Jika Ilmu Pengetahuan Tanpa Aksara, Bagai Gambar Tanpa Titik. Hanya Jadi Ingatan Saja.

Budaya, Literasi, Aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Bayangkan bila dunia ini tanpa huruf atau aksara. Tentulah dunia ini akan runtuh ke dalam keterbatasan ingatan kolektif, hilangnya ilmu pengetahuan, dan kemunduran peradaban manusia ke era purba. Manusia hanya akan mengandalkan lisan, suara, dan simbol visual sederhana untuk bertahan hidup.

Dengan adanya huruf pun, kita harus belajar mengkonstruksi makna yang bisa membawa manfaat karena huruf dan kata harus kita gunakan untuk menyampaikan kebaikan, mencari ilmu, serta menyebarkan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.

Manfaat belajar mengkonstruksi aksara adalah untuk menebar kebaikan. Yaitu digunakan untuk menulis dan berbicara hal yang berguna bagi orang lain.

Dengan huruf, kita bisa memahami Ilmu, menangkap pesan baik dari buku atau pelajaran yang dibaca.

Dengan mengkonstruksi huruf, kita bisa memakai kata-kata yang sopan agar tidak menyakiti hati sesama.

Aksara adalah unit terkecil yang bisa dikembangkan menjadi Kata – Frasa – Kalimat – alinea/paragraf – artikel – bab hingga buku.

Itu adalah hierarki penulisan dari unit terkecil hingga terbesar secara bertahap sesuai kaidah tata bahasa.

Huruf/Aksara: unit visual terkecil dalam tulisan yang melambangkan bunyi.

Kata: Gabungan huruf yang memiliki arti atau makna dasar.

Frasa: Gabungan dua kata atau lebih yang bersifat non-predikatif.

Kalimat: Satuan bahasa yang berdiri sendiri dan mengungkapkan pikiran utuh.

Alenia/Paragraf: Kumpulan kalimat yang membahas satu gagasan utama.

Artikel: Karya tulis lengkap yang dimuat dalam media.

Bab: Bagian besar dalam sebuah buku atau naskah.

Buku: Kumpulan bab atau karya tulis utuh yang dijilid.

Huruf atau Aksara ini bagaikan titik. Jika titik titik disambung sekian banyak hingga tak terhingga akan menjadi garis: ada garis lurus, garis lengkung, garis bulat, dan garis tak beraturan. Jika garis garis itu ditata akan menjadi gambar. Tentulah gambar itu mengandung makna. Misalnya gambar rumah, berarti ada pesan rumah. Ada gambar bunga, tentulah ada pesan Bunga.

Bahkan konsep dasar pembentukan bentuk huruf/aksara juga berasal dari unsur visual paling elementer yang berupa titik (dot) yang kemudian menyatu menjadi berbagai jenis garis dalam ilmu seni rupa dan tipografi.

Titik: Elemen rupa terkecil yang menjadi awal dari segala bentuk visual dan tulisan.

Garis: Gabungan titik yang berderet secara kontinu, membentuk aneka pola seperti garis lurus, lengkung, dan melingkar yang menyusun anatomi huruf

Aksara atau Huruf pun dibentuk dari kumpulan titik (dot). Jenis Bentuk Garis pada Aksara

Garis lurus: Ditemukan pada kaki huruf seperti A, I, L, atau pada Aksara Lontara.

Garis lengkung: Ditemukan pada bagian melingkar di huruf C, S, atau O, termasuk aksara Jawa.

Garis tak beraturan: Ditemukan pada gaya tulisan tangan bebas atau seni kaligrafi abstrak.

Sekali lagi, bayangkan jika dunia tanpa huruf / aksara maka bagai seni gambar tanpa titik sehingga tidak ada garis garis lurus, lengkung dan tak beraturan.

 

Ilmu Pengetahuan Tanpa Aksara

Belajar mengkonstruksi aksara. Foto: ist

Jika Ilmu pengetahuan tanpa huruf berarti hakikat ilmu berada hanya ada di dalam hati (dada) atau bersumber dari pengalaman langsung (rasa) yang murni, tanpa terikat oleh simbol tertulis atau batasan kata-kata.

 

Hakikat Ilmu Tanpa Aksara

Tentunya Ilmu itu hanya akan ada di dalam dada. Ini menjadi pengetahuan sejati karena pengetahuan sejati adanya di dalam hati manusia, bukan sekadar tulisan di atas kertas.

Tanpa Aksara/huruf, ilmu sukar dibagikan secara luas kepada orang lain lewat buku atau catatan.

Dampak lainnya adalah rawan hilang karena itu bergantung sepenuhnya pada ingatan atau pengalaman personal sang pemilik ilmu.

Ternyata Aksara/Huruf sebagai unit lambang visual terkecil tetapi memiliki makna besar. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *