Pesarean Bataputih Surabaya Simpul Faktual Surabaya – Mataram

Sejarah Budaya

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Pesarean Bataputih, Pegirian adalah ladang sejarah klasik Surabaya. Di sana tempat diistirahatkannya para bangsawan Surabaya. Diantaranya yaitu para pangeran, adipati dan bupati Surabaya.

Salah seorang yang dituakan adalah Pangeran Lanang Dangiran atau Ki Ageng Brondong, yang meninggal dunia pada 1638 pada usia sekitar 70 tahun. Tahun itu adalah eranya Raja Mataram Sultan Agung / Hanyokrokusumo (1613 – 1645).

Makam Pangeran Lanang Dangiran di Bataputih. Foto: dok

Surabaya sendiri terhitung menyerah kepada Sultan Agung pada 1625. Sejak tahun inilah pengaruh sistem pemerintahan dan politik Mataram menjalar ke Surabaya.

Dampak dari masuknya pengaruh Mataram ini adalah adanya perubahan pemerintahan, yang mana penguasa lokal di Surabaya harus tunduk kepada kekuasaan Sultan Agung di Mataram.

Pun demikian dengan sistem politik, yang mana penerapan pola feodal Mataram mulai diperkenalkan di daerah pesisir. Termasuk masuknya unsur budaya dan bahasa Jawa Mataraman ke wilayah timur Jawa.

Sekarang dalam kehidupan sehari hari, jejak jejak Mataraman itu masih ada dan terasa. Secara fisik tampak pada kompleks Pesarean Bataputih Pegirian Surabaya.

Kompleks Pesarean Sentono Botoputih di Jalan Pegirian, Surabaya ini memang, menyimpan kaitan erat dengan dinamika kekuasaan dan kekeluargaan antara Surabaya dan Mataram pada masa lalu. Tokoh utama di tempat ini adalah Pangeran Lanang Dangiran atau Sunan Botoputih.

Gapura di Pesarean Bataputih. Foto: ist

Tokoh di Botoputih awalnya berasal dari Blambangan dan trah Majapahit, dan keturunannya seperti Kyai Onggowongso kemudian diangkat menjadi Tumenggung (Bupati) di Surabaya.

Pangeran Lanang Dangiran (Kyai Ageng Brondong) memang berasal dari Blambangan dan tersambung ke trah Majapahit. Anaknya, yang bernama Kyai Onggowongso (Ki Tumenggung Djangrono I), selanjutnya diangkat menjadi Bupati Surabaya di bawah pengaruh Mataram setelah kekuasaan Pangeran Pekik dan Pangeran Pekik menjadi adik ipar Sultan Agung karena dinikahkan dengan adik Sultan Agung. (https://id.wikipedia.org/wiki/Pangeran_Pekik) melemah atau berakhir akibat konflik dengan Kesultanan Mataram

Kyai Tumenggung Djangrono I (Kyai Onggowongso atau Ki Honggowongso) adalah Adipati atau Bupati Surabaya yang berkuasa sekitar tahun 1670–1678 di bawah kekuasaan Kesultanan Mataram.

Djangrono I menurunkan banyak tokoh penting, termasuk Kyai Tumenggung Djangrono II dan Surenggono, termasuk bupati bupati di era pemerintahan Hindia Belanda, yang cungkupnya ditata layaknya sebuah loji.

Selain itu bentuk fisik dan tradisi kultural seperti kegiatan “reboan” mencerminkan jejak relasi historis serta ikatan trah leluhur yang menyambungkan sejarah lokal Surabaya dengan tradisi keraton Mataram. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *