Film ŚŪRABHAYA, Sebuah Impian.

Budaya, Sejarah

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Mimpi boleh saja lebih berani daripada kasunyatan (kenyataan).

Tetapi mimpi haruskan menjadi dasar tindakan nyata agar sembada. Mimpi setinggi langit adalah langkah pertama, tetapi tindakan nyata adalah penentunya. Kalimat ini sangat mendalam dan mencerminkan filosofi hidup yang kuat: visi yang besar (mimpi) tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya eksekusi yang selaras agar menjadi sembada (sesuai antara ucapan/impian dengan kenyataan, berbobot, atau mampu mewujudkannya).

Ketika impian yang berani disatukan dengan tindakan nyata, berarti kita sedang membangun jembatan untuk mengubah hal yang mustahil menjadi keseharian.

Menatap hal yang awalnya mustahil itu sangatlah menantang. Ini adalah langkah awal untuk mengubah ketidakmungkinan menjadi sebuah pencapaian nyata.

Memvisualkan Śūrabhaya..Foto: chrost

Mimpi mendokumentasikan Surabaya, yang tidak hanya gemerlapnya metropolitan, tapi justru gelapnya sudut pedesaan di pinggiran kali purba, Kalimas (Kali Surabaya).

 

Kali ini sudah ada ratusan tahun.

sedang merencanakan sebuah dokumentasi visual dan naratif yang jujur, mengangkat sisi humanis yang sering kali tenggelam di balik bayang-bayang gedung pencakar langit.

Kalimas (Kali Surabaya) bukan Ya, sedang ada upaya mendokumentasikan Surabaya yang berdasar pada sungai. Kalimas tidak sekadar aliran air; ia adalah saksi bisu peradaban yang membelah kota ini sejak zaman Kerajaan Majapahit hingga masa kolonial VOC. Mendokumentasikan kehidupan pinggiran kali purba ini berarti upaya merekamdenyut nadi sejarah yang terlupakan.

 

Kontras Visual (Metropolitan vs. Marginal)

Mereka adalah tulang punggung. Foto: Christ

Komposisi Foto/Video: Film ini memperlihatkan latar belakang gedung tinggi Surabaya yang gemerlap (seperti di kawasan pusat kota), namun dengan foreground (bagian depan) aktivitas warga pinggiran kali yang sedang memancing, atau anak-anak yang bermain di bantaran sungai.

Manfaatkan waktu golden hour (pagi hari atau menjelang magrib) untuk menangkap siluet pemukiman, memberikan kesan dramatis sekaligus melankolis pada “kegelapan” sudut “pedesaan” tersebut.

 

Isu Lingkungan 

Ekosistem yang terancam. Film ini juga merekam bagaimana kotoran sungai dan limbah industri perlahan mengubah warna air sungai yang berusia ratusan tahun ini.

 

Edukasi

Mengangkat pula bagaimana sungai dan sekitar sungai menjadi ruang pembelajaran sejarah, peradaban dan kebudayaan demi menjaga identitas Surabaya. Misalnya tentang asal usul nama Surabaya didapatkan.

Kalimas (Kali Surabaya) adalah bagian dari kemaritiman Majapahit. Ia adalah pintu gerbang dan jalur air utama Kerajaan Majapahit pada abad ke-13 hingga ke-14.

Karena itulah beberapa des así tepian sungai (Naditira Pradeça) dianugerahi Sima oleh Raja Hayam Wuruk, termasuk Desa Śūrabhaya, yang kini menjadi Kota Surabaya.

Ada nilai berani (keberanian) yang tersimpan pada kata Śūrabhaya yang nantinya akan dimaknai dalam film ini. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *