsung lama.

Hanya saling pandang tak pernah berpegangan. Foto: ist

Kisah dibawah judul “Kucek Kucek Mripate” ini menceritakan tentang cinta seseorang yang tulus dan suci kepada pujaan hatinya, namun bertepuk sebelah tangan. Meski demikian Ia tetap melakukan dengan setulus hati apa yang menjadi keinginannya dan bahkan melakukan sebelum dipintanya. Mereka saling memberi dan “menyinari” bagai matahari dan rembulan, yang saling berjarak namun saling menyinari (memberi kekuatan).

Metafora Matahari dan Rembulan, yang tak pernah bertemu namun saling menyinari itu, melambangkan cinta yang tulus, meski keduanya dipisahkan oleh perbedaan waktu atau keadaan. Fenomena gerhana sering dianggap sebagai momen langka dalam penyatuan keduanya, dan sekaligus membuktikan bahwa perbedaan tidak menghalangi ikatan.

 

Kolaborasi Budaya

Ilustrasi romantika itu tergambar pada lirik lagu “Kutch Kutch Hota Hai”, yang dibahasakan Jawakan menjadi “Kucek Kucek Mripate”.

“Kucek Kucek Mripate” ini simbol sebuah tangis, tetapi bukan tangis kesedihan atas cinta yang ditolak, namun tangis kebahagiaan karena Ia mampu memberikan ketulusan dalam cintanya untuk pujaan hatinya. Ia menyadari dirinya bagai Matahari dan Rembulan, yang secara fisik tidak akan bisa bertemu tetapi kekuatan sinarnya bisa saling memberi dan bahkan menghidupi dunia.

Sebagai sebuah Kolaborasi dan Eksplorasi dua budaya (alam) yang berbeda, lagu ini dirancang untuk dilantunkan oleh warga India yang berhati Jawa, dengan pakaian tradisional India bersama seorang wanita Jawa dengan busana Kebaya, yang bersetting di alam dan budaya Jawa (percandian, pedesaan, dan lingkungan Jawa).

Hanya saling pandang dan berbagi cahaya. Foto: ist

Lagu ini melambangkan perbedaan keadaan secara alami, yang pada akhirnya membuat mereka tidak bisa hidup bersama secara fisik, layaknya siang dan malam yang saling mengejar namun tak pernah bersatu.

Cinta ini bertahan bukan karena kedekatan fisik, melainkan karena kesetiaan dalam kerinduan dan komitmen untuk tetap saling menyayangi dan menghidupi meski dipisahkan “jarak” atau “dinding kaca”. Kisah ini bagai petikan lirik lagu Boneka Dari India.

Boneka cantik dari India. Boleh dilirik, tak boleh dibawa”

Dalam beberapa legenda, pertemuan bulan dan matahari terjadi saat terjadi gerhana, sebuah momen langka dan indah. Ini melambangkan bahwa sesekali mereka bisa bertemu (atau menyapa) dalam mimpi, meski tidak untuk waktu yang lama.

Dalam mitologi wayang Jawa dan Bali, gerhana (matahari/bulan) terjadi karena Batara Kala atau Kala Rahu menelan matahari (Batara Surya) atau bulan (Dewi Ratih/Soma) sebagai balas dendam. Raksasa ini berusaha menelan cahaya langit karena dendam dipenggal oleh Wisnu saat mencuri air suci keabadian, Tirta Amerta.

Secara keseluruhan, kisah ini adalah simbol cinta yang dewasa, ikhlas, dan lebih mengutamakan kebahagiaan pasangan daripada keinginan egois untuk memiliki.

 

Diplomasi Budaya

Lagu dan visual dalam lagu ini adalah potret kolaborasi dua budaya (India-Jawa) yang menjadi simbol interaksi dua budaya, yang sudah lama ada di Nusantara dan sekarang lagu ini menjadi salah satu bentuk pemajuan akulturasi dua budaya tersebut.

Lagu ini menjadi simbol kerjasama India dan Indonesia dalam memajukan dua budaya, diantaranya adalah di bidang budaya Aksara Jawa, yang merupakan turunan dari Pallawa, yang berasal dari India Selatan yang masuk Nusantara melalui jalur perdagangan dan Agama. (PAR/nng)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *