Sumpah Budaya Berjalan Khidmat.Di Bangsal Panca Walika.

Budaya

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Untaian kata dalam teks Naskah Budaya dibacakan dengan nada mantap dan tegas oleh budayawan Kristanto Wibisono di Bangsal Panca Walika Universitas Wijaya Kusuma Surabaya pada Minggu (25/10/26)

Kristanto Wibisono memimpin ikrar Budaya . Foto: IS

Pembawaan itu memiliki arti dan makna psikologis serta pesan mendalam, baik bagi pembaca maupun pendengarnya yang mengikuti prosesi sumpah.

Arti utama dari pembacaan sumpah dengan nada tersebut adalah adanya:

Naskah Ikrar/Sumpah Budaya..Foto:par

Keyakinan dan Tekad yang Kuat: Menunjukkan bahwa pembaca tidak ragu-ragu dan memiliki komitmen penuh terhadap setiap kata yang diucapkan.

Wibawa dan Tanggung Jawab: Memberikan kesan sakral, serius, dan memperlihatkan kesiapan untuk memikul amanah atau janji yang diucapkan.

Menumbuhkan Semangat (Jiwa Nasionalisme): Nada yang mantap dapat mengobarkan semangat, membangkitkan rasa nasionalisme, dan mengarahkan emosi positif para pendengarnya.

Ketegasan Sikap: Menandakan adanya keteguhan hati untuk membela, menjalankan, dan mempertahankan isi sumpah tersebut dalam kondisi apapun.

Itulah ekspresi jiwa yang tertaut dalam Bangsal Panca Walika Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Mereka terbungkus dalam semangat Kewijayaan (Dyah Wijaya, Raja pertama Majapahit) yang mendukung semangat upaya melestarikan budaya Nusantara melalui acara lomba menulis aksara Jawa.

Pembacaan teks dipimpin oleh budayawan Kristanto Wibisono, diikuti secara khidmat oleh seluruh peserta dan hadirin yang serentak berdiri.

Sumpah Budaya (2026) ini adalah upaya memberlanjutkan (kontinuitas) pesan Sumpah Palapa (1336) dan Sumpah Pemuda (1928).(PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *