Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Di Negeri Kincir Angin, diperkenalkan dengan kampung tradisional Zaanse Schans Di Suriname diperkenalkan dengan kampung Jawa, Rust en Werk, yang merupakan bekas perkebunan kolonial dan desa pertanian yang terletak di sepanjang Sungai Commewijne.
Kedua negeri itu bangga dengan tradisi mereka. Mereka mempertontonkan kampung dengan keasliannya. Mulai cara hidup hingga berkomunikasi baik lisan maupun tulis. Di Zaanse Schans, Belanda, yang secara alami masih berupa kawasan pedesaan yang datar lengkap dengan sungai sungai dan kincir angin serta ladang ladang dengan kandang kandang sapi dan tempat perahan susu sapi hingga pengolahan keju yang siap jual.

Di kawasan ini terkenal karena memiliki koleksi kincir angin dan rumah kayunya yang dipindahkan ke sini dari wilayah yang lebih luas di utara Amsterdam untuk pelestarian

Termasuk tempat pembuatan klompen kayu yang menjadi atraksi khas buat pengunjung. Tidak cuma itu, pengunjung pun bisa melihat kincir angin beroperasi yang tenaganya digunakan untuk memutar roda penggiling biji biji gandum atau jagung. Termasuk menyisir sungai sungai kecil yang masih dijadikan alur transportasi perahu dengan rumah rumah desa yang menjajakan kerajinan desa termasuk telur ayam.

Hal serupa dengan yang ada di Rust en Werk, desa orang Jawa di Suriname. Suasana desa di sana layaknya pedesaan di Jawa. Bayangan Anda tentang sebuah desa yang ada di Jawa, serupa dengan di Rust en Werk. Cara dan gaya hidupnya serupa. Ngomongnya juga sama. Pakai bahasa Jawa dan bahkan ada yang masih bisa nulis Aksara Jawa. Di dalam dinding rumah, ada hiasan yang berupa aksara Jawa Nglegena.
Di kedua tempat itu, ada kontribusi pemerintah setempat guna memunculkan atraksi tradisional agar dapat menjadi edukasi publik, baik masyarakat setempat maupun pendatang. Bahkan atraksi atraksi oleh masyarakat seperti komunitas disambut dengan baik oleh pemangku setempat.

Di Rust en Werk ada lingkungan untuk belajar seni Reog. Ada pula tempat untuk belajar menari dan ada tempat untuk belajar bahasa dan aksara Jawa. Mereka bangga menampilkan tradisi aslinya karena tradisi adalah akar identitas bangsa yang membedakan mereka dari bangsa lain di dunia. Menjaga dan memamerkan tradisi bukan sekadar ritual masa lalu, melainkan strategi penting untuk bertahan dan berkembang di era modern. (PAR/nng)
