Sejarah
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – “Think globally, act locally” adalah konsep yang berarti memiliki wawasan, visi, dan kepedulian luas yang bersifat nasional dan mendunia, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata, langkah kecil, atau solusi yang diterapkan di lingkungan sekitar atau lokal.
Tidak hanya seperti isu iklim, tetapi bisa juga isu sejarah budaya. Tokoh pejuang Bung Tomo adalah isu lokal Surabaya tetapi resonansi kejuangannya (nilai juang) se-nusantara.
Ketika menyuarakan nilai kejuangannya itu tidak luput dari kiprah kejuangan secara lokal di Surabaya dalam rangka mempertahankan kedaulatan bangsa.
Dalam hal ini, arek arek Surabaya di tahun 2008-an berfokus pada penelusuran kiprahnya dalam menjaga kedaulatan bangsa di Surabaya.
Contoh tokoh tokoh lainnya masih ada di negeri ini. Salah satunya yang fenomenal adalah sosok Hamengkubuwono II yang berjuang melawan bangsa asing yang tidak hanya demi kedaulatan bangsa (Keraton Yogyakarta) tetapi juga Budaya bangsa.
Budaya bangsa adalah harga diri bangsa. Budaya bangsa adalah cerminan jati diri, nilai luhur, dan karakter yang membedakan suatu negara dari bangsa lain. Ketika sebuah budaya dijaga dan dihormati, kehormatan serta wibawa bangsa tersebut ikut berdiri kokoh di mata dunia.

Menjadi budaya bangsa dan kedaulatan bangsa ini dicontohkan oleh Hamengkubuwono II dalam momentum Geger Sepehi 1812. Perlawanan Hamengkubuwono II melawan bangsa asing itu nyata adanya.
Perjuangan Hamengkubuwono II ini serupa dengan perjuangan Pangeran Diponegoro yang dikenal dengan Perang Jawa (1825-1830), Hasanudin (1666-1669) dan Pangeran Diponegoro (1825-1830) yang semuanya telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Lihat matriks di bawah:

Kejuangan Pangeran Diponegoro, Hasanudin dan Pattimura itu memiliki derajat yang sama. Ketiganya merupakan simbol perlawanan gigih terhadap penindasan kolonial di wilayah masing-masing, yang fondasi kepahlawanannya dihormati secara setara dalam sejarah Indonesia. Nilai kejuangan mereka tak ubahnya dengan derajat kejuangan Hamengkubuwono II.
Keempat tokoh ini diakui dalam sejarah nasional Indonesia atas keberanian dan keteguhan mereka dalam mempertahankan kedaulatan bangsa. (PAR/nng)
