Kolaborasi Budaya Antar Negara Adalah Bentuk Diplomasi Budaya

Budaya

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Indonesia dan India memang menjalin kerja sama untuk melestarikan dan merestorasi kompleks Candi Prambanan beserta kawasan sekitarnya. Proyek kolaborasi ini menjadi salah satu fokus utama dalam diplomasi budaya kedua negara

 

UHS 2023

Tahun 2023, saya sempat terpilih mengikuti kuliah di Erasmus University Rotterdam, Belanda dalam bidang Urban Heritage Study (UHS 2023). Perkuliahan singkat (Short Course) ini diikuti oleh beberapa negara yang menjadi negara rekan Belanda seperti Indonesia, Australia, Korea, China, India, Pakistan dan negara negara di Eropa dan Afrika.

Kegiatan diskusi cagar budaya di Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda. Foto: dok par

Kegiatan edukasi historis, yang bersifat global ini, disponsori oleh Pemerintah Kerajaan Belanda bersama Cultural Heritage Agency of the Netherlands atau dalam bahasa Belanda disebut Rijksdienst voor het Cultureel Erfgoed (RCE).

Kunjungan arkeologi di pusat RCE Belanda. Foto: dokpar

Program Urban Heritage Strategies (UHS) merupakan program pascasarjana terkemuka di Erasmus University Rotterdam (melalui Institute for Housing and Urban Development Studies – IHS). Program ini membekali para profesional dengan kemampuan untuk menyeimbangkan upaya pelestarian warisan sejarah dan pembangunan perkotaan.

Kunjungan lapangan di situs kota kuno Roma di Nijmegen Belanda. Foto: docpqr

Program ini mengajarkan peserta cara menggunakan berbagai perangkat, seperti pendekatan Historic Urban Landscape (HUL), Heritage Impact Assessments (penilaian dampak terhadap warisan budaya), dan pemanfaatan kembali secara adaptif (adaptive reuse), untuk melestarikan warisan kota sembari tetap memungkinkan adanya pembangunan modern.

Kiat ini menunjukkan bahwa warisan budaya bersifat universal dan dapat dipikul bersama sama yang bersifat internasional. Konsep ini memang mengacu pada Nilai Universal Luar Biasa (Outstanding Universal Value atau OUV) dan Konvensi Perlindungan Warisan Budaya.

Konsep ini menekankan bahwa warisan budaya melampaui batas negara, menjadi milik bersama seluruh umat manusia, dan pelestariannya menjadi tanggung jawab komunitas internasional di seluruh dunia.

Meski UHS 2023 sudah berakhir namun hubungan antar peserta dari berbagai negara itu masih tetap berjalan misalnya komunikasi yang masih dibangun oleh peserta dari Surabaya (Puri Aksara Rajaptni) dan Yolanda dari Australia. Wujud ini menjadi harapan dari RCE agar proses belajar dan aplikasi berkelanjutan dan menjadi jaringan aktif antar negara tetap berjalan.

 

Kerjasama Indonesia – India

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon perkenalkan objek revitalisasi kepada mitra India. Foto: voi

Hal serupa seperti ini adalah yang selama ini dilakukan oleh dua negara Indonesia dan India. Kedua negara sepakat memperkuat kerjasama pelestarian warisan budaya melalui restorasi kompleks Candi Prambanan. Hal ini telah dibahas dalam pertemuan antara Menteri Kebudayaan Indonesia Fadli Zon dan tim restorasi dari Archaeological Survey of India (ASI) pada awal tahun 2026.

Beberapa hari lagi Perdana Menteri India Narendra Modi dijadwalkan akan berkunjung ke Indonesia. Kunjungan singkat dua hari itu (7 dan 8 Juli) diagendakan akan berkunjung ke Jakarta dan Yogyakarta.

Selama di Yogyakarta, PM Narendra Modi bersama rombongan Dubes India untuk Indonesia Shri Sandeep Chakravorty dan tim archeology dari India rencanakan restorasi Candi Prambanan.

 

Diplomasi Budaya

Kerjasama bilateral di bidang budaya. Foto: ist

Restorasi Candi Prambanan bersama Indonesia dan India ini merupakan simbol diplomasi budaya dan warisan sejarah bersama. Kolaborasi ini mengakui akar agama Hindu serta akulturasi yang menghubungkan kedua negara sejak abad ke-9, sekaligus menjadi komitmen bilateral untuk melestarikan situs warisan dunia.ertemuan antara kedua pemimpin negara ini menjadi langkah nyata lanjutan dari kolaborasi kedua negara dalam konservasi situs bersejarah, sekaligus menegaskan komitmen bersama untuk menjaga warisan budaya.

Projek bersama ini menandai eratnya hubungan diplomatik, di mana India memandang pelestarian candi Hindu terbesar di Indonesia ini sebagai bentuk penghargaan terhadap akar spiritual dan sejarah yang mereka bagikan.

Projek ini sekaligus membuka peluang kolaborasi antara para ahli purbakala dan konservator dari India dan Indonesia dalam menangani material batu candi yang rentan terhadap pelapukan. Karenanya India melibatkan Archaeological Survey of India (ASI).

 

Bahasa Sansekerta

Bahasa Sansekerta adalah fondasi historis, yang membentuk jati diri dan kosakata bahasa Indonesia. Bahasa ini berperan sebagai akar dari ratusan kata serapan, dan sekaligus memperkaya leksikon lokal seperti bahasa Jawa Kuno, memperkuat nilai spiritual keagamaan, serta melahirkan semboyan negara (Bhinneka Tunggal Ika) dan istilah pemerintahan yang penting bagi identitas bangsa.

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah bahasa Sansekerta. Foto: wiki

Ada istilah atau semboyan yang bernuansa Sansekerta di Kompleks Parlemen (Gedung MPR/DPR RI). Misalnya Gedung Nusantara (Gedung Utama): Dahulu bernama Grahatama (berarti gedung/rumah yang utama).

• Gedung Nusantara I: Dahulu bernama Lokawirasabha Tama (berarti tempat berkumpulnya para pahlawan/orang-orang besar).

• Gedung Nusantara II: Dahulu bernama Ganagraha (berarti rumah/tempat rakyat).

• Gedung Nusantara III: Dahulu bernama Lokawirasabha.

• Gedung Nusantara IV: Dahulu bernama Pustakaloka.

• Gedung Nusantara V: Dahulu bernama Grahakarana.

• Gedung Setjen DPR: Dahulu bernama Samania Sasanagraha

• Kata “Nusantara” sendiri berasal dari bahasa Jawa Kuno, yang digabung dari dua unsur kata: nusa (pulau) dan antara (luar atau seberang). Kata antara sendiri berakar dari bahasa Sansekerta.

 

Pemajuan Bahasa Sansekerta

Sekarang bahasa Sansekerta bersifat pasif di Indonesia. Artinya bahwa bahasa Sansekerta tersebut tidak lagi digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari (bahasa ibu). Sansekerta kini hanya menjadi bahasa pasif yang berfungsi sebagai bahasa rujukan, sumber kosakata baru, atau bahasa ritual keagamaan.

Apakah salah memperkenalkan kembali bahasa Sansekerta secara aktif? Tidak ada yang “salah” secara etis jika bahasa Sansekerta diperkenalkan kembali, karena ini adalah upaya pelestarian budaya.

Namun, menjadikannya bahasa komunikasi sehari-hari bisa menjadi tantangan besar. Pertimbangannya terletak pada tujuan penggunaannya (untuk pelestarian sejarah/agama vs. komunikasi modern) serta kompleksitas strukturnya.

Bagaimanapun belajar bahasa Sansekerta adalah jembatan dalam membangun pemahaman bersama dan mempererat hubungan dua bangsa khususnya Indonesia dan India. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *