Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Program Kemis Mlipis yang sudah diterapkan pemerintah Kota Surabaya sejak tahun 2025 di sekolah tingkat SD dan SMP di Surabaya adalah wadah pembelajaran budaya Jawa: khususnya Bahasa dan Aksara.
Dua objek budaya ini saling terkait. Bahasa bersifat lisan dan Aksara bersifat tulis, yang menjadi arah bagaimana pelafalan diucapkan. Pelafalan adalah aktivitas penting dari berbahasa.
Aksara diciptakan untuk mendokumentasikan pelafalan bahasa agar bisa dipahami lintas waktu dan jarak. Dengan aksara dapat pula diketahui bagaimana pelafalan diucapkan agar menjadi pengucapan yang benar. Aksara juga membantu menjaga konsistensi pelafalan suatu bahasa agar tidak mudah berubah secara drastis.
Aksara atau sistem penulisan berfungsi sebagai visualisasi dari bunyi bahasa (fonem) yang kita ucapkan. Melalui aksara, kita dapat mempelajari dan mempertahankan ketepatan pelafalan sebuah bahasa.

Penanda Fonetik yang Jelas: Setiap huruf atau simbol dalam aksara idealnya mewakili satu bunyi spesifik.
Aksara Fonetik: Aksara seperti International Phonetic Alphabet (IPA) dibuat khusus untuk menunjukkan posisi lidah dan bibir saat mengucapkan suatu bunyi.
Aksara Silabik: Aksara seperti Kana (Jepang) langsung menunjukkan bunyi suku kata secara konsisten, sehingga meminimalkan salah ucap.
Penggunaan Diakritik (Tanda Baca Khusus)
Dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia untuk keperluan pembelajaran, diakritik digunakan untuk membedakan pelafalan huruf yang sama. Dalam aksara Jawa hurufnya dengan sandangan sudah memberikan petunjuk pengucapan.
Huruf ‘e’ dalam Bahasa Indonesia: Aksara bisa diberi tanda seperti é (taling) untuk kata bèbèk, dan ê (pepet) untuk kata gêlar.Namun dalam Aksara Jawa sudah ada sendiri aksara yang lengkap dengan sandangan untuk suara é (taling) untuk kata bèbèk /ꦧꦺꦧꦺꦏ꧀/ dan ê (pepet) untuk kata gêlar /ꦒꦼꦭꦂ/.
Karenanya ketika program Kemis Mlipis juga manfaatkan (diisi) dengan pengajaran Aksara Jawa maka belajar bahasa Jawa akan semakin sempurna. (PAR/nng)
