Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Dalam menyambut dan memaknai Hari Jadi Kota Surabaya ke 733 di tahun 2026 ini, ijinkan kami pegiat Aksara Jawa Surabaya secara terbuka mempertanyakan mengapa Sesanti Kota Surabaya yang berbunyi “Berani Menghadapi Bahaya” itu ditanggalkan dari satu kesatuan emblem kota. Secara khusus, tentunya ke pihak terkait Pemerintah Kota Surabaya dan DPRD Kota Surabaya.
Sesanti adalah lambang semangat. Semangat Kota Surabaya adalah berani menghadapi bahaya.yang dalam bahasa Sansekerta nya berbunyi “Çūrab ing Bhaya” atau “Śūra ing Bhaya”. Sesanti yang mirip dengan “Śūra ing Bhaya” adalah milik Kota Kediri yang berbunyi “Djaja ing Bhaja” dan berarti “Kemenangan dalam Bahaya”.
Nama Kota Surabaya dan sesantinya Śūra ing Bhaya terlihat serupa dan mungkin dianggap perulangan nama kota “Surabaya” dan nama sesanti “Śūra ing Bhaya”. Akibatnya nama sesanti Śūra ing Bhaya diduga ditanggalkan.

Padahal nama sesanti Śūra ing Bhaya berbeda dengan nama kota Surabaya yang dilambangkan dengan simbol binatang yang melambangkan teritori Surabaya. Yakni ikan Hiu (laut) dan Buaya (darat dengan sungai sungai).
Sementara nama kotanya Surabaya dengan lambang Hiu dan Buaya. Perlu diingat lambang Hiu dan Buaya bukan bermakna Berani Menghadapi Bahaya. Makna ini diwakili oleh sesanti yang berbunyi Śūra ing Bhaya yang berasal dari kata Śūrabhaya yang bersumber dari prasasti Canggu (1358 M).

Dulu kota (daerah) ini bersama Śūrabhaya atau Çūrabhaya sesuai dengan bunyi suara, yang tertulis pada prasasti Canggu dalam aksara Jawa Kuno.

Karena ada pergeseran ucapan dan tulis, maka kota ini ditulis dan diucapkan Surabaya. Sementara arti dari kata Surabaya (bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno) artinya Buaya Mabuk. Sura = minuman keras yang memabukkan (Sansekerta) dan Baya = buaya (Jawa Kuno)
Perlu diingat bahwa nama adalah doa. Bukan bermaksud untuk mengganti nama kota Surabaya tetapi menggunakan kembali sesanti Śūra ing Bhaya sebagai penyeimbang dari nama kota Surabaya yang kurang baik secara harfiah.
Jadi artikel ini sekaligus surat usulan kepada pemerintah kota baik eksekutif maupun legislatif untuk penggunaan sesanti yang memiliki arti baik itu. (PAR/nng)

Saya mendukung penyertaan sesanti.
Semboyan diperlukan untuk pengingat sekaligus penyemangat.
Jer basuki mawa bea
Jalesveva Jayamahe
Ikhlas Bakti Bina Bangsa Ber Budi Bawa Laksana
Benar matur nuwun. Biar punya arah yang jelas
Benar sekali mas
Embleb jaman dulu jauh lebih bagus daripada yang sekarang. Nilai seni nya lebih tinggi dan filosofi lebih bermakna
Benar mas