Ki Yusuf Masruh Gagas “Bank Karya Sastra Surabaya”

Literasi

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Sebuah gagasan segar disampaikan Kadis Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya, Ki Yusuf Masruh (panggilan akrab), dalam upaya mendokumentasikan karya tulis anak. Yakni Gagasan Menyiapkan Bank Karya Sastra Surabaya.

Masak mulai dulu, kita ini diceritani Kancil Makan Mentimun terus”, kelakar Yusuf Masruh, mantan Kadis Pendidikan Surabaya.

Yusuf ingin ada variasi cerita lokal yang muncul dari siswa dan masyarakat Surabaya. Cerita cerita lokal yang selama ini ada di masyarakat perlu didokumentasikan dalam bentuk karya tulis yang kemudian dikoleksi di perpustakaan.

Saya itu pengen ada perpustakaan yang tidak hanya bersifat akademisi, tapi yang tematik praktis. Misalnya ada koleksi buku buku khusus tentang pertukangan dan termasuk karya karya tulis sastrawi Surabaya” kata Yusuf di hadapan A. Hermas Thony dan staff (Tommy dan Erma) di kantornya pada Rabu sore (12/8/26).

Bincang sore. Dari kiri: Erma, Tommy, Yusuf Masruh (Kadispuaip Kota Surabaya), A. Hermas Thony dan Nanang (penulis). Foto: par

Gagasan Cerdas

Gagasan ini adalah ide cerdas karena merangsang minat menulis dan membaca masyarakat tentang cerita cerita yang selama ini hanya bersifat tutur.

Menanggapi gagasan Yusuf, Pembina Komunitas Puri Aksara Rajaptni, A. Hermas Thony, menyampaikan bahwa banyak cerita cerita baik dan inspiratif dari pengalaman orang orang di sekitar.

Jika pengalaman nyata dan inspiratif itu dapat didokumentasikan melalui tulisan, maka cerita dongeng itu tidak cuma Kancil Mencuri Ketimun”, ujar Thony konstruktif.

Proses menulis hingga menjadi karya tulis ini tidak lepas dari pemahaman aksara (huruf) bahwa dari aksara, yang merupakan unit terkecil dalam tulisan, yang jika dirangkai akan menjadi kata, kalimat, hingga membentuk sebuah karya tulis yang utuh.

Tahapan menulis memang harus dimulai dari unit terkecil Aksara hingga menjadi Karya.

Aksara/Huruf: Unit visual terkecil dalam bahasa tulis.

Kata: Gabungan aksara yang memiliki makna dasar.

Kalimat: Rangkaian kata yang disusun menurut tata bahasa.

Paragraf: Kumpulan kalimat yang menuangkan satu gagasan utama.

Karya Tulis: Gabungan paragraf yang membentuk satu kesatuan isi yang utuh dan bermakna.

 

“Iqra’’ (Bacalah)

Sementara itu, Tommy, menguatkan gagasan Bank Karya Sastra Surabaya yang sesungguhnya tidak lepas dari keberadaan Aksara sebagai unit terkecil simbol tulisan.

Ada perintah ‘iqra’ dari Allah”, kata Tommy dengan singkat.

Memang, perintah iqra’ (bacalah) dianjurkan dan diturunkan oleh Allah SWT melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Perintah ini merupakan bagian dari wahyu pertama yaitu Surah Al-‘Alaq ayat 1-5 di Gua Hira.

Makna iqra’ cukup luas. Tidak hanya membaca teks atau tulisan, tetapi juga membaca alam, tanda-tanda kebesaran Tuhan, serta situasi sosial masyarakat.

Secara fisik perintah iqra’ (membaca) ini tentu saja atas adanya teks atau tulisan, karena membaca merupakan kunci utama ilmu pengetahuan, fondasi membangun peradaban, serta sarana untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah SWT baik dari teks tertulis maupun alam semesta.

Konteks perintah iqra’ kala itu menyiratkan bahwa diduga sudah ada teks yang harus dibaca, namun

Nabi Muhammad SAW tidak memegang lembaran atau teks tertulis. Beliau bahkan sempat menjawab “ma aqra’” (apa yang harus saya baca) karena tidak mendapati objek tulisan.

Kata iqra’ berasal dari akar kata qara’a, yang secara etimologis berarti menghimpun. Dalam Al-Qur’an, objek dari kata iqra’ sengaja dikosongkan (tidak disebutkan objeknya atau tak berobjek) untuk memberikan makna yang seluas-luasnya.

