Menapak Lampah Aksara Jawa 

Aksara Jawa

Rajapatni.com: SURABAYA – Tidak ada henti belajar. Alias belajar sepanjang hayat (lifelong learning) adalah kunci pengembangan diri, adaptasi zaman, dan kesehatan mental, mengingat ilmu tidak pernah habis. Pun demikian dengan belajar aksara Jawa. Meski wujudnya tradisional tapi implementasinya bisa universal.

Aksara Jawa (Hanacaraka) memiliki fleksibilitas tinggi yang memungkinkan implementasinya menjadi universal, melampaui batas tradisional dan masuk ke era digital.

Penataan instalasi listrik yang serasi. Foto: IS

Faktanya adalah demikian dimana di era sekarang, Aksara Jawa sudah masuk ranah digital yang mengglobal. Namun demikian melihat kembali jejaknya adalah langkah bijak.

Aksara Jawa saat ini memang sedang mengalami revitalisasi pesat di era digital, namun memahami jejak sejarahnya adalah fondasi penting agar pelestariannya tidak sekadar menjadi artefak visual, melainkan tetap fungsional sebagai identitas budaya.

Yogyakarta adalah bumi dimana sejarah aksara Jawa masih membekas. Secara visual disana banyak aksara Jawa tertulis pada artefak artefak yang menjadi bukti sejarah. Secara sosial budaya aksara Jawa juga masih digunakan dalam kehidupan sehari hari meski dalam skala terbatas, misalnya dalam lingkungan Keraton.

Sungguh sebuah tantangan ketika aksara Latin telah mendominasi sehingga aksara Jawa bagai diperkenalkan lagi. Diakui bahwa dominasi aksara Latin dalam administrasi, pendidikan, dan teknologi digital membuat aksara Jawa (Hanacaraka) tidak lagi menjadi alat komunikasi utama sebagaimana dulu, melainkan lebih sebagai objek pelestarian budaya atau simbol identitas.

Melihat jejak aksara Jawa di Yogyakarta membuka kembali mata kepala dan mata hati bahwa aksara Jawa adalah identitas bangsa.

Aksara Jawa di Yogyakarta bukan sekadar melihat tulisan kuno, melainkan meneguhkan kembali bahwa aksara Jawa adalah salah satu identitas budaya bangsa yang luhur dan hidup.

Meriam di depan Museum di jalan Pangurakan Yogyakarta. Foto: par.

Disana ada artefak kuno, yang beraksara Jawa. Pun demikian dalam pemajuannya, ada tulisan aksara Jawa pada benda benda baru seperti pada nama jalan dan signage perkantoran. Misalnya di depan Museum Sonobudoyo di jalan Pangurakan, terdapat sepasang meriam kuno yang bertuliskan Aksara Jawa. Juga di gedung Griya Abhipraya Purbonegoro di jalan yang sama, terdapat penulisan aksara Jawa. Puri Aksara Rajapatni mendatangi tempat tempat itu sebagai pendalaman ilmu budaya aksara Jawa.

Meriam kuno beraksara Jawa. Foto: IS

Puri Aksara Rajapatni adalah sebuah organisasi budaya, yang fokus pada pelestarian, pendalaman, dan upaya pemajuan aksara Jawa. Komunitas ini aktif mendatangi berbagai tempat di Surabaya dan sekitarnya untuk mempelajari aksara Jawa, baik yang ditemukan pada benda-benda kuno (artefak) maupun penerapan aksara Jawa pada benda-benda baru seperti signage perkantoran, nama jalan, dan ruang publik.

Selain di Surabaya, Puri Aksara Rajapatni juga bertandang ke luar kota. Contohnya ke Yogyakarta yang memang dikenal sebagai jantung budaya Jawa. Jika pengunjung ke Yogyakarta pada umumnya mendatangi ikon ikon wisata Yogyakarta, berbeda dengan Ita Surojoyo yang mewakili Puri Aksara Rajapatni. Ia menapak lampah aksara Jawa.

Menapak lampah aksara Jawa bermaksud mempelajari kembali sejarah, makna filosofis, serta teknik penulisan Hanacaraka sebagai warisan budaya adiluhung masyarakat Jawa. (PAR/nng)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *