Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Puri Aksara Rajapatni tidak cukup hanya mengajarkan aksara Jawa kepada para pembelajar (siswa, mahasiswa dan umum) secara pedagogik (membaca dan menulis) berdasarkan sumber sumber yang ada.
Komunitas ini juga bernarasi historis dan kultural berdasarkan sumber sumber dan rujukan yang ada. Cara memperkenalkan sejarah dan budaya itu dilakukan melalui berbagai cara yang empiris dan faktual. Yaitu melalui contoh contoh dengan cara melakukannya. Examples by doing.
“Examples by doing” adalah memberi contoh dengan melakukannya, yang berarti menunjukkan tindakan nyata secara langsung daripada sekadar memberikan nasihat atau perintah.
Misalnya ketika menunjukkan budaya Jawa, yaitu diantaranya dengan melakukan praktik praktik tradisi Jawa, seperti dapat menulis dan membaca aksara Jawa serta berbusa Jawa (meski tidak lengkap).
Dengan kemampuan yang dimiliki oleh individu masing masing personil Rajapatni, mereka menggunakan kemampuannya untuk memperkenalkannya kepada banyak pihak dengan esensi budaya Jawa (aksara).
Dengan kemampuan itu, mereka mengembangkannya secara lokal, regional, nasional dan bahkan internasional. Wujudnya sudah banyak mulai dari produk penerbitan hingga kreativitas teknologi yang mampu menembus batas wilayah negara.
Dari semua itu ada target yang mau diraih. Yaitu mengenakan budaya Jawa ke banyak pihak. Selama ini Puri Aksara Rajapatni tidak hanya bercerita (mengajar), tetapi ada target yang mau diraihnya. Modalnya adalah cara cara dalam menyajikan cerita baik yang bersifat historis maupun Kultural.
Sederet Agenda di Bulan Oktober 2026
Di bulan Oktober 2026 misalnya, sudah berderet agenda mulai dari perayaan Dutch Week, Lomba Menulis Aksara Jawa hingga rencana rilis lagu oleh musisi Belanda tentang Kota Medan.
Nostalgia tentang Kota Medan. Foto: michielediard
Rilis lagu tentang Kota Medan ini adalah bentuk kepercayaan pihak dari Belanda kepada Puri Aksara Rajapatni akan media yang dikelola Rajapatni.
Ini adalah wujud hubungan nyata antara entitas di Belanda dengan Surabaya melalui Puri Aksara Rajapatni. Ini pun merupakan bagian dari Target Puri Aksara Rajapatni dalam membina hubungan (jaringan) antar Bangsa.
Rencananya rilis lagu ini akan dilakukan pada tanggal 18 Oktober 2026.
“Tanggal perilisan tersebut juga memiliki arti khusus karena 18 Oktober merupakan hari wafat ayah saya. Saya sengaja memilih tanggal tersebut sebagai bentuk penghormatan dan kenangan kepada beliau”, kata Michiel Eduard, musisi Belanda yang berdarah Indo.
Ilustrasi patung koeli perkebunan di Medan. Foto: michielediard
“Sebagai musisi dari Belanda, membuat lagu tentang Medan memiliki arti yang sangat khusus bagi saya. Saya ingin karya ini menjadi jembatan antara Indonesia dan Belanda, sekaligus menjadi penghormatan pribadi seorang anak kepada ayahnya. Saya berharap Mas Nanang dan Rajapatni berkenan mempertimbangkan kisah di balik lagu “Kota Medan” untuk diangkat kepada pembaca”, tambah Michiel Eduard kepada Rajapatni di akhir suratnya. (PAR/nng)