Sejarah
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Sebagian keluarga raja Kesultanan Mataram masih memiliki hubungan darah dan keturunan dari Sunan Ampel, Surabaya. Hubungan darah ini masuk melalui jalur perkawinan politik antara bangsawan Surabaya (keturunan Sunan Ampel) dan penguasa Mataram.

• Secara garis besar bahwa putri Sunan Ampel, yang bernama Dewi Murtasimah (dari ibu Dewi Karimah), menikah dengan Raden Patah, yang merupakan Raja Kerajaan Demak (1478 atau 1481–1482 Masehi)

• Atas perkawinan Raden Patah dan Dewi Murtasimah, lahirlah beberapa anak, yang kemudian menjadi tokoh tokoh penting. Di antaranya adalah Pati Unus (Pangeran Sabrang Lor), Sultan Trenggana, Raden Sasongko, Pangeran Surowiyoto, serta dua orang putri yaitu Ayu Kirana dan Ayu Wulan.
• Selanjutnya, suksesi Demak berlanjut ke Pajang. Pendiri dan raja pertama Pajang adalah Sultan Hadiwijaya atau yang lebih dikenal sebagai Jaka Tingkir, yang merupakan cucu menantu dari Sultan Trenggono (cicit Raden Patah),
Pra Giyanti
• Setelah Pajang, lantas suksesi beralih ke Mataram. Raja Mataram, yang memiliki hubungan darah dan pengangkatan dekat dengan raja Pajang, adalah Panembahan Senopati (Danang Sutawijaya), pendiri dan raja pertama Mataram Islam.
• Sebenarnya, Danang Sutawijaya bukanlah anak kandung Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir), melainkan anak angkat sekaligus keponakan ipar, serta putra dari Ki Ageng Pemanahan.
• Danang Sutawijaya memerintah (1587 – 1601). Ia mengubah wilayah Mataram, yang awalnya hanya sebuah daerah perdikan di bawah Kesultanan Pajang, kemudian menjadi sebuah kerajaan besar.
• Setelah Danang Sutawijaya wafat pada 1601, takhta Kerajaan Mataram Islam dilanjutkan oleh putranya yang bernama Raden Mas Jolang, yang kemudian dikenal dengan gelar Sultan Hanyakrawati (1601 – 1613).
• Setelah itu baru kemudian bertahtalah Sultan Agung / Anyakrakusuma (1613 – 1645)
• Penerus Sultan Agung dari Kesultanan Mataram adalah putranya, yang bergelar Amangkurat I (1646 – 1677).
• Kemudian Amangkurat I diteruskan putranya, Amangkurat II, yang bertahta 1677 – 1703.
• Amangkurat II digantikan Amangkurat III (Raden Mas Sutikna) yang bertahta 1703 – 1705
Perang Suksesi Jawa I
• Penerus Amangkurat III (Sunan Mas) di takhta Kesultanan Mataram adalah pamannya sendiri, Pakubuwana I (Pangeran Puger), yang berkuasa di Kasunanan Kartasura 1705 – 1719 setelah terjadinya konflik perebutan kekuasaan (Perang Suksesi Jawa I).
• Selanjutnya penerus Pakubuwana I, yang bertahta di Kesultanan Mataram, adalah putranya sendiri, yaitu Amangkurat IV (Raden Mas Suryaputra), yang berkuasa di Kasunanan Kartasura dari tahun 1719 – 1726
• Penerus Amangkurat IV adalah Pakubuwana II (bernama asli Raden Mas Prabasuyasa), yang memerintah Kesultanan Mataram 1726 – 1749.
• Penerus Pakubuwana II adalah putranya yang bernama Raden Mas Soerjadi, yang naik tahta dengan gelar Pakubuwana III. Ia memimpin Kasunanan Surakarta mulai tahun 1749 hingga 1788 setelah Pakubuwana II wafat
Pasca Giyanti
• Pada masa inilah (perebutan suksesi) diadakan Perjanjian Giyanti, tepatnya pada 1755, yang ada campur tangan asing dan akhirnya membagi Mataram menjadi dua wilayah: Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta
• Kesultanan Yogyakarta diperintah raja pertama, Sri Sultan Hamengkubuwana I (1755 – 1792).
• Sementara, Kasunanan Surakarta diperintah raja pertama, Sri Susuhunan Pakubuwono III (1749 – 1788)
• Penerus tahta Sri Sultan Hamengkubuwana I di Kesultanan Yogyakarta adalah putranya sendiri, yaitu Hamengkubuwana II, yang bertahta pada periode.1792–1810, 1811–1812, dan 1826–1828.
Ringkasan
• Sunan Ampel:
• Sunan Ampel (Surabaya)
• Dewi Murtasimah X Raden Patah (Kerajaan Demak)
• Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir), cucu menantu dari Sultan Trenggono (cicit Raden Patah), Kerajaan Pajang.
Pra Giyanti:
• Danang Sutawijaya , Kerajaan Mataram (1587 1601)
• Raden Mas Jolang / Sultan Hanyakrawati (1601 – 1613 ).
• Sultan Agung / Anyakrakusuma (1613 – 1645)
• Amangkurat I (1646 – 1677).
• Amangkurat II (1677–1703)
• Amangkurat III (1703 – 1704)
Perang Suksesi Jawa:
• Pakubuwana I di Kasunanan Kartasura (Pangeran Puger), yang berkuasa 1705 – 1719
• Amangkurat IV di Kasunanan Kartasura (1719 – 1726)
• Pakubuwana II di Kesultanan Mataram (1726 – 1749)
Giyanti & Pasca Giyanti:
• Pakubuwana III di Kasunanan Surakarta 1749 hingga 1788.
• Hamengkubuwana I di Kesultanan Yogyakarta (1755 – 1792
• Hamengkubuwana II di Kesultanan Yogyakarta (1792–1810, 1811–1812, dan 1826–1828)
• HB III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X di Kesultanan Yogyakarta.
Pangeran Pekik (Surabaya) X Ratu Pandansari (Mataram)

Pangeran Pekik dan Ratu Pandansari (adik Sultan Agung) menikah sekitar 1630 setelah kekalahan Surabaya oleh Sultan Agung pada 1625.
Pangeran Pekik:
Bangsawan asal Surabaya ini adalah keturunan langsung dari Sunan Ampel.
Ratu Pandansari:
Putri Pandansari ini adalah adik kandung Sultan Agung Mataram.
Perkawinan Politik:
Pangeran Pekik menikah dengan Ratu Pandansari (adik dari Sultan Agung dari Mataram).
Keturunan Ampel di Mataram:
Putri Pangeran Pekik, yang bergelar Ratu Kulon, juga menikah dengan raja Mataram, Amangkurat I. Dari keduanya, lahirlah Raden Mas Rahmat, yang kemudian naik tahta menjadi Amangkurat II (Raja Mataram periode 1680–1703).
Melalui jalur inilah darah Sunan Ampel mengalir pada raja-raja Mataram penerus Amangkurat. (PAR/nng)
Note: diolah dari berbagai sumber
