Sejarah
Rajapatni.cm: ŚŪRABHAYA – Ada kisah sejarah terkait upaya mempertahankan kedaulatan wilayah yang cukup menarik. Terjadinya sudah cukup lama. Yaitu pada 18-20 Juni 1812 M pada masa pendudukan Pemerintah Inggris di Jawa. Sudah lebih dari 200 tahun (dua abad).
Peristiwanya hampir dilupakan. Kiranya perlu penanda untuk menjaga ingatan kolektif. Peristiwa itu dikenal dengan nama Geger Sepehi (Sepoy).
Geger Sepehi (atau Geger Sepoy) adalah peristiwa penyerbuan dan pengepungan terhadap Kraton Yogyakarta oleh pasukan gabungan Inggris di bawah pimpinan Kolonel Robert Rollo Gillespie di bawah kekuasaan Thomas Stamford Raffles pada tanggal 18–20 Juni 1812. Nama peristiwa ini merujuk pada pasukan Sepoy, yaitu tentara bayaran asal India yang dibawa oleh Inggris (EIC).
Peristiwa itu menjadi sejarah kelam dimana pasukan Inggris di bawah pimpinan Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles menyerbu keraton dan merampas harta, serta menggulingkan Sri Sultan Hamengkubuwono II.
Penyerbuan Dan Penjarahan Keraton
Raffles mengerahkan sekitar 1.200 prajurit, termasuk tentara bayaran Sepehi (Sepoy) dari India, dan membombardir keraton dengan meriam selama dua hari di luar benteng Baluwerti.
Benteng Baluwarti (atau sering disebut Beteng Kraton) adalah dinding pertahanan besar yang mengelilingi kawasan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, tempat tinggal Sultan, kerabat, dan abdi dalem. Dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I dan disempurnakan oleh Hamengku Buwono II, kawasan di dalamnya kini dikenal sebagai wilayah Jeron Beteng.
Akibat serangan yang intensif kala itu pertahanan keraton, yang saat itu melemah akibat konflik internal keluarga, dimanfaatkan secara penuh oleh pihak Inggris untuk melakukan invasi total.
Keraton pun tekuk lutut dan prajurit Inggris menginvasi keraton. Sebelum penjarahan besar-besaran dimulai, Sultan Hamengkubuwono II beserta keluarga kerajaan diperlakukan secara kasar dan hina, lalu digiring keluar dari istana.
Kemudian barang dan aset seperti ratusan Naskah Kuno, ribuan manuskrip berharga, naskah sastra, dan arsip penting keraton diangkut dan dirampas. Sebagian besar naskah tersebut kini disimpan di luar negeri, termasuk di British Museum.

Harta kekayaan fisik lainnya meliputi: uang tunai, emas, permata, serta berbagai benda pusaka keraton yang bernilai sejarah tinggi, dirampok habis habisan.
Akibatnya, bagi masyarakat Jawa, peristiwa ini bukan sekadar kekalahan perang, melainkan guncangan budaya yang dahsyat karena pusat kedaulatan dan poros dunia lokal diobrak-abrik oleh kekuatan asing.
Harta Karun Dijarah
Setelah peristiwa penyerbuan dan penjarahan Keraton Yogyakarta (Geger Sepehi) pada 20 Juni 1812 oleh pasukan Inggris di bawah Thomas Stamford Raffles, harta benda, uang perbendaharaan, pusaka, dan naskah kuno diangkut keluar keraton, sebagian dikumpulkan di Benteng Vredeburg, lalu dibawa ke luar negeri terutama ke Inggris.

Lokasi Penyimpanan Barang Rampasan selanjutnya dan hingga sekarang adalah:
British Library (London, Inggris): Tempat penyimpanan ribuan naskah kuno, arsip, dan manuskrip penting milik Keraton Yogyakarta yang dijarah pada masa Raffles.

British Museum (London, Inggris): Sebagian benda budaya dan artefak jarahan disimpan di lembaga ini.
Koleksi Pribadi & Yayasan: Sejumlah naskah dan barang berharga juga jatuh ke tangan pejabat Inggris saat itu seperti Colin Mackenzie dan John Crawfurd, yang sebagian kemudian dijual atau diserahkan ke lembaga-lembaga di Inggris
Diasingkan
Setelah diturunkan dari tahta akibat sikap kerasnya menentang kekuasaan kolonial (oleh Daendels pada 1811 dan Raffles pada 1812), Sultan Hamengkubuwono II mengalami pengasingan ke luar pulau, yaitu Penang.
Di Pengasingan pulau Penang ini berjalan sejak 1812 hingga 1815 lalu dipulangkan ke Jawa dan memimpin Kesultanan untuk kali kedua. Tapi kembali diasingkan ke Ambok sejak 1817 hingga 1826 karena pihak Belanda memandangnya sebagai ancaman besar bagi stabilitas politik. Ia dibuang ke Ambon bersama rombongannya.
Pada tahun 1826, Belanda memutuskan memulangkannya dari Ambon dan mengembalikannya ke tahta sebagai sultan untuk ketiga kalinya (bergelar Sultan Sepuh) di tengah kecamuk Perang Jawa, sebelum akhirnya wafat pada 3 Januari 1828.
Pegang Tahta
Hamengku Buwono II Sempat menjadi raja sebanyak tiga periode berbeda (1792–1810, 1811–1812, dan 1826–1828).
Periode Pertama (1792–1810): Naik tahta menggantikan ayahandanya, Sri Sultan Hamengkubuwono I. Pada masa ini, ia bersikap tegas dan menentang intervensi asing, yang kemudian berujung pada pemaksaannya turun takhta oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.
Periode Kedua (1811–1812): Kembali naik takhta ketika kekuasaan beralih ke tangan Inggris. Namun, masa pemerintahan ini sangat singkat karena ia kembali diturunkan oleh Thomas Stamford Raffles.
Periode Ketiga (1826–1828): Dipanggil dan diangkat kembali pada masa pecahnya Perang Jawa untuk membantu meredakan situasi. Ia memerintah hingga wafat dalam usia senja pada 3 Januari 1828. (PAR/nng)
