Dari Protokoler Berujung Geger di Mataram

Sejarah

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Mungkin orang (pihak) luar memandang sepele. Hanya karena protokoler posisi duduk antara tuan rumah dan tamu berujung perang yang berakibat pada hilangnya tahta dan harta.

Ingat tahta dan harta adalah jiwa dan martabat, yang tidak mudah untuk diinjak injak oleh pihak lain.

 

Inilah kisah Hamengkubuwono II pada 1812.

Peristiwa Geger Sepehi 1812 adalah geger dua monarchi Jawa dan Britania. Monarki Britania (Inggris), yang dianggap arogan, berakar dari kritik terhadap hak istimewa istana, sejarah kolonialisme, serta tradisi kuno yang dinilai tidak sejalan dengan nilai modern.

Imperium Britania, yang menjajah berbagai belahan dunia, dikenal dengan citra dominasi dan kesombongan kultural atau politik. Ini pun berpengaruh ketika Inggris invasi ke pulau Jawa di bawah Thomas Stamford Raffles pada 1811-1816.

Peristiwa ketegangan protokol kekuasaan terjadi ketika Letnan Gubernur Jenderal Inggris, Thomas Stamford Raffles, mengunjungi Keraton Yogyakarta pada Desember 1811. Ajudan Raffles menendang dingklik (penumpu kaki/alas duduk) singgasana Sultan Hamengkubuwono II agar kursi Raffles tampak sejajar.

Sultan di atas Dampar Kencana. Foto: ist

Tindakan ini memicu kemarahan prajurit keraton yang langsung menghunus keris demi membela kehormatan raja dan menjaga tradisi agung Mataram.

Perbedaan Pandangan Kekuasaan: Raffles memposisikan dirinya sebagai wakil dari raja atau penguasa tertinggi baru di Hindia Belanda, yang tidak mau duduk di bawah posisi seorang raja lokal.

Kedaulatan Mataram: Sri Sultan Hamengkubuwono II memegang teguh tata krama dan supremasi keraton, di mana dalam tradisi istana, posisi fisik raja harus senantiasa berada di tempat yang paling tinggi sebagai simbol kedaulatan tertinggi

 

Dampak Ketegangan Politik

Ketegangan protokoler ini memperuncing hubungan antara Sri Sultan Hamengkubuwono II dan pemerintah pendudukan Inggris di bawah Thomas Stamford Raffles.

Sikap tegas dan penolakan Sultan atas berbagai intervensi politik serta aturan asing berujung pada memburuknya hubungan diplomatik.

Puncak dari perseteruan tersebut terjadi ketika pasukan Inggris di bawah Mayor Jenderal Gillespie melakukan penyerbuan dan pendudukan terhadap Keraton Yogyakarta pada Juni 1812.

Penyerbuan pada Juni 1812 inilah yang dikenal dengan nama Geger Sepehi. Raffles mengerahkan sekitar 1.200 tentara Sepoy (pasukan bayaran asal India), didukung oleh pasukan Kasunanan Surakarta dan Legiun Mangkunegaran.

 

Kronologi Serangan (18–20 Juni 1812)

18 Juni 1812: Kegagalan jalan diplomasi terakhir memicu persiapan penyerangan total oleh pihak Inggris.

19 Juni 1812: Pasukan Sepoy mengarahkan meriam berat langsung ke arah benteng Keraton Yogyakarta.

20 Juni 1812:Serangan mendadak dilancarkan, termasuk penyusupan pasukan Inggris dari arah Plengkung Nirbaya di sisi selatan keraton. Pertempuran sengit pecah di dalam area benteng, namun teknologi senjata api dan meriam Inggris berhasil menjebol pertahanan darat prajurit keraton. Pasukan Inggris menembus hingga area Plataran Srimanganti. Sri Sultan Hamengkubuwono II takluk dan ditangkap bersama para pangeran.

 

Dampak Penyerbuan

Penjarahan: Pasukan Inggris melakukan penjarahan besar-besaran atas harta karun, perhiasan emas, serta ribuan naskah kuno (manuskrip) dan arsip sastra Jawa.

Pelonggaran Kekuasaan: Sultan Hamengkubuwono II diturunkan dari takhta dan diasingkan ke Pulau Penang, lalu digantikan oleh putranya sebagai Hamengkubuwono III. (PAR/nng)

https://kebudayaan.jogjakota.go.id/page/index/geger-sepoy

•www.goalcoat.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *