Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Tokoh bersama rakyat. Konsep “Tokoh bersama Rakyat” ini menjadi idaman. Siapapun mereka, yang siap membersamai rakyat, dapat menjadikan rakyat tenang, bisa terarah dan pada akhirnya bisa partisipatif dalam gerak dan langkah pembangunan suatu daerah.
Pemimpin yang “membersamai rakyat” adalah perwujudan kepemimpinan partisipatif yang ideal dalam pembangunan daerah. Sosok yang merakyat bukan sekadar hadir secara fisik, melainkan mampu membangun kepercayaan (trust) dan hubungan timbal balik yang kuat dengan warga untuk mencapai satu tujuan bersama.
Perilaku ini (bersama rakyat) dicontohkan oleh Raden Trunajaya ketika menghadapi VOC dalam perang Surabaya pada 1677. Perjuangan Raden Trunajaya dalam pemberontakan/perlawanan melawan Kesultanan Mataram dan VOC (1674–1680) merupakan contoh awal perlawanan/perjuangan berbasis kerakyatan.

Trunajaya, seorang bangsawan Madura, memimpin aliansi pejuang Madura, Makassar (di bawah Karaeng Galesong), dan masyarakat pesisir Jawa yang tidak puas dengan kezaliman pemerintahan Amangkurat I dari Mataram, termasuk di Surabaya.
Awalnya, konflik ini adalah pemberontakan terhadap Mataram. Namun, ketika Amangkurat I meminta bantuan VOC, perlawanan Trunajaya berubah menjadi jihad/perang melawan VOC dan sekutunya.
Menurut literasi Soerabaja 1900-1950 (Asia Maior) pada bulan April/Mei 1677, VOC di bawah pimpinan Cornelis Speelman melakukan serangan ke Surabaya. Meskipun mendapat perlawanan sengit dari Raden Trunajaya dan rakyat Surabaya, kekuatan meriam dan pasukan VOC berhasil mendesak pasukan Trunajaya keluar dari Surabaya pada Mei 1677, yang kemudian memaksa Trunajaya mundur ke Kediri.
Perlawanan ini menonjolkan peran aliansi rakyat pesisir melawan kekuatan kolonial (VOC) dan pemerintah pusat, yang dianggap korup/sewenang-wenang.
Menang atau kalah adalah nomor dua, nomor satu adalah bahwa peran Trunajaya bersama rakyat ini menjadi teladan bagi pemimpin pada masa sekarang dan mendatang.
Pada pemimpin atau figur publik yang aktif berinteraksi, mendengar aspirasi, dan turun langsung ke masyarakat, menjadi figur yang sering dikaitkan dengan pendekatan yang dilakukan presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto.
Bahkan gelombang para politisi sering mendengungkan bahwa mereka bersama rakyat. Termasuk TNI yang berslogan “TNI Bersama Rakyat, Negara Kuat”. Mengapa? Narasi politisi, yang mengklaim berpihak pada rakyat, memiliki akar sejarah, filosofis, dan strategis yang kuat di Indonesia, meskipun dengan tujuan yang berbeda.
Sementara TNI menggunakan slogan tersebut untuk menegaskan jati diri sebagai “Tentara Rakyat” yang lahir dari perjuangan rakyat. Jenderal Soedirman menganalogikan TNI sebagai ikan dan rakyat sebagai air. Ikan (TNI) tidak bisa hidup tanpa air (rakyat).
Bersama rakyat adalah kekuatan (people power). Berbagai contoh kebersamaan dengan rakyat dapat meraih tujuan. Meski beberapa contoh diantaranya adalah “ngeri”. Misalnya demo penurunan presiden Soeharto dan bahkan demo di beberapa negara lainnya.

Dalam arti positif jika people power itu digalang untuk tujuan tujuan pembangunan, maka dampaknya adalah kemanfaatan publik. People power (kekuatan rakyat) dalam arti positif dan konstruktif, sering disebut sebagai partisipasi publik atau aksi kolektif, yang digalang untuk tujuan pembangunan akan menghasilkan dampak kemanfaatan publik yang besar.

Sekarang dan mendatang adalah eranya ‘perang’ melawan kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan bukan lagi perang bersenjata seperti zaman kerajaan dan kemerdekaan lagi.
Ini adalah bentuk pergeseran paradigma perjuangan bangsa Indonesia di era modern (2026 dan seterusnya). Perjuangan kini bertransformasi dari perang fisik bersenjata melawan penjajah menjadi perang intelektual dan sosial melawan kebodohan, kemiskinan, serta keterbelakangan. (PAR/nng)
