Menulis Bisa Setajam Senjata Trisula dan Cakra.

Budaya, Literasi

Rajapatni.com: SURABHAYA – Seorang sastrawan dan penulis legendaris, Pramoedya Ananta Toer, pernah mengatakan bahwa “menulis adalah alat perlawanan, sarana memanusiakan manusia, dan bentuk bekerja untuk keabadian”. Pramoedya percaya bahwa “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”.

Makna itu bukannya terlalu suudzon atau bergaya mengukir sejarah tetapi lebih ke mencari makna kebaikan bagi manusia.

Dengan kata lain adalah bukanlah sekadar ketenaran, melainkan tentang mewariskan nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan.

 

Giat Menulis

Menulis adalah senjata..Foto: ist

Giat menulis adalah proses disiplin menuangkan gagasan secara rutin tanpa takut salah. Penulis legendaris menekankan bahwa menulis adalah kebiasaan kerja keras, bukan sekadar menunggu inspirasi datang. Kunci utamanya adalah terus menulis dan merevisi secara konsisten.

Sementara itu, giat menulis menurut Chairil Anwar adalah proses kreatif yang intens dan penuh gairah. Menulis sajak baginya tidak bisa dilakukan sekadar lewat. Setiap kata harus digali sedalam-dalamnya melalui proses pertimbangan yang matang: dipilih, dihapus, dibuang, dan dikumpulkan kembali hingga menemukan bentuk yang paling murni dan bertenaga.

Bagi pelopor Angkatan ’45, menulis bukan sekadar merangkai diksi indah, melainkan melibatkan seluruh raga. Menulis dilakukan dengan segenap jiwa, darah, dan keberanian.

Berani menulis adalah berani berekspresi. Berani berekspresi adalah berani mengeluarkan pendapat.

Keberanian untuk menulis adalah pondasi utama dalam menyuarakan gagasan dan pemikiran kritis. Ketika seseorang berani menuangkan ide, ia tidak hanya membagikan perspektif, tetapi juga membuka ruang diskusi yang bermanfaat bagi banyak orang. Maka menulislah!

 

Menulis = Trisula + Cakra

Menulis adalah senjata bagai senjata Trisula milik Dewa Siwa. Menulis diibaratkan seperti Trisula Dewa Siwa karena keduanya (menulis dan trisula) merupakan alat kendali yang kuat. Tiga mata tombak Trisula melambangkan tiga aspek: penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan. Dalam menulis, ketiga aspek ini tercermin dalam kemampuan penulis untuk menciptakan ide, memelihara kebenaran melalui argumen, dan melebur kebodohan atau hal negatif dengan tulisan.

Menulis juga bagai senjata Cakra (senjata Dewa Wisnu), yang berarti bahwa tulisan bisa berputar 108 derajat dan gerigi tajam yang tak terkalahkan. Ini bermakna bahwa tulisan bisa setajam dalam mengiris kebodohan untuk kebenaran, berdampak luas, dan bergerak dinamis menembus batas pembaca. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *