Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Digitalisasi adalah wujud nyata pemajuan tradisi aksara Jawa agar tetap hidup, relevan, dan mudah diakses di era modern.
Alasan mengapa Digitalisasi turut memajukan Aksara Jawa adalah:
• Aksesibilitas Luas: Aksara Jawa di ruang digital memudahkan siapa saja untuk membaca, menulis, dan berkomunikasi menggunakan huruf daerah tanpa terbatas ruang.
• Relevansi dengan Generasi Muda: Penggunaan font, papan tik (keyboard), dan aplikasi ponsel mendekatkan tradisi aksara tradisional kepada kaum milenial dan Gen Z.
• Pelestarian Naskah Kuno: Alih aksara dan arsip digital menyelamatkan warisan budaya tak benda agar tidak rusak dimakan waktu.
• Kedaulatan di Ruang Siber: Penguatan domain digital dan standar internasional (seperti Unicode) menjaga eksistensi identitas budaya Jawa di kancah global.
Puri Aksara Rajapatni adalah komunitas budaya yang masih kecil di Surabaya yang bergerak global. Ia memang lokal tapi berjejaring dan bersuara nasional dan bahkan internasional. Namun demikian Rajapatni masih tetap konsisten membumi dalam memperkenalkan Aksara Jawa.
Game Digital Beraksara Jawa

Bahkan Puri Aksara Rajapatni telah mendesain dan membuat permainan aksara Jawa digital, yang menekankan pada pengenalan aksara dalam penulisan dan pembacaan secara digital. Permainan digital (digital game) ini diperkenalkan oleh Ita Surojoyo dan digunakan dalam proses pembelajaran aksara Jawa pada kelas Sinau Aksara Jawa di Rumah Bahasa Surabaya.
Permainan game digital aksara Jawa ini sangat relevan dengan zaman dan generasi karena menjadi jembatan yang sangat efektif untuk melestarikan budaya di era modern. Media ini berhasil mengubah kesan belajar aksara tradisional yang dulunya dianggap rumit atau membosankan menjadi aktivitas interaktif yang seru dan menantang bagi generasi muda.
Melalui pendekatan berbasis gamifikasi, seperti pilihan yang benar hingga kuis interaktif, maka generasi alfa dan gen Z dapat mengenali warisan leluhur tanpa kehilangan sentuhan teknologi yang menjadi bagian dari keseharian mereka.
Dalam game online ini generasi muda diajak bermain dengan memilih jawaban yang benar atas pembacaan pertanyaan dan jawaban yang tertulis dalam aksara Jawa. Termasuk menulis secara digital dalam aksara Jawa.
Bahasa Inggris Sebagai Bahasa Instruksional

Uniknya adalah game ini menggunakan instruksi bahasa Inggris sehingga game ini memang layak dipakai di lintas negara. Umumnya permainan game tradisional menggunakan bahasa instruksi daerah (Jawa). Namun game online kreasi Puri Aksara Rajapatni menggunakan bahasa instruksional asing (Inggris).

Penggunaan bahasa Inggris ini memang selaras dengan misi organisasi yang memang melayani jasa konsultasi penulisan Aksara Jawa berdasarkan hasil Kongres Aksara Jawa 2021 dan terkini dengan mengikuti perkembangan yang ada. Perkembangan itu adalah di bidang teknologi. Yaitu masuk di dunia digital sebagai upaya pemajuan objek budaya aksara Jawa.

.
Langkah ini bukan sekadar mengubah bentuk fisik tulisan kuno menjadi teks digital, melainkan sebuah strategi komprehensif untuk menyelamatkan, melestarikan, dan merelevansikan warisan budaya Nusantara agar tidak punah ditelan zaman.
Sebagai bagian dari Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) yang diamanatkan oleh Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, digitalisasi ini memiliki urgensi penting.
Yaitu membawa aksara Jawa masuk ke dalam ekosistem digital (seperti standar Unicode, internet, dan media sosial) membuat bahasa dan tulisan daerah ini bisa dipelajari dan digunakan oleh siapa saja, di mana saja, tanpa terbatas ruang fisik.
Puri Aksara Rajapatni selain melalui ruang digital juga telah membuat penerbitan beraksara Jawa yang didistribusikan ke mancanegara. Maka bertambahlah wadah dan ruang bagi Puri Aksara Rajapatni dalam membawa aksara Jawa ke kancah dunia.
Dutch Taalfest

Dalam waktu dekat di bulan Oktober, Puri Aksara Rajapatni juga menjadi bagian dari program yang digelar oleh NINA (Netwerk Internationale Neerlandistiek in Azië), yaitu Jaringan Studi Belanda Internasional di Asia. Program dalam merayakan Dutch Taalfest ini, Surabaya membawa seni wayang kulit dengan tujuan memperkenalkan bahasa Jawa dalam komunikasi. Ini juga menjadi upaya dalam mengisi Bulan Bahasa dan Sastra.

Ita Surojoyo, yang dalam keseharian sebagai guru bahasa Inggris untuk siswa dan mahasiswa yang bersiap sekolah di Luar Negeri itu memang menggunakan keterampilannya untuk mengusung Aksara Jawa ke tingkat Global. Ia pada suatu waktu juga sempat menjadi translator tamu tamu dari UNESCO yang datang ke Yogyakarta untuk mengetahui dari dekat atas penggunaan tradisi tulis aksara Jawa.
Di Surabaya sendiri melalui kelas Sinau Aksara Jawa, Ita mengenalkan (mengajarkan menulis dan membaca) aksara Jawa yang diantaranya melalui cara digital, termasuk mendesain permainan game aksara Jawa. (PAR/nng)
