Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Ada satu satu data otentik tentang asal usul nama Surabaya. Yaitu data yang tertulis pada sumber primer Prasasti Canggu (1358). Prasasti ini memang menjadi satu-satunya sumber klasik, yang secara jelas dan tegas menuliskan toponimi “Surabaya” (saat itu secara phonetik berbunyi Çūrabhaya). Beda antara bunyi Çūrabhaya dan Surabaya. Perbedaan bunyi ini sekaligus membedakan arti. Çūrabhaya berarti berani menghadapi bahaya. Sedangkan Surabaya adalah buaya minum minuman keras (arak) yang memabukkan alias “buaya mabuk”.
Karenanya Surabaya perlu memiliki bukti otentik yang menjadi dasar dan asal kata, yang menunjukkan arti berani menghadapi bahaya. Asal kata itu (Śūrabhaya) tertulis pada prasasti Canggu.
Prasasti Canggu dikeluarkan pada tahun 1358 M dan menjadi bukti tertulis tertua, yang secara jelas menyebut nama Surabaya (Śūrabhaya) dalam aksara Jawa Kuno (Kawi).
Aksara Kawi merupakan aksara historis turunan Brahmi, yang menjadi standar utama di era Majapahit. Digunakan antara abad ke-8 hingga ke-16, aksara ini lazim ditemukan dalam dokumen resmi, prasasti batu atau logam (seperti Prasasti Canggu), dan naskah kesusastraan lainnya.
Seberapa pentingnya prasasti Canggu untuk Surabaya?

Tentu saja penting, karena ini adalah dokumen tertulis resmi tertua dan sangat penting yang menjadi tonggak sejarah adanya Surabaya. Lempengan ini menjadi bukti otentik pertama kalinya nama Çūrabhaya (Surabaya) disebut dalam sejarah sebagai sebuah desa di tepian sungai (naditira pradeça) yang makmur.
Meski kebanyakan masyarakat Surabaya tidak bisa membaca aksara Jawa kuno (Kawi), setidaknya mereka bisa melihat bagaimana tulisan dari bunyi Śūrabhaya itu tertulis dalam aksara itu (Jawa Kuno).. Tak kenal maka tak sayang. Ungkapan ini tentu saja berlaku untuk prasasti ini.
Prasasti ini perlu dikenalkan secara fisik, meski juga hanya dalam bentuk foto dua dimensi. Syukur jika ada upaya mendapatkan replikanya sehingga Museum Surabaya dapat mengoleksi benda yang tepat. Museum Surabaya bisa menunjukkan sumber asli, yang bermakna berani menghadapi bahaya.
Museum Surabaya memang perlu menunjukkan artefak dan sumber sejarah asli meski replikanya untuk melestarikan filosofi dasar kota, yaitu Sura ing Baya (Śūrabhaya), berani menghadapi bahaya. Bukti autentik ini menguatkan identitas Kota Pahlawan, menumbuhkan rasa bangga, dan menginspirasi generasi masa kini untuk terus meneladani semangat pantang menyerah para pejuang.
Seseorang disebut pahlawan dan pejuang karena keberanian, pengorbanan yang luar biasa, dan jasa-jasa mereka yang tak ternilai dalam membela kebenaran, menegakkan keadilan, atau berjuang demi kepentingan orang banyak.
Berani menghadapi bahaya adalah kata sifat tapi nyata adanya yang diwujudkan dalam perilaku. Diharapkan akan ada pahlawan pahlawan kekinian yang juga diwujudkan dalam bentuk perilaku untuk kebenaran, menegakkan keadilan, atau berjuang demi kepentingan orang banyak.
Di era modern, jiwa kepahlawanan tidak lagi diukur dengan mengangkat senjata, melainkan melalui dedikasi yang konsisten dan berdampak bagi masyarakat. (PAR/nng)
