Literasi, Sejarah
Rajapatni.com: SURABAYA – Ada nilai berani dalam memperingati Hari Jadi Surabaya. Jika dikaitkan dengan kisah perlawanan Raden Wijaya bersama rakyat Surabaya pada peristiwa melawan serdadu Tartar pada 31 Mei 1293, disana ada ekspresi keberanian rakyat Surabaya melawan serdadu Tartar.
Peristiwa itu kemudian mengilhami sederet peristiwa yang terjadi berikutnya. Yakni perang Trunojoyo pada 1677, perang Jayapuspita pada 1709-1717, dan perang kemerdekaan 1945 serta upaya berani mempertahankan nilai nilai perjuangan atas hilangnya rumah radio Bung Tomo di jalan Mawar 10 Surabaya (masa sekarang).
Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Surabaya pada 31 Mei 2026 ( ke-733), ada satu nilai yang harus diketengahkan. Yaitu nilai berani, membedah dan mengetengahkan nilai tersebut melalui narasi dalam menghidupkan semangat Bung Tomo di rumah Radio Pemberontakan (Perlawanan) di Jalan Mawar 10 – 12 Surabaya.
Sayang, rumah bersejarah itu telah dibongkar pada 2016. Untuk menegakkan kembali nilai yang terkandung di dalamnya, sebuah narasi dalam bentuk buku, yang menjadi hasil reportase lapangan sekelompok jurnalis Surabaya, akan segera hadir. Buku ini turut menjaga ingatan kolektif bangsa yang terukir di Surabaya melalui situs Mawar 10.

Buku itu memuat aksi aksi dalam mengingat dan menegakkan memori kolektif yang berangkat dari situs Mawar 10 Surabaya. Yaitu melalui aksi jurnalistik dan aksi kreatif siswa yang mendesain dan memproduksi radio model jadul yang bermerek “Radio Bung Tomo” hasil karya siswa SMKN 12 Surabaya.

Baik karya jurnalistik maupun Radio Bung Tomo itu adalah upaya bersama dalam menjaga dan melestarikan nilai berani Bung Tomo dan fungsi radio di zamannya ketika mempertahankan kedaulatan bangsa pada perang 10 November 1945.
Nilai berani Bung Tomo (1945) dan upaya bersama menjaga nilai berani (sekarang) adalah wujud keberanian dalam memaknai peringatan Hari Jadi Kota Surabaya ke 733. Kejujuran dalam menjaga sejarah adalah keberanian dalam proses perjuangan.
Kejujuran dan keikhlasan memang pilar utama dalam merawat sejarah. Tanpa keduanya, sejarah rentan diputarbalikkan menjadi sekadar alat kepentingan. Sebaliknya, menjaganya dengan integritas penuh membutuhkan keberanian besar, karena kebenaran seringkali harus menghadapi tantangan dari berbagai sudut pandang dan kepentingan zaman.
Buku dan radio adalah buah keberanian di era kekinian dalam mengisi kemerdekaan. Buku dan radio ini memang tetap menjadi “buah keberanian”, yang relevan di era digital saat ini. Keduanya menjadi sarana penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan merawat persatuan melalui literasi serta penyebaran informasi yang menjangkau hingga ke pelosok daerah. (PAR/nng)
