Berbagi Tentang Pendidikan Karakter Praktis di Tiongkok.

Budaya, Karakter

Rajapatni.com: SURABAYA – Di ruas ruas jalanan di kota Guangzhou, Tiongkok dan secara umum di negeri Tirai Bambu ini, khususnya di kota kota yang menyandang kota modern, smart city, semakin sulit melihat sampah berserakan, seperti potongan kertas dan plastik.

Pemandangan jalanan, yang bersih dari sampah plastik atau kertas, kini menjadi standar, bukan lagi pengecualian, berkat kombinasi teknologi canggih, manajemen yang ketat, dan peningkatan kesadaran masyarakat.

Ita Surojoyo menyusuri jalanan di Guangzhou mencari serpihan kertas dan plastik tidak menemukan. Jalanan bersih dari sampah. Foto: IS

Demikian pengamatan secara langsung oleh Ita Surojoyo dari Komunitas budaya, Puri Aksara Rajapatni, Ita Surojoyo di Guangzhou, Tiongkok dalam rangka berlibur sambil menyelam minum air: mengamati perilaku warga sebagai cerminan budaya.

Petugas pengambil sampah dengan bajaj yang bersih. Foto: IS

Setiap hari Ita selalu jalan jalan kaki untuk untuk lebih dekat mengenal lokasi yang dikunjungi. Ini menjadikan tempat tempat itu at heart.

Trotoar bersih bebas dari sampah. Foto: IS

“Places at heart” adalah frasa bahasa Inggris yang secara harfiah berarti “tempat-tempat di hati”, yakni tempat tempat yang membawa dan memberi kenangan secara emosional. Tentu ini karena suasana diproses dengan pengamatan yang bersifat dan berbasis kultural. Yaitu pengamatan yang memang dikaitkan dengan kacamata budaya: mempelajari budaya setempat.

Petugas kebersihan berseragam mengumpulkan sampah dengan sepeda listrik. Foto: IS

Frasa “places at heart” (tempat-tempat di hati) memang merujuk pada ikatan emosional mendalam terhadap lokasi tertentu (meski baru) yang sering kali terbentuk dari pengamatan berbasis budaya (cultural-based observation). Dari pengalaman dan pengamatan oleh Ita ini bukan semata menjadi pelajaran pribadinya (self oriented learning) tetapi menjadi jendela juga bagi orang lain untuk belajar dari kacamata (sudut pandang) Ita selama di Tiongkok.

Kios majalah dan surat kabar yang bersih dari sampah. Foto: IS

Sudut pandang Ita ini bersifat universal. Bahwa emosi yang diungkapkan oleh Ita Surojoyo ini, seperti senang, sedih, marah, takut, dan mungkin jijik, layak diekspresikan dan dikenali kepada semua orang. Inilah education for all.

Anak anak TK belajar menjaga kebersihan. Foto: ist

Secara kultural anak anak di Tiongkok sejak dini sudah diajarkan menjaga kebersihan. Pembiasaan ini dilakukan melalui pendekatan praktis sejak usia dini (TK), yang berfokus pada kemandirian, keterampilan hidup, dan tanggung jawab personal. Metode ini mencakup kebersihan diri, seperti cara membersihkan diri ke toilet, serta membersihkan lingkungan kelas.

Sarana umum berupa toilet untuk wanita. Foto: IS

Ini adalah Pendidikan Karakter yang sudah mulai difokuskan pada mengajarkan tanggung jawab agar anak lebih percaya diri dengan kemampuan praktisnya.

Kebersihan diri dimasukkan sebagai bagian dari materi pelajaran sekolah, memastikan pemahaman mendalam tentang kebersihan sejak dini. Itulah pengamatan oleh Ita Surojoyo di Guangzhou Tiongkok. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *