Sejarawan Gresik, Eko Jarwanto, Ungkap Daftar Para Penguasa Śūrapringga (Surabaya).

Budaya, sejarah

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Siapapun bisa menulis sejarah tentang sejarah suatu bangsa, termasuk suatu daerah. Seorang kawan asal Nganjuk, yang tinggal di Bungah, Gresik, menulis sejarah Surabaya.

Buku ini diberi judul “Penguasa-Penguasa Nagari Surapringga: Sejarah Para Adipati/Bupati Surabaya*. Śūrapringga adalah nama lain Surabaya, yang secara historis dan faktual tercatat pada sebuah prasasti Masjid Kemayoran (1848 M). Prasasinya masih ada di sana. Tapi tahukah dan mengertikan segenap warga Surabaya ini termasuk para pemangkunya?

Mestinya buku ini harus menjadikan periksa para pemangku kota dan mereka seharusnya malu atas ungkapan sejarawan Eko Jarwanto, salah satu dari anggota Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Jawa Timur melalui buku terbarunya “Penguasa-Penguasa Nagari Surapringga: Sejarah Para Adipati/Bupati Surabaya” yang segera terbit di bulan Oktober ini.

“Saya mau menerbitkan buku tentang sejarah surabaya, Insyaallah bulan ini (oktober) akan terbit, judulnya *Penguasa-Penguasa Nagari Surapringga: Sejarah Para Adipati/Bupati Surabaya*”, kata Eko Jarwanto singkat melalui pesan WhatsApp pada Selasa pagi (6/10/26).

Buku sejarah ini pastinya akan menambah khazanah kepustakaan Kota Surabaya. Apa artinya ini bagi Surabaya? Tentunya buku ini memiliki arti penting yang mendalam bagi Kota Surabaya, baik dari sudut pandang identitas, sejarah, maupun pelestarian budaya.

Salah satu sumber sejarah yang digunakan Eko Jarwanto.Foto: ej

Selama ini, catatan mengenai daftar kepemimpinan Surabaya dari era kerajaan (seperti masa Kadipaten bawah pengaruh Majapahit, Demak, hingga Mataram Islam) sering kali terfragmentasi. Buku ini berfungsi sebagai jembatan yang menyatukan potongan sejarah para adipati dan bupati terdahulu secara kronologis dan terstruktur.

Kehadiran karya ini memperkaya dokumen tertulis (historiografi) lokal. Ini menjadi referensi primer yang sangat berharga bagi akademisi, sejarawan, mahasiswa, hingga pembuat kebijakan di Surabaya untuk memahami bagaimana pola kepemimpinan dan geopolitik masa lalu membentuk karakter kota hari ini.

Buku ini sekaligus mempertegas akar sejarah Surabaya yang jauh lebih tua dan kaya dari sekadar narasi “Kota Pahlawan” era modern. Nama Śūrapringga sendiri merujuk pada sebutan kuno kawasan Surabaya dalam manuskrip sejarah, sehingga buku ini memulihkan ingatan kolektif warga tentang identitas awal tanah kelahiran mereka.

Akhirnya buku ini juga sekaligus menjadi Daya Tarik Wisata Sejarah dan Budaya (Wisata Heritage). Rekam jejak para penguasa terdahulu biasanya berkaitan dengan situs pemakaman, petilasan, atau bangunan bersejarah di Surabaya. Buku ini dapat menjadi pemandu narasi untuk menghidupkan kembali potensi wisata sejarah kota. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *