Budaya Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Aksara Jawa kini tengah menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan eksistensinya di tengah arus modernisasi dan digitalisasi. Sebagai salah satu warisan budaya adiluhung bangsa Indonesia, ortografi tradisional ini tidak lagi sekadar menjadi catatan sejarah, melainkan simbol identitas yang berjuang keras untuk tetap relevan bagi generasi muda.
Meskipun zaman dan peradaban terus berubah, berbagai upaya nyata harus terus dilakukan untuk memastikan Aksara Jawa tidak punah.
Bagaimana Menjawab Tantangan Zaman?
Melalui kolaborasi komunitas dan institusi peduli budaya, dan organisasi serta media, Aksara Jawa kini mulai “menantang balik” perkembangan zaman dengan cara masuk ke ekosistem sosial baru, peradaban baru.
Kolaborasi ini harus terus berlanjut demi tujuan satu: pelestarian aksara Jawa. Bagai peribahasa “banyak jalan menuju Roma”. Ada yang mengambil jalan udara, jalan laut dan bahkan jalan darat. Padahal Roma dan Surabaya terdengar mustahil ditempuh jalan darat. Umumnya jalan udara. Tetapi ada seorang pesepeda menempuh Jawa – Arab Saudi menggunakan jalan darat.
Itulah ibarat upaya pelestarian Aksara Jawa di Surabaya. Sulit. Tapi jalan harus ditempuh demi tujuan baik.
Disadari bahwa upaya melestarikan Aksara Jawa di Surabaya memang penuh tantangan di tengah arus modernisasi, namun langkah nyata harus terus ditempuh oleh berbagai pihak yang masih punya peduli demi menjaga identitas bangsa.
Siapa merasa bisa, silahkan siap melaju. Meski banyak anjing anjing menggonggong. Kafilah akan tetap berlalu. Bagai sebuah ungkapan: “Anjing menggonggong kafilah berlalu”.
“Banyak jalan menuju Roma” dan “Anjing menggonggong kafilah berlalu” hendaknya menjadi pedoman dan pegangan jitu dalam upaya menjaga aksara Jawa di Surabaya.
Kreativitas adalah kunci baik dalam bentuk dan cara. Kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan gagasan, proses, atau produk baru yang unik, menarik, dan berguna untuk memecahkan masalah atau menghadapi perubahan
Ide dan Gagasan adalah pemikiran orisinal atau cara pandang baru dalam melihat suatu hubungan antarunsur yang sudah ada. Yaitu aksara Jawa dan manusia Surabaya yang memang sudah ada. Namun, kedua unsur ini di era sekarang (modern) seolah menjadi dua entitas yang belum bersenyawa.
Bagaimana keduanya bisa bersenyawa? Maka dibutuhkan kreativitas dan terobosan.
Menyatukan aksara Jawa dan manusia Surabaya di era modern memerlukan pendekatan yang relevan, kausal, dan fungsional. Surabaya memiliki karakter masyarakat yang ekspresif, bangga akan identitas lokal (Suroboyoan), namun sangat dinamis. Agar kedua unsur ini “bersenyawa”, aksara Jawa tidak boleh lagi dianggap sebagai peninggalan masa lalu yang kaku, melainkan sebagai bagian dari gaya hidup urban.

Misalnya melalui Rekontekstualisasi Visual. Dalam gaya hidup masyarakat modern, khususnya anak muda Surabaya, sangat responsif terhadap tren visual.
Ambil contoh “Dialek Suroboyoan Pop” dengan membuat kaos, jaket, atau tote bag bergaya dengan kata-kata khas Surabaya (seperti Jancuk, Rek, Mbois, Cak), yang ditulis menggunakan kombinasi aksara Jawa ꦗꦚ꧀ꦕꦸꦏ꧀꧈ ꦫꦺꦏ꧀꧈ ꦧꦺꦴꦮꦶꦱ꧀꧈ ꦕꦏ꧀, dalam modifikasi (grafiti/kaligrafi modern) dan alfabet.
Termasuk adanya gerakan komunitas kreatif, yang bisa menjadi panggung bagi eksistensi Aksara Jawa. Penggunaan Aksara Jawa harus bisa dikemas lebih modis, mulai dari desain kaos, logo, produk komersial, hingga acara acara komunitas. (PAR/nng)
