Bappeda Litbang Kota Surabaya Dukung Penulisan Buku Sketsa Kota Lama Surabaya

Budaya, Literasi

Rajapatni.com: SURABAYA – Sejarah secara kolektif milik bersama dan sekaligus menjadi tanggung jawab bersama. Ini berarti bahwa hal tersebut memiliki makna mendalam bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu yang kaku, melainkan warisan aktif yang hidup dan membentuk identitas suatu komunitas atau bangsa. Kota Lama Surabaya adalah identitas Surabaya.

Kota Lama Surabaya, terutama di area Jalan Rajawali dan sekitarnya, adalah identitas sejarah Surabaya sebagai kota pelabuhan, perdagangan, pusat administrasi dan pusat pertempuran 10 November 1945.

Langkah pemerintah Kota Surabaya menjadikan kawasan ini sebagai kawasan wisata sejarah sangatlah tepat. Pemerintah pun telah berhasil membingkai menjadi sebuah panorama indah yang tidak hanya indah dipandang mata, tetapi layak dijajaki kaki sambil menyelami kedalaman sejarah dan budaya di sana.

 

Tapak Masa Depan

Kota Lama Surabaya bukan hanya masa lalu. Tetapi menjadi tapak masa depan. Kota Lama Surabaya ini telah bertransformasi dari pusat kolonial bersejarah menjadi destinasi wisata heritage terluas yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.

Kawasan ini dikembangkan dengan konsep future city berkarbon rendah, yang memadukan bangunan ikonik era kolonial Belanda dengan mobilitas modern serta pengembangan ekonomi kreatif.

Wisata sejarah ini difokuskan sebagai kota masa depan, yang berkelanjutan dengan mobilitas rendah karbon.

Zona Eropa (Belanda) adalah salah satu dari 4 zona yang ada. Yaitu Zona Pecinan, zona Melayu dan Zona Arab serta zona Eropa sendiri, yang tentu saja menawarkan pengalaman edukasi sejarah dan suasana tempo dulu yang estetik.

Di sela sela estetika itu telah lahir geliat ekonomi baru. Revitalisasi ini menghidupkan kembali kawasan bersejarah, menjadikannya pusat aktivitas ekonomi masyarakat, UMKM, dan konten kreator. Tak heran kehadirannya juga membuka ruang publik edukatif yang sangat strategis dalam upaya memetik nilai nilai warisan budaya.

Khususnya dalam hal peringatan International Heritage Day, yang jatuh pada 18 April 2026, ada kegiatan kreatif penulisan buku yang menjadi lembar belajar sejarah dan budaya.

Penulisan Aksara Jawa di lobby kantor Bappeda Litbang Kota Surabaya. Foto: par

Pembangunan kota Surabaya bukan hanya bersifat fisik, tetapi juga non fisik melalui upaya pembangunan kesadaran akan arti penting warisan budaya. Pembangunan Kota Surabaya saat ini memang menitikberatkan pada keseimbangan antara pembangunan fisik (infrastruktur) dan non-fisik (budaya/sosial), terutama dalam upaya menanamkan kesadaran akan pentingnya warisan budaya (heritage).

Pendekatan ini bertujuan agar Surabaya tidak hanya modern secara fisik, tetapi juga memiliki jiwa dan identitas yang kuat. Atas dasar ini maka Bappeda Litbang Kota Surabaya (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan) ikut urun rembuk dalam penerbitan buku Sketsa Kota Lama Surabaya.

Pertemuan tim penulis dengan Bappeda Litbang Kota Surabaya. Foto: nng

Pada Jumat pagi (6/3/26), tim penulis yang terdiri dari Nanang Purwono dan Budi Irawan bertemu dengan pihak Bappeda Litbang Kota Surabaya untuk lebih menjelaskan tentang isi buku dan maksud-tujuan penulisan buku yang berjudul “Sketsa Kota Lama Surabaya”

Buku ini adalah buku sketsa, yang berisi tidak kurang dari 50 sketsa dari berbagai sudut Kota Lama Surabaya di zona Eropa. Buku ini sesuai spek nya akan dicetak diatas kertas art paper dengan berat 120 grams, dengan full color dan hard cover. Kertas berukuran F4 dan ditulis dalam aksara Jawa dengan terjemahan bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan Belanda. (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *