Budaya, Karakter
Rajapatni.com: SURABAYA – Walikota Surabaya Eri Cahyadi dalam pengarahannya kepada pengurus Dewan Keamanan Surabaya periode 2026-2029 (15/5/26) berpesan agar bisa menggali dan merawat karakter arek Surabaya: Berani dan Gotong Royong.

Nah, ini menjadi pintu gerbang yang sekaligus dalam menggali sumber sejarah dari karakter Berani. Selama ini nilai berani terhitung abstrak (intangible). Perwujudannya sudah banyak yang tercermin pada peristiwa Kepahlawanan dalam wujud perjuangan.
Peristiwa Kepahlawanan, yang diwujudkan dalam aksi kejuangan itu terbukti pada perang Raden Wijaya dan rakyat Surabaya ketika menghadapi serdadu Tartar pada 1293. Kemudian pada peristiwa perang Raden Trunajaya dan rakyat Surabaya ketika menghadapi VOC pada 1677. Perang besar lainnya adalah Jayapuspita ketika melawan Mataram pada 1711-1719.
Semangat berani dan kebersamaan (gotong royong) itu tercermin pada perang mempertahankan kemerdekaan pada 10 November 1945. Harapannya nilai berani dan gotong royong itu diwariskan pada “perang” demi pembangunan Surabaya ke depan.
Dari manakah adanya semangat berani yang menjadi ekspresi dalam perang dan juang masyarakat Surabaya di berbagai zaman itu.

Ada satu sumber otentik dari abad 14. Yaitu prasasti Canggu yang bercerita tentang desa desa di tepian sungai yang menyediakan jasa Tambangan (penyeberangan) sungai. Salah satu Naditira Pradesa itu bernama Śūrabhaya (Çūrabhaya), yang namanya tertulis pada Prasasti Canggu (1358 M).
Sebagai masyarakat yang tinggal di tepian sungai, umumnya mereka dikenal sebagai orang pemberani (pendekar). Orang di tepian Bengawan umumnya memang dianggap pendekar karena sungai ini menuntut fisik yang kuat dan menjadi jalur pertahanan strategis.
Sejak zaman kerajaan, masyarakat yang tinggal di tepian sungai (naditira pradesa) harus menaklukkan arus deras, mengelola perahu, dan menjaga wilayah dari perompak, sehingga keahlian bela diri dan kanuragan menjadi bekal mutlak untuk bertahan hidup.
Masyarakat kabupaten Madiun, yang tinggal di tepian Bengawan, dikenal sebagai pendekar.
Berangkat dari nilai historis itu semua, maka Dewan Kebudayaan Surabaya memiliki sumber sejarah yang menjadi acuan dalam mengenal sumber sifat berani. Sumbernya sangat historis, otentik, faktual, dan kultural. Bendanya ada di Museum Nasional Indonesia di Jakarta.

Jika Walikota Surabaya menghimbau Dewan Kebudayaan Surabaya untuk mencari akar sifat berani dan menjadikan sebagai modal pembangunan, barangnya masih ada. Dari sumber historis itu tinggal majukan lewat aksi aksi kebudayaan yang bisa bernilai kesejahteraan (ekonomi). Sasaran implementasi nya adalah kalangan anak muda.