Perintah ini mencakup aktivitas meneliti, mendalami, menilai, menguasai, serta membaca realitas, alam semesta, dan diri sendiri, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis.

 

Aksara

Kantor Dispusip Kota Surabaya. Foto: par

Terkhusus dalam konteks tertulis merujuk pada teks, tulisan dan aksara (huruf). Pada zaman Rasulullah SAW, huruf atau abjad Arab (huruf hijaiyah) memang sudah ada dan digunakan untuk menuliskan wahyu Al-Qur’an pada pelepah kurma, batu, dan kulit. Namun, bentuk tulisan huruf pada masa itu sangat sederhana, belum memiliki titik pembeda huruf (seperti pada ba, ta, ts: . ب dibaca ba, ت dibaca ta dan ث dibaca tsa, dan belum memiliki harakat (fathah, kasrah, dhommah).

Dalam perkembangan zaman, kata “baca” telah bergeser dan memperluas makna. Dahulu, aktivitas membaca tidak selalu merujuk pada huruf, melainkan memahami simbol, tanda alam, atau piktograf. Kini, kata “baca” secara umum merujuk pada proses mengenali huruf, lambang tertulis, serta memahami makna di balik teks atau informasi yang tersaji.

 

Karya Sastra

Sekarang kata “membaca” merujuk untuk mendapatkan informasi sebagaimana gagasan membuat Bank Karya Sastra Surabaya, maka haruslah melalui proses menulis, yang secara fisik (simbol) berangkat dari huruf (aksara), lalu tersusun menjadi kata. Dari kata berkembang menjadi kalimat, selanjutnya menjadi paragraf, lalu menjadi buku yang sarat pesan.

Maka karya sastra ini adalah hasil dari pemajuan pemahaman Aksara dan Bahasa, yang telah terhimpun dalam kebijakan pemerintah kota Surabaya mengenai Penggunaan penulisan Aksara Jawa di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya. Yaitu berdasarkan SE Sekda kota Surabaya Nomor 000/20389/436.7.17/2023 yang diterbitkan pada 19 September 2023.

Sementara itu Kebijakan “Kemis Mlipis” (Kamis Berbahasa Jawa) resmi dicanangkan dan mulai diterapkan oleh Pemerintah Kota Surabaya pada tahun ajaran baru 2025 (bulan Juli 2025) berdasarkan Peraturan Walikota (Perwali) Nomor 17 Tahun 2025.

Melalui gagasan Kadis Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya tentang Bank Karya Sastra Surabaya yang mendorong kegiatan gemar menulis, maka secara strategis dapat menjadi upaya pemajuan Aksara dan Bahasa.

Maka jelas hubungan sebab akibatnya. Dari Aksara, menjadi bentuk bahasa yang selanjutnya berkembang menjadi karya sastra. Dari karya sastra divisualkan menjadi karya budaya seni panggung seperti sendratari sebagai bentuk penyebaran pesan, dari pesan yang berisi nilai moral itu menjadi media pembelajaran”, jelas Thony.

Transformasi karya sastra menjadi sendratari merupakan proses alih wahana yang efektif. Pesan dan nilai moral dari teks sastra divisualkan ke dalam gerak tubuh, musik, dan rupa, sehingga menjadi media pembelajaran budaya yang komunikatif bagi masyarakat luas.

 

Peran sebagai Media Pembelajaran

Pendidikan Karakter: Menanamkan nilai luhur, etika, dan keteladanan tokoh secara langsung melalui tontonan.

Pelestarian Budaya: Mengenalkan warisan sastra lokal dan tradisi seni pertunjukan kepada generasi muda.

Refleksi Sosial: Mengajak penonton berpikir kritis terhadap realitas hidup melalui pesan moral yang disampaikan.

Gagasan Bank Karya Sastra Surabaya tentu saja melibatkan pihak pihak terkait.

Gagasan Bank Karya Sastra diinisiasi oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan. Program ini melibatkan Dinas Pendidikan karena mengandung nilai edukasi pedagogik serta bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan untuk visualisasi karya seni panggung.

Sinergi antar dinas ini mengoptimalkan fungsi dan tujuan program melalui pembagian peran. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan: Penggagas utama dan penyedia basis data, arsip, serta referensi karya sastra. Dinas Pendidikan: Mengintegrasikan nilai edukasi dan aspek pedagogik ke dalam lingkungan belajar atau sekolah. Dinas Kebudayaan: Menangani aspek artistik, estetika, dan visualisasi pementasan seni panggung dari karya sastra tersebut.

Itulah esensi diskusi sore sambil nyruput kopi di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya pada Rabu sore (12/8/26). (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *