Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Dewan kebudayaan Surabaya (DKebS) dikukuhkan oleh Walikota Surabaya Eri Cahyadi di kediaman Resmi Walikota Surabaya di jalan. Sedap Malam pada Jumat Petang (15 Mei 2026).

Susunan Kepengurusan lembaga kebudayaan baru berdasarkan UU 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan itu dan bertugas pada periode 2026-2029 adalah Heti Palestina Yunani (Ketua), Probo Darono Yekti (Sekjen), Achmad Zaki Yamani, Bagus Heri Setiadji, Dhany Nartawan, Hery “Lentho” Prasetyo, Heroe Boediarto, Jarmani, Ris Handono, Rojil Nugroho Bayu Aji, Rokim Dakas, Sekar Alit Santya Putri dan Yogi Ishabib. Semua personil ada 13 berdasarkan penjaringan, yang dilakukan secara online.

Demikian kata plt Kepala Dinas Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya, Herry Purwadi, dalam laporan nya di hadapan Walikota dan para hadirin.
Orasi Kebudayaan

Sementara itu Heti Palestina Yunani sebagai Ketua DKebS dalam sambutannya mengatakan bahwa Surabaya bisa menjadi Rumah Kebudayaan, yang menaungi Objek objek budaya sebagaimana diamanatkan dalam Undang Undang 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
“Di dalam Rumah Kebudayaan ini ada 10 kamar, yang masing masing mewadahi objek Kebudayaan” kata Heti dalam orasi budayanya.
Kepada Walikota Heti berharap agar walikota bisa turut mendukung Surabaya sebagai Rumah Kebudayaan sebagai implementasi upaya upaya Pemajuan Kebudayaan.
Heti menambahkan bahwa dalam pemajuan itu, dibutuhkan komunikasi dan dialog dialog yang lebih baik melalui wadah Kebudayaan dengan melibatkan berbagai pihak termasuk dengan jajaran pemerintah sehingga menghasilkan produk yang terbaik untuk Surabaya.

Sementara itu Walikota Eri Cahyadi dalam pengarahannya berpesan agar lembaga kebudayaan DKebS ini bisa menjadi wadah dalam menggali karakter arek Surabaya, yang salah satunya adalah sifat kebersamaan dan gotong royong.
Hak Prerogatif Walikota
Untuk itu, secara teknis Walikota Surabaya Eri Cahyadi juga berpesan kepada PLT Kepala Dinas Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya dan kepada Dewan Kebudayaan Surabaya untuk memanfaatkan ruang ruang kebudayaan demi ekspresi seni dan budaya. Misalnya di komplek Balai Pemuda serta ruang ruang terbuka berupa taman taman kota.

“Gunakan hak prerogatif saya untuk menggunakan ruang ruang budaya demi upaya pemajuan kebudayaan Surabaya”, jelas Walikota Surabaya kepada jajaran Dewan Kebudayaan Surabaya yang baru dikukuhkannya.
“Kalau toh berbayar, itu sifatnya untuk kebersihan”, tambah Walikota sambil memberi isyarat komunikasi kepada PLT Kadisbudporapar Kota Surabaya.
Eri juga menyinggung ruang lingkup Dewan Kebudayaan dalam bekerja dengan mengatakan bahwa budaya bukan hanya seni tapi karakter. Karakter itu perlu digali sehingga bisa menjadi modal dalam pembangunan.
Karakter Surabaya
Karakter arek arek Surabaya adalah berani dan gotong royong. Karakter itu penting. Dalam diskusi bersama salah satu anggota Dewan Kebudayaan Surabaya, Heru Boediarto, bahwa ada sumber sejarah dimana karakter berani dapat ditemukan. Yaitu di prasasti Canggu (1358) yang menyebut nama Śūrabhaya (Çūrabhaya) yang berarti berani menghadapi tantangan/bahaya. Kala itu Śūrabhaya sebagaimana tersebut dalam prasasti adalah sebuah Naditira Pradesa (desa di tepian sungai). Śūrabhaya sebagai nama desa (tempat) juga sebagai kata sifat yang berarti berani menghadapi bahaya. Selanjutnya Śūrabhaya dikenal dengan tulisan Surabaya seperti sekarang ini.
Makna dari kata sifat inilah (berani menghadapi bahaya), yang harus digali kembali sebagai dasar sifat berani, yang menjadi bekal pembangunan Surabaya sekarang dan mendatang.
“Bukan berani dalam arti, yang merugikan pihak lain seperti berani mencuri, tetapi berani, yang berani bertanggung jawab dan memberi makna baik pada orang lain, bukan merugikan orang lain”, tandas Heru.
Cinderamata Buku Sketsa Kota Lama Surabaya.

Usai acara resmi pengukuhan, lalu Walikota Surabaya Eri Cahyadi meluangkan waktu dengan diskusi santai bersama jajaran Dewan Kebudayaan Surabaya. Disela sela itu, Nanang Purwono (Ketua Puri Aksara Rajapatni) memberikan buku yang menjadi produk budaya literasi, yang berjudul “Serial Sketsa Kota Lama Surabaya”, yang ditulis dalam aksara Jawa dan Latin kepada Walikota Surabaya Eri Cahyadi. Penulisan buku ini adalah sebagai bentuk pemajuan aksara tulis tradisional, yang secara historis dan kultural sudah lama ada di Surabaya.
Replika Prasasti Canggu
Kata Surabaya sendiri berasal dari tulisan Aksara Jawa Kuno, yang berbunyi Śūrabhaya (ÇūraBhaya), yang secara leksikal berarti berani menghadapi bahaya.
Barangnya (artefaknya) masih ada dan tersimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta. Karena prasasti itu sebagai sumber sejarah yang otentik, Ketua Puri Aksara Rajapatni pun berpesan kepada Ketua Dewan Kebudayaan Surabaya, Heti Palestina Yunani, untuk meminta duplikat (replika) prasasti ke Museum Nasional Indonesia di Jakarta karena museum hanya bisa melayani lembaga formal di bawah pemerintah.
Dewan kebudayaan Surabaya (DKebS), yang baru dikukuhkan ini, adalah lembaga formal di bawah pemerintah yang akan bekerja secara independen dan profesional. (PAR/nng)
