Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Nusantara memiliki akar sejarah yang panjang sebagai ruang aktif interaksi antarbangsa dan pusat kebudayaan bahari yang maju pada masanya (masa lalu). Kenapa tidak masa sekarang dan mendatang? Bisakah?
Jawabannya, sangat bisa untuk kembali menjadi pusat interaksi dan kebudayaan bahari yang maju di masa sekarang dan mendatang. Secara geografis, posisi Nusantara tetap strategis di antara dua benua dan dua samudra, serta dilalui alur pelayaran penting dunia. Tidak salah munculnya gagasan Indonesia sebagai ibukota Kebudayaan Dunia.
Gagasan menjadikan Indonesia sebagai ibu kota kebudayaan dunia dinilai tidak salah karena Indonesia memiliki megadiversity atau tingkat keanekaragaman budaya dan hayati yang sangat tinggi, didukung oleh mandat konstitusi UUD 1945 Pasal 32 ayat 1, serta pengakuan internasional terhadap warisan budaya nusantara.
SDM
Kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Budaya (SDB),cukupkan mumpuni. Sekarang bagaimana dengan Sumber Daya Manusia (SDM) nya?
Bukannya pesimis. Tetapi perlu penguatan SDM agar bisa mengolah SDA dan SDB nya. Penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) sangat penting agar kekayaan alam dan budaya tidak hanya menjadi potensi. SDM yang unggul dibutuhkan untuk memberi nilai tambah, mengelola teknologi, dan menjaga kelestarian budaya secara berkelanjutan.
Hasil dari Kongres Kebudayaan Nusantara 2026 di Malang Jawa Timur tentulah baik di atas kertas, tapi bagaimana aplikasinya? Karena rekomendasi itu masih diteruskan kepada pihak pihak terkait. Jangan sampai Kongres itu hanyalah seremonial yang menghabiskan dana ratusan juta. Bisa jadi miliaran rupiah !!!
Monitoring

Hendaknya hasil kongres tidak cuma diserahkan saja tetapi harus ada monitoring pasca kongres dan pelaporan secara terbuka kepada publik. Ini akan menjadi pengawasan bersama.
Maklum, sudah menjadi kebiasaan ketika suatu acara selesai, maka selesailah gawenya. Padahal sebuah acara hanyalah sebuah gerbang semata. Ketika gerbang telah dibuka, maka harus bisa menapaki lanjutannya.
Setelah pintu terbuka, tantangan sebenarnya adalah melangkah ke tahap lanjutan untuk merawat momentum, menindaklanjuti rekomendasi, dan mewujudkan hasil yang nyata. Peserta kongres harus terus tetap terhubung dengan penyelenggara kongres sebagai upaya tindak lanjut (follow up).
Dalam hal rekomendasi tradisi aksara dan bahasa misalnya harus dikawal sampai sejauh mana tindak lanjutnya. Bila perlu pasca kongres ada pertemuan lanjutan untuk memonitor perjalanan rekomendasi.
Pengawalan rekomendasi tradisi aksara dan bahasa idealnya dilakukan secara berkala hingga rekomendasi tersebut terwujud menjadi produk kebijakan nyata, rencana induk, atau payung hukum yang mengikat. Pertemuan lanjutan pasca kongres sangat diperlukan untuk memastikan kesinambungan program.
Bila perlu, ada tim yang dibentuk khusus yang tugasnya mengawal perjalanan rekomendasi. (PAR/nng)
