Budaya, sejarah
Rajapatni.com: SURABAYA – Objek Aksara dalam Raperda hilang. Itulah pesan singkatnya. Barangkali Raperda Pemajuan Kebudayaan dan Nilai Kejuangan serta kepahlawanan Surabaya, yang didasari oleh local wisdom “Aksara” tidak begitu dipahami oleh siapapun di pemerintah kota Surabaya, yang menangani Raperda itu.
Objek Aksara sebagaimana yang menjadi dasar Raperda Inisiatif Dewan bukanlah satu jenis aksara saja. Tapi aksara secara umum yang disebut aksara Nusantara. Secara historis aksara Nusantara adalah aksara yang pernah digunakan dan pernah ada di Surabaya dan Indonesia sebagai identitas bangsa.
Berdasarkan data sejarah dan temuan tim sebelum menginisiasi Raperda pada 2020 adalah bahwa aksara yang yang dimaksud meliputi Aksara Jawa, Kawi (Kuno), Pegon, Hanzi, Jepang dan lainnya yang potensi ada.
Secara historis keberagaman aksara, yang pernah ada di Surabaya, menunjukkan bahwa Surabaya sudah lama menjadi titik temu keberagaman kebangsaan dan suku bangsa.
Aksara sebagaimana dalam Raperda itu termasuk diantaranya aksara Hanzi China juga, yang dengan bangga disambut sangat baik oleh warga keturunan etnis Tionghoa. Coba datang ke Kembang Jepun Surabaya, aksara Hanzi menjadikan kawasan itu bagai Beijing. Kembang Jepun adalah Surabaya, yang dikenal Si-Shui 泗水
Sementara Surabaya, yang menjadi rumah bumiputera, penuh sesak ditumbuhi oleh aksara asing (latin). Aksara Nusantara kering kerontang. Salut dengan warga keturunan Tionghoa, yang dengan sadar mau menggunakan aksara tradisionalnya di era modern ini
Perlu diingat dan disadari bahwa Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) sengaja dibentuk sebagai instrumen otonomi daerah untuk mengatur kekhasan, potensi, dan kearifan lokal yang belum atau tidak diatur secara spesifik dalam undang-undang nasional.
Apalagi Aksara, yang menjadi landasan inisiasi Raperda ini, justru dihilangkan. Dihilangkan. Dihilangkan. Ini sudah terbukti karena dalam draft untuk sosialisasi pada Rabu (20/5/26) lalu tidak ada narasi (kalimat, kata hingga huruf) yang mengacu pada upaya pemajuan objek Aksara.
Menurut pandangan komunitas Puri Aksara Rajapatni Surabaya, siapapun mereka, yang menangani Raperda di lingkungan pemerintah Kota Surabaya ini, tidak paham sejarah Surabaya. Aksara adalah sejarah Surabaya. Asal nama kota Surabaya sendiri asalnya tertulis dan bersumber dari penulisan aksara (Kawi). Lihat Prasasti Canggu (1358 M).

Dijamin mereka tidak tahu sejarah itu. Aksara yang dimaksud bukanlah satu aksara tertentu saja. (PAR/nng)
