Sejarah, Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Surabaya adalah sebuah entitas kota besar, yang luas wilayahnya sekitar 335 km2 dengan penduduk sekitar 2.931.611 jiwa (Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya). Kota ini termasuk kota besar setelah Jakarta (ibukota negara).
Sementara, Śūrabhaya adalah sebuah desa kecil di tepi sungai (Naditira Pradeça) yang memiliki nilai kultural dan historis yang besar, yang secara mendasar disandang Kota Surabaya sekarang.
Nilai besar itu adalah sifat WANI (berani) yang tercermin dalam kiprah kota ini sepanjang masa. Pada sejarah kota yang menandai Hari Jadinya 31 Mei 1293 tertoreh kisah keberanian rakyat Surabaya dalam mengusir bangsa Mongol.
Juga dalam peristiwa Perang Trunojoyo pada 1677, Perang Jayapuspita 1719, hingga Perang Surabaya 1945 yang dikenal dengan Perang 10 November, yang selanjutnya menjadi dasar penetapan Hari Pahlawan oleh Presiden Pertama Soekarno.
Sifat berani itu dijiwai oleh sifat keberanian rakyatnya yang secara harfiah tercermin dari nama Śūrabhaya. Kata Śūrabhaya terdiri dari dua suku kata, yang berasal dari bahasa Sansekerta.

Śūra artinya berani dan Bhaya berarti Bahaya/tantangan. Sehingga Śūrabhaya berarti berani menghadapi bahaya atau tantangan. Berbagai tantangan dan bahaya itu tercermin pada rentetan perang sebagaimana tersebut diatas (perang Trunojoyo, perang Jayapuspita dan perang Surabaya).
Masih ada lagi perang pada masa sekarang dan mendatang yang berupa tantangan, namun bukan lagi berupa pertempuran fisik melawan penjajah, melainkan perang melawan tantangan modern, yang mengancam kesejahteraan warganya. Sebagai kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia, Surabaya bertransformasi menghadapi medan pertempuran baru yang membutuhkan strategi, inovasi, dan kolaborasi.
Diantaranya adalah Perang Sosial: Kemiskinan, Stunting, dan Ketimpangan ekonomi
• Pengentasan Kemiskinan Ekstrem: Pemerintah kota terus meluncurkan program padat karya dan pemberdayaan UMKM untuk memastikan seluruh warga memiliki penghasilan layak.
• Kesehatan dan Stunting: Memastikan pemenuhan gizi anak-anak Surabaya demi mencetak generasi masa depan yang kompetitif dan bebas stunting.
Juga Perang Melawan Kemacetan & Kebutuhan Transportasi
• Ketergantungan Kendaraan Pribadi: Volume kendaraan terus meningkat, memicu kemacetan di jalur-jalur utama seperti Jalan Ahmad Yani.
• Integrasi Transportasi Publik: Tantangan terbesar masa depan adalah menghadirkan transportasi publik yang massal, murah, nyaman, dan terintegrasi (seperti optimalisasi Suroboyo Bus, Trans Semanggi, dan rencana transportasi berbasis rel) agar masyarakat mau beralih dari kendaraan pribadi.
Termasuk Perang Kesiapan Digital & Ekonomi Kreatif.
• Persaingan Tenaga Kerja Global: Anak muda Surabaya harus bersaing di era kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi. Tantangannya adalah mencetak SDM yang menguasai teknologi dan bahasa asing melalui pelatihan digital.
• Keamanan Siber Kota: Seiring transformasi Surabaya menjadi Smart City (Kota Cerdas) dengan berbagai layanan publik berbasis digital, perlindungan data warga dari serangan siber menjadi medan tempur baru yang krusial.
Sifat Berani Sebagai Modal
Sifat berani dengan nilai kejuangan dan kepahlawanan, yang terkandung dalam makna Śūrabhaya (berani menghadapi bahaya) itulah yang menjadi modal dan senjata ampuh yang harus dimiliki oleh warga kota Surabaya.
Secara kultural Śūrabhaya ini juga memiliki nilai sosial budaya, yang tercermin dari jasa seorang penambang perahu sehingga jasanya pantas dicatat oleh Raja Hayam Wuruk dalam sebuah Prasasti Canggu 1358 M. Atas jasa penambangan (penyeberangan sungai) itu maka praktik praktik sosial budaya: keagamaan, kebudayaan, komunikasi, perdagangan, ekonomi dan sosial dapat berjalan dengan baik.
Tentunya praktik praktik itu harus dapat diaplikasikan oleh warga dan perangkat kota sekarang dan ke depan melalui bagian bagian sesuai dengan tugasnya. Dulu cuma dari jasa seorang penambang untuk semua urusan. Sekarang setiap urusan sudah oleh masing masing bagian (dinas) sebagai instrumen pemerintah kota.
Misalnya urusan perdagangan oleh Dinas Perdagangan, urusan sosial oleh Dinas Sosial, urusan keagamaan oleh Kantor Agama urusan komunikasi oleh Dinas Komunikasi dan sebagainya.
Meski kala itu, dalam struktur deça, sudah ada bagian sendiri sendiri, tetapi peran penambang (penyeberangan) sungai sangat membantu untuk semua urusan. Karenanya Raja Majapahit mencatatnya dalam sebuah prasasti. Deça itu adalah Śūrabhaya atau Çurabhaya.
Nilai Śūrabhaya atau Çurabhaya (keberanian menghadapi bahaya) yang dahulu lahir dari sebuah Naditira Pradeça (desa di tepian sungai) kini memang telah menjelma menjadi nilai-nilai yang abstrak. Namun, esensi nilai tersebut tidak boleh hilang. Abstraksi itu harus tetap hidup, bersemayam dalam diri warga kota, dan bertransformasi menjadi semangat kolektif dalam membangun Kota Surabaya modern.
Śūrabhaya sesungguhnya menjiwai secara historis dan kultural warga Surabaya sebagai modal pembangunan sekarang dan mendatang. (PAR/nng)
