Ruang Dinamis Jadi Perhatian Sketcher Surabaya, Budi Irawan, Untuk Buku Sketsa Kota Lama Surabaya

Seni, Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Geliat seni sketsa di Surabaya tumbuh dinamis seiring dengan ketersediaan ikon ikon dan spot spot menarik di kota. Hadirnya kawasan wisata Kota Lama Surabaya yang secara resmi dibuka pada 2024 seolah menjadi wadah dan ruang bagi para sketcher Surabaya. Wadah komunitas juga menopang geliat bertumbuhnya seni sketsa dalam mengapresiasi nilai nilai sejarah dan budaya.

Sketsa menjadi bentuk pendokumentasian nilai sejarah dan budaya yang secara estetik bisa dinikmati karena seni ini menggabungkan akurasi pengamatan objek dengan ekspresi artistik personal. Sebagai media dokumentasi, sketsa mampu menangkap detail arsitektur, tradisi, dan suasana kehidupan sehari-hari, yang mungkin terlewatkan oleh foto, sekaligus menyajikannya dalam bentuk visual yang bernilai seni tinggi.

Spot spot menarik di kawasan Kota Lama Surabaya terlalu sayang terlewatkan oleh berjalannya waktu. Spot spot menarik itu membuka inspirasi dalam karya karya seni. Diantaranya adalah seni sketsa.

Spot-spot menarik itu, baik yang bertema alam, arsitektur historis, maupun suasana urban, merupakan sumber inspirasi yang tak terbatas bagi para seniman, khususnya dalam seni sketsa. Sketsa adalah cara cepat untuk menangkap sensasi, emosi, dan momen estetik dari sebuah lokasi. Misalnya kawasan Kota Lama Surabaya.

 

Lapisan Sejarah

Kota Lama Surabaya menyimpan banyak lapisan sejarah. Kawasan ini adalah kawasan “museum hidup” yang dinamis, yang selalu bergerak dan berubah dari zaman ke zaman. Kawasan ini menampilkan arsitektur kolonial Belanda dari abad ke-18 hingga 20, Pecinan (Kembang Jepun), Kampung Arab, dan zona Melayu (Jalan Panggung). Ikon seperti Jembatan Merah, De Javasche Bank, dan Gedung Internatio, serta kawasan kota lama Surabaya menjadi pusat edukasi sejarah dalam kemasan wisata heritage yang ikonik di Surabaya.

Belum lagi benda benda intangible yang kadang luput dari perhatian mata karena sifat dasarnya yang tidak memiliki fisik, sehingga tidak bisa dilihat atau disentuh secara langsung.

Kebanyakan manusia cenderung lebih cepat menyadari benda-benda yang nyata (tangible) yang langsung bisa dilihat dan kemudian ditransformasikan dalam gambar. Seperti gedung, alam dan benda benda lainnya.

 

Way of Life

Padahal cara hidup (way of life) dalam keseharian dapat diamati. Seperti cara orang mencari rejeki dan penghidupan seperti jualan rujak dan lainnya adalah Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage/ICH).

Istilah “tak benda” (intangible) bukan berarti tidak terlihat oleh mata, melainkan tidak berbentuk benda fisik permanen, yang bisa disimpan di museum (seperti keris dan artefak lainnya).

Namun berfokus pada pengetahuan dan keterampilan. Yang disebut “warisan” bukanlah rujaknya, melainkan keterampilan, keahlian, dan pengetahuan tradisional yang diturunkan, seperti cara memilih buah, meracik sambal khas, memotong dengan teknik tertentu, hingga interaksi sosial antara penjual dan pembeli. Penjual rujak ada dalam ruang Kota Lama Surabaya.

Budi Irawan dengan karya sketsanya. Foto: nng

Maka object penjual rujak dapat menjadi fokus sketsa, yang memaknai ruang ruang di antara bangunan kolonial di kota lama Surabaya. Ini adalah bentuk pendekatan artistik dan sosiologis yang sangat kuat. Object object semacam inilah yang menjadi perhatian Budi Irawan dalam Sketsa Kota Lama Surabaya. (PAR/nng).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *