Hari Literasi Internasional: Jangan Sampai Generasi Masa Depan Tercerabut dari Akar Budaya Bangsa. 

Budaya, Aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Hari Literasi Internasional (International Literacy Day/ILD) atau Hari Aksara Internasional/Sedunia atau Hari Melek Huruf Internasional, yang diperingati setiap tanggal 8 September, merupakan hari yang diumumkan oleh UNESCO pada 17 November 1965 sebagai peringatan untuk menjaga pentingnya melek huruf bagi setiap manusia, komunitas, dan masyarakat. Setiap tahun, UNESCO mengingatkan komunitas internasional untuk selalu dalam kegiatan belajar. Hari Melek Huruf/Aksara Internasional ini yang diperingati oleh seluruh negara di dunia.

Hari Aksara Internasional 2026.Foto: ist

Tak terkecuali di Indonesia. Indonesia memiliki huruf atau Aksara asli (bukan impor) dari negara lain. Aksara asli Indonesia adalah aksara yang umum disebut Aksara Nusantara yang ragamnya terdiri dari Aksara Jawa, Bali, Sunda, Lontara, dan Batak serta Lampung.

Bukti dan fakta faktanya sangat banyak sebagaimana ditemukan yang kini banyak tersimpan dalam museum baik itu berupa prasasti dan manuskrip. Apakah aksara Nusantara itu mati? TIDAK. Aksara Nusantara masih ada. Nenek moyang Nusantara ratusan tahun lalu menggunakan aksara aksara itu yang buktinya berupa prasasti dan Manuskrip.

Aksara Nusantara itu ada jauh sebelum Aksara Latin dibawa bangsa Eropa ke Nusantara dan sekarang generasi sekarang terlalu banyaknya yang tidak mengerti Aksara Nusantara. Salah satunya Aksara Jawa. Apakah masyarakat Surabaya masih kenal dan bisa menulis dan membaca aksara Jawa?

Setidaknya di tempat tempat publik sudah digunakan aksara Jawa sebagai signage di perkantoran pemerintah Kota Surabaya. Penggunaan aksara Jawa itu masih bersifat dekoratif. Hanya sekedar bisa dipandang mata. Belum secara komprehensif sebagaimana diharapkan oleh UNESCO agar kita bisa mendapatkan pengetahuan dari apa yang ditulis dalam aksara Jawa.

Manuskrip beraksara kuno menyimpan berbagai ilmu pengetahuan, mulai dari filosofi kehidupan, sejarah peradaban, sistem pengobatan tradisional, hingga ajaran keagamaan. Tidak lupa juga menyimpan karya sastra klasik, bentuk puisi tradisional, mitologi, hingga cerita rakyat.

Tanpa mengenal (bisa membaca), kita tidak bakal mengerti ilmu ilmu nenek moyang itu atau kita terputus dari akar sejarah atau yang bisa memahaminya justru orang mancanegara.

Ketika banyak manuskrip penting asal Jawa masih disimpan di the British Library dan Museum di London, jangan salahkan mereka. Mereka punya ahli yang bisa membaca Manuskrip dan kemudian ilmunya diserap mereka, bukan orang orang Indonesia.

Ketika kita memperingati Hari Aksara Internasional, kita harus menyadari sudah kenalkah kita dengan aksara sendiri?

Karenanya komunitas budaya Surabaya, Puri Aksara Rajapatni, dengan getol berupaya mengenalkan kembali pentingnya aksara sendiri. Menggunakan dan melestarikan aksara sendiri, seperti aksara tradisional Nusantara, sangat penting untuk menjaga identitas budaya, memahami sejarah leluhur, dan memperkaya kebanggaan bangsa.

Jangan sampai generasi muda Indonesia terputus dari akar budayanya. Generasi muda Indonesia harus dijaga agar tidak terputus dari akar budayanya melalui penguatan pendidikan karakter, pemanfaatan teknologi digital untuk promosi budaya, serta pelibatan anak muda dalam kegiatan seni dan tradisi lokal.

Itu semua menjadi tanggung jawab kita (pemerintah, swasta, akademisi, pegiat dan lainnya). Jangan Sampai Generasi Masa Depan Tercerabut dari Akar Budaya Bangsa. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *