Lomba Nulis Aksara Jawa Bagi Pegiat Budaya Dalam Bulan Bahasa dan Sastra.

Budaya Aksara

Rajapatni.com : ŚŪRABHAYA – Bahasa memiliki kaitan erat dengan Aksara. Bahasa dan Aksara memiliki kaitan erat dengan sastra. Dalam menyambut bulan Bahasa dan Sastra mendatang (Oktober) lahir sebuah gagasan sebuah lomba menulis Aksara Jawa untuk para pegiat budaya se Jawa Timur.

Masjid Kemayoran Surabaya. Foto: ist

Gagasan itu lahir dari masjid bersejarah Surabaya, Masjid Kemayoran Surabaya melalui musyawarah singkat. Yaitu musyawarah singkat di Masjid Raudhatul Musyawarah (Masjid Kemayoran) Surabaya pada Minggu siang (6/9/26). Hasil musyawarah singkat itu adalah gagasan cemerlang dalam meramaikan Bulan Bahasa dan sastra pada Oktober mendatang.

Gagasan cemerlang ini adalah penyelenggaraan lomba menulis aksara Jawa bagi kalangan dan pegiat budaya dari segala usia se Jawa Timur. Gagasan ini diinisiasi bersama oleh tiga komunitas: Puri Aksara Rajapatni, Pasopati Cakra Nusantara dan Komunitas aksara Jawa, Kota Raja, Gresik

Gagasan menarik ini menjadi ajang latih dan ajar bagi internal pegiat budaya, khususnya Jawa. Ketika berkaitan dengan budaya Jawa, maka sesungguhnya juga tidak lepas dari aksara Jawa karena dari balik sastra Jawa yang berupa manuskrip dan kitab kitab kunonya tersimpan makna dan falsafah Jawa.

Aksara Jawa bukan sekadar alat tulis, melainkan sebuah sistem pralambang yang menyimpan falsafah hidup, spiritualitas, dan pandangan semesta (kosmologi) masyarakat Jawa. Setiap huruf dalam deretan Hanacaraka memiliki makna mendalam yang merefleksikan perjalanan jiwa manusia.

Maka ajang lomba menulis aksara Jawa nanti menjadi jembatan untuk memperkaya nilai nilai Kejawen (Jawa), meski secara fisik hanya sekedar berupa menulis atau menyalin teks beraksara Jawa yang telah disiapkan.

Setidaknya lomba ini menjadi cara agar sebagai orang Jawa atau pegiat budaya Jawa bisa ikut turut menggores (membentuk) tulisan aksara Jawa” kata Nanang Purwono, ketua Puri Aksara Rajapatni.

Menulis atau menyalin aksara Jawa dalam lomba nanti tidak begitu sulit, hanya menyangkut keindahan, kerapian, keajegan tulisan, keterbatasan dan gaya tulisan.

Bagus Mpu Batu dari Yayasan Pasopati Cakra Nusantara setuju dengan pernyataan Nanang dan lomba ini menjadi ajang bersama untuk meneguhkan dalam menjaga dan melestarikan aksara Jawa.

Menulis bersama dalam ajang lomba itu menjadi aksi nyata bersama oleh para pegiat budaya se Jawa Timur dalam memperkenalkan kembali budaya literasi tradisional Aksara Jawa.

Ilustrasi. Foto: republika

Sementara itu Ali Topan dari komunitas aksara Jawa Kota Raja Gresik mengusulkan agar nuansa gerakan pemajuan kebudayaan Jawa ini tampak maka para peserta wajib berdresscode ala Jawa. Yaitu mengenakan atribut Jawa seperti lurik atau Surjan dan berikat kepala baik blangkon ataupun udeng. Begitu pula bagi peserta putri yang harus mengenakan kebaya Jawa.

Karena diselenggarakan di Surabaya, maka ada nilai nilai kesurabayaan yang diangkat. Misalnya sejarah Surabaya. Nilai ini akan menyatu dengan materi teks beraksara Jawa yang akan ditulis atau disalin dalam lomba menulis aksara Jawa nanti.

Ketiga komunitas: Puri Aksara Rajapatni, Yayasan Pasopati Cakra Nusantara dan Komunitas aksara Jawa, KotaRaja, Gresik masih akan terus mematangkan konsep dalam rangka mempersiapkan datangnya bulan bahasa dan sastra pada Oktober 2026.

 

Esensi Lomba

Lomba adalah cara dalam upaya pemajuan budaya aksara Jawa, yang esensi lebih lanjut adalah:

• Latih dan Ajar Aksara Jawa

• Pernyataan sikap dalam menjaga dan melestarikan Aksara Jawa melalui aksi lomba.

• Meneguhkan Jati diri Bangsa dan Budaya Jawa.

Lomba adalah upaya penyatuan kekuatan yang selama ini terpencar di sudut sudut Provinsi. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *