Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – 1 Juli 2026 upaya panjang mereplikasi Prasasti Canggu sudah terwujud. Upaya ini diawali dari pencarian keberadaan Prasasti di tahun 2022 hingga gagasan mereplika (2023) dan akhirnya terwujudnya replika.(2026)


Berawal dari tahun 2022 dan diketahui masih berada di museum Nasional Indonesia di Jakarta pada April 2023, dan munculnya gagasan mereplika 2023 hingga terwujudnya replikasi pada 1 Juli 2026. Prosesnya juga melibatkan sepengetahuan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Trowulan Jawa Timur dengan tembusan ke Museum Nasional Indonesia (MNI) di Jakarta serta keterlibatan ahli filolog dan epigrafi dari Yogyakarta dan Surabaya sebagai pencermat tulisan.
Tidak ada yang sempurna dan tentu masih ada kekurangan di sana-sini. Namun sudah ada benda fisik meski hanya replika, yang menjadi bahan rujukan asal mula sejarah nama Surabaya sebagai Naditira Pradesa.

Nama Surabaya tertulis dalam aksara Jawa Kuna (atau Kawi) yang berbunyi Śūrabhaya atau Çūrabhaya. Kini tulisan itu bisa dilihat wujudnya pada replika.
“Nantinya replika ini akan disimpan di sebuah tempat yang layak dan menjadi jujugan banyak orang”, terang Nanang, ketua Puri Aksara Rajaptni.
Ini sebagai bahan informasi publik bahwa nama Surabaya bermula dari sumber otentik yang keberadaan bendanya disimpan di Museum Nasional Indonesia (MNI) Jakarta.
“Ini hanya replikanya dengan segala kekurangan yang ada”, tambah Nanang.
“Kira kira menggunakan alat apa ya kala itu, kok bisa menulis di atas logam tembaga. Hasilnya halus dan rapi. Kalau sekarang sih dengan proses kimiawi etching. Tapi kala itu belum ada teknologi dan cara seperti sekarang. Meski membuat cetakannya harus dikerjakan manual yang komputerised. Butuh ketelitian dalam pengerjaan”, kata Cak Soleh, jasa pembuatan prasasti di Surabaya.
Karenanya sebelum diproses kimiawi (etching), hasil desain gambar terlebih dahulu diperiksa dan dicermati oleh ahlinya: Epigrafer dan Filolog. Ada beberapa pencermatan atas tulisan, yang beraksara Jawa Kuna atau Kawi.

Maklum pembuat desain tidak pernah menulis atau menggambar aksara Jawa Kuna, sehingga tidak mengetahui arah goresan.
“Arah goresan mempengaruhi lekuk dan garis aksara. Ini juga mempengaruhi hasil”, kata Christanto Wibisono, budayawan.Surabaya.
Secara umum, di Surabaya telah ada wujud benda sebagai pengganti artefak sebagai sumber primer tentang sejarah Surabaya, yang selama ini disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta.

Replikasi ini dapat menjadi acuan dalam proses pembelajaran lebih lanjut.
“Jika ingin mengetahui lebih jauh dan melihat benda aslinya bisa berkunjung ke Museum Nasional Indonesia di Jakarta untuk tujuan tujuan yang lebih detail. Jika ingin mengetahui isi prasasti, cukup kontak: 1novita.dwi.2007316@students.um.ac.id Abstract”, jelas Nanang
Melalui Prasasti ini, setidaknya dapat diketahui makna sejati Śūrabhaya sesuai dengan makna prasasti.
Berikut spesifikasi Prasasti Asli & Replika.

“Ini upaya menjaga makna filosofi Śūrabhaya”, pungkas Nanang. (PAR/nng)1
