Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Dalam rangka menjaga, melestarikan dan memajukan Aksara Daerah (tradisional) seperti aksara Jawa Kuna (Kawi), Jawa Baru (Hanacaraka) dan lainnya di era modern ini memang terasa sulit kalau tidak diawali oleh mereka yang paham Aksara. Ini menjadi hal yang kontradiksi ketika tradisi bertemu dengan modernisasi. Tapi tidak boleh ada frasa “tidak bisa”. Justru tradisi bisa menjadi warna dalam kehidupan modern.
Pelestarian aksara daerah di era modern sangat mungkin dilakukan dengan memanfaatkan teknologi. Langkah ini menjembatani tradisi dan modernisasi agar aksara seperti Jawa Kuna dan Hanacaraka tetap relevan, dicintai, dan menjadi bagian dari warna kehidupan masa kini.

Di era digital ini, upaya “tidak bisa” dapat dipatahkan dengan berbagai kemudahan akses yang ada:
Integrasi Papan Ketik Digital:
Kita bisa mengetik Hanacaraka langsung di ponsel pintar melalui aplikasi seperti Aksaraya di iOS, Salin Saja atau Aksara Jawaku di Android.
Gamifikasi dan Komunitas:
Proses belajar pun kini lebih menyenangkan melalui gim edukasi, atau bergabung dengan komunitas yang peduli seperti Puri Aksara Rajapatni dan berbagai kelompok daring.
Dukungan Platform Global:
Aksara Jawa kini telah masuk dalam standar Unicode, memungkinkan kita menggunakannya di berbagai aplikasi perpesanan dan media sosial.
Semua Platform itu semakin mendorong pihak pihak yang sadar dalam memajukan objek Kebudayaan, Aksara. Salah satu diantaranya adalah pihak dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Trowulan Jawa Timur. Tentu saja pihak BPK WXI ini dapat melakukan sesuai dengan kapasitas dan wilayah kerja dan objek pekerjaan. Sejak tahun 2023 pihak BPK WXI telah menuliskan dan menggunakan Aksara Jawa Kuna (Kawi) di beberapa situs percandian di Jawa Timur termasuk penggunaan aksara Jawa Baru (Hanacaraka ) di komplek Pusat Informasi Majapahit (PIM) yang sekarang bernama Museum Majapahit di Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Dengan melalui pihak yang paham akan pentingnya menjaga kearifan lokal, maka aksara daerah bisa mulai diperkenalkan kembali. Secara nyata bahwa di PIM (Museum Majapahit) banyak tersimpan prasasti yang ditulis dalam aksara Jawa Kuna (Kawi).

Upaya nyata untuk membawa literasi Aksara Jawa Kuna (Kawi) dan Aksara Jawa (Hanacaraka) ke ruang publik di Jawa Timur memang harus terus berkembang, yang tidak hanya terbatas pada pembacaan inskripsi di situs situs, tetapi juga diwujudkan melalui kelas-kelas edukasi budaya, gerakan pelestarian akar rumput, dan bahkan pengusulan Aksara Jawa (Kuna dan Baru) ke UNESCO.

Upaya bersama ini akan semakin masif bila disertai dengan regulasi yang sesuai di setiap daerah. Kota Surabaya sudah memulainya dan Provinsi Jawa Timur mulai tergugah.

Ingat Jawa Timur adalah rumah keberadaan Kerajaan Majapahit yang dikenal dengan literasinya dalam aksara Jawa Kuna (Kawi). Terlalu sayang bila fakta fakta aksara dalam bentuk artefak itu hanya teronggok di museum tanpa ada pemajuan. ((PAR/nng)
