Literasi Kejuangan dan Kepahlawanan Hadir di Surabaya oleh Puri Aksara Rajapatni.

Budaya, Sejarah

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – 1 Oktober adalah tanggal baru dalam menandai masuknya bulan Bahasa dan Sastra. Guna menandai bulan tersebut, secara nyata Puri Aksara Rajapatni Surabaya terus bergiat melalui wadah literasi. Sebuah buku baru yang mengangkat nilai Kejuangan dan Kebudayaan segera hadir dengan judul “Patriotisme Hamengkubuwana II Demi Kedaulatan Budaya dan Bangsa”.

Buku ini merupakan catatan yang mengungkapkan peristiwa Geger Sepoy (Sepehi) pada 1812 ketika serdadu Inggris di bawah Thomas Stamford Raffles (1811-1816) berkuasa di Jawa, Hindia Belanda.

Buku ini sekaligus sebuah historiografi tradisional Jawa yang mencatat peristiwa penyerbuan Keraton Yogyakarta (Geger Sepehi) pada 18-20 Juni 1812 oleh pasukan Inggris dan tentara Sepoy (India) di bawah pimpinan Kolonel Robert Rollo Gillespie atas perintah Thomas Stamford Raffles.

Sebuah catatan epik tentang bagaimana Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono II, tidak mau tunduk atas dominasi asing mulai Daendels (Belanda) hingga Raffles (Inggris).

Sri Sultan Hamengku Buwono II bahkan mempertahankan tata Krama Keraton atas kehendak asing agar setidaknya perwakilannya bisa duduk sejajar dengan Raja. Permintaan itu ditolaknya hingga terjadi penyerbuan dan penjarahan atas seisi Keraton.

Sikap tegas Sri Sultan Hamengku Buwono II dalam mempertahankan martabat dan tata krama Keraton Yogyakarta itu merupakan salah satu pemicu utama peristiwa tragis yang dikenal sebagai Geger Sepehi (atau Geger Sepoy) pada Juni 1812.

Ketika Thomas Stamford Raffles menjabat sebagai Letnan Gubernur Jenderal Inggris di Jawa, ia membawa kebijakan baru yang menuntut agar kedudukan perwakilan Inggris (Residen) diakui sejajar atau bahkan lebih tinggi daripada Sultan.

Raffles menginginkan agar saat pertemuan resmi, Residen Inggris dapat duduk di kursi yang sama tingginya dengan takhta Sultan, sebuah tradisi yang melanggar adat istiadat dan merendahkan kedaulatan Keraton.

Sultan Hamengku Buwono II secara tegas menolak mentah-mentah tuntutan tersebut demi menjaga kehormatan takhta dan rakyatnya. Penolakan ini membuat pihak Inggris meradang. Ketegangan yang memuncak akhirnya berujung pada penyerbuan total oleh pasukan Inggris dan tentara bayaran Sepoy (Sepahi) asal India ke Keraton Yogyakarta.

Hingga kini harta benda hasil jarahan itu dijadikan koleksi oleh beberapa institusi resmi di Inggris yang diantaranya adalah the British Library dan the British Museum. Koleksi asal Jawa (Indonesia) adalah nilai keaslian yang menjadi kekuatan perpustakaan Inggris.

Surabaya, yang dikenal sebagai Kota Pahlawan, dan berangkat dari nilai Kejuangan dan Kepahlawanan itu menghargai perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono II dalam menentang kedatangan Inggris. Peristiwa itu serupa dengan kedatangan Inggris ke Surabaya pada 25 Oktober 1945 yang akhirnya pecah Perang Surabaya pada 10 November 1945, sebagai dasar peringatan Hari Pahlawan Nasional.

Coming soon. Foto: par

Lagi lagi bulan Oktober ini menjadi bulan bersejarah sebagai pengingat melalui karya literasi. Yaitu buku “Patriotisme Hamengkubuwana II Demi Kedaulatan Budaya dan Bangsa”.

Semoga buku ini dapat menambah keteguhan dalam menjaga kedaulatan bangsa. Buku ini didukung oleh Musee ID, sebuah entitas Konsultan Museum yang berkantor di Jakarta yang sekaligus afiliasi dengan ICOM CECA (International Committee for Education and Cultural Action under the International Council of Museums (ICOM). (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *