Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon Promosikan Acara Srawung Budaya Aksara Jawa Kuna/Kawi (5/7/26).

Budaya, Aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Dulu mana telur atau ayam? Ayam berasal dari telur. Telur juga berasal dari ayam.

Analogi di atas serupa dengan ibarat aksara dan bahasa. Lebih dahulu mana aksara dan bahasa?

Bahasa memang lahir/ada jauh lebih dahulu daripada aksara. Bahasa lisan telah digunakan manusia purba sejak ratusan ribu tahun lalu, sementara aksara atau sistem tulisan baru ditemukan sekitar 5.000 tahun yang lalu.

Bahasa Lisan (± 50.000 – 150.000 tahun yang lalu) dan berfungsi sebagai alat komunikasi antar manusia purba untuk bertahan hidup.

Sementara Aksara (± 3.000 – 3.500 SM). Aksara pertama kali diciptakan oleh bangsa Sumeria di Mesopotamia (kini Irak) dalam bentuk Aksara Paku untuk mencatat transaksi dan inventaris, bukan untuk percakapan.

 

Apakah Aksara dan Bahasa Sama?

Jadi, apakah aksara dan bahasa itu sama? Jawabannya dengan tegas adalah TIDAK.

Aksara dan Bahasa adalah dua hal yang berbeda. Bahasa adalah sistem komunikasi lisan, yang digunakan untuk menyampaikan makna. Sedangkan aksara (sistem tulis), hanyalah alat visual untuk merekam bunyi bahasa tersebut ke dalam bentuk tulisan.

 

Suatu bangsa yang memiliki aksara dapat disebut sebagai bangsa yang cerdas. Mengapa?

Karena dengan sistem tulisan memungkinkan bangsa itu dapat mendokumentasikan pengetahuan, melestarikan sejarah, dan membangun tradisi keilmuan. Aksara dapat mengubah pengetahuan lisan, yang terbatas menjadi teks yang bisa diwariskan lintas generasi, mendorong inovasi, dan membentuk peradaban yang lebih maju.

 

Nusantara Adalah Bangsa Cerdas

Nusantara adalah salah satu bangsa dunia yang super cerdas karena bangsa ini memiliki beragam aksara. Ada Jawa (Jawa Kuna dan Baru), Bali, Sunda, Lontara, Mandailing dan lainnya).

Aksara juga bisa dikatakan sebagai simbol dan jejak kecerdasan. Mengapa?

Karena aksara memuliki kemampuan kognitif tinggi untuk mengubah bunyi/ucapan (suara) menjadi simbol visual yang bermakna.

Membaca dan menulis adalah fondasi utama dari proses berpikir kritis, bernalar, dan pemecahan masalah. Aksara adalah Dasar Literasi.

Aksara disebut simbol kecerdasan karena ia adalah jembatan yang memungkinkan manusia merekam, mewariskan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Melalui tulisan, ide dan pengalaman abstrak yang dapat diabadikan, dipelajari lintas generasi, serta diolah menjadi inovasi baru yang memajukan peradaban.

 

Mengapa Undang Undang Pemajuan Kebudayaan tidak memasukkan Aksara sebagai Objek Pemajuan Kebudayaan?

UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan tidak mencantumkan aksara secara eksplisit karena dalam penyusunan undang-undang, aksara dikategorikan dan diintegrasikan serta dianggap sebagai bagian integral dari bahasa

Bahasa pada hakikatnya adalah bunyi ujaran. Namun, agar pesan bisa didokumentasikan dan dipahami lintas ruang dan waktu, bunyi tersebut divisualisasikan menggunakan aksara.

Aksara ibarat media cetak untuk menyampaikan isi dari bahasa itu sendiri. Tanpa aksara, bahasa hanya sebatas ucapan lisan yang tidak terdokumentasikan.

Mungkin kita tidak dapat mengenal bahwa pada ratusan tahun lalu pernah ada kudapan Urap Urap. Kita bisa mengenal urap urap karena makanan ini ditulis dalam sebuah prasasti. Yaitu Prasasti Linggasutan, yang berangka tahun 929 Masehi dari masa Kerajaan Medang.

 

Prasasti

Replika prasasti Canggu itu terwujud. Foto: par

Manuskrip sebagai salah satu dari 10 objek Pemajuan kebudayaan harus dimajukan. Salah satu caranya harus mengerti Aksara (bagaimana membaca aksara).

Memahami manuskrip sebagai Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK), menuntut kita untuk bisa membaca dan mengalihaksarakannya (transliterasi). Karenanya, seseorang harus belajar membaca aksara (Jawa, Sunda, Lontara dan lainnya) agar bisa membaca Manuskrip . Lebih fokus lagi jika seseorang secara khusus mau mempelajari paleografi (ilmu membaca tulisan kuno) melalui lembaga resmi, kursus daring, maupun komunitas filologi.

 

Aksara Kawi

Nama Śūrabhaya tertulis dalam aksara Kawi dalam kotak kuning. Foto: nng

Tanggal 5 Juli 2026 akan ada Jagong Budaya mengenai pelestarian Bahasa Kawi. Bahasa ini tidak lagi digunakan dalam keseharian. Untuk bisa mendengar bagaimana bahasa Kawi diucapkan, maka seseorang harus bisa membaca aksara Kawi atau Jawa Kuna sehingga bahasa Kawi bisa didengarkan.

Bahasa Kawi atau Jawa Kuna merupakan warisan budaya penting yang sangat erat kaitannya dengan khazanah kesusastraan dan prasasti kuno Nusantara.

Menteri Fadli Zon Promosikan acara Srawung Budaya Aksara Kawi. Foto: ist

Srawung Budaya Aksara Kawi. Acara Jagong Budaya ini bertepatan dengan kegiatan Srawung Budaya Aksara Kawi yang diinisiasi oleh Yayasan Satria Lelaku Nusantara. Rangkaian acara pelestarian ini diselenggarakan di Gedung MCC (Malang Creative Center), Kota Malang pada 5 Juli 2026.

 

Bunyi dan Aksara Kawi.

Bahasa Kawi (Jawa Kuna) dan Sanskerta memang lazim dituliskan menggunakan aksara Kawi yang merupakan leluhur dari berbagai aksara Nusantara (seperti aksara Jawa dan Bali).

Untuk mendengar bagaimana bahasa ini dilafalkan, seseorang harus merujuk pada peninggalan karya sastra seperti kakawin (puisi bersanjak) yang kini sering didokumentasikan oleh para filolog dan akademisi sastra lalu dibacakan (dilafalkan) sehingga bisa didengar bagaimana bahasa Kawi itu.

 

Bunyi Membedakan Arti

Bahasa itu dapat dengan benar dilafalkan/diucapkan bila seseorang belajar aksara (membaca). Karena bunyi bisa membedakan arti. Pengucapan yang benar dapat dituntun melalui penggunaan aksara.

Misalnya pengucapan yang benar dari kata “Surabaya” bila bermaksud dengan makna sejati (berani menghadapi bahaya), maka harus merujuk pada pengucapan yang benar dan kebenaran pengucapan ini bisa dilihat pada penulisan nya. Yaitu Śūrabhaya atau Çūrabhaya bukan Surabaya.

Inilah pentingnya belajar aksara dan perlunya mengatur pemajuan aksara sebagai objek Kebudayaan dalam upaya memajukan objek budaya lainnya, seperti Manuskrip.

Bagaimana bisa memajukan Manuskrip bila tidak disertai dengan belajar membaca aksara. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *