Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Memperhatikan Matrix tersebut di atas, ada tiga hal penting (historis) yang bisa diperhatikan. Matrix tersebut adalah urutan kronologis terkait dengan penyebutan nama Surabaya dalam data data Kuna (prasasti, manuskrip, inskripsi, dan artefak).
Pertama adalah Kaitan Surabaya dan Aksara Tradisional. Bahwa jauh sebelum aksara Latin masuk Nusantara, masyarakat lokal telah lama menggunakan aksara tradisional (di Jawa menggunakan Aksara Jawa).
Aksara Jawa ini terdiri golongan besar, yakni Aksara Jawa Kuna (Kawi) dan Aksara Jawa Baru (Carakan). Bila diperhatikan bahwa Surabaya sudah dikenal melalui penulisan Aksara Jawa pada 1358 M di era Kerajaan Majapahit.
Kedua, nama Surabaya tertulis dan diketahui dalam Aksara Jawa Kuna (Kawi) untuk kali pertama pada 1358 M dalam prasasti Canggu atau Trowulan I. Jika ditulis dalam aksara Jawa Baru atau Carakan adalah sebagai berikut ꦯꦹꦫꦨꦪ dan dalam aksara Latin yang sesuai dengan pemaknaan aslinya (Jawa Kuna) adalah Śūrabhaya, yang berarti Berani Menghadapi Bahaya.
Ketiga, ada perubahan tulisan seiring dengan pergantian zaman Di era era Kerajaan, aksara yang dipakai adalah Aksara Jawa Kuna (Kawi). Namun begitu ada pergantian kekuasaan dari era Majapahit ke Mataram Islam di era Sultan Agung, penulisan aksaranya berubah menjadi Aksara Jawa Baru (Carakan)

Penggunaan Jawa Baru ini juga berpengaruh ke Surabaya sebagai wilayah kekuasaan Mataram setelah Surabaya ditaklukkan Mataram pada 1625. Pengaruh ini meliputi segala hal termasuk penulisan resmi, hingga keseharian. Bukti itu tampak pada artefak artefak beraksara Jawa di Surabaya dan berita berita media massa termasuk iklan dan placard placard.
Dari matrik di atas, kita sebagai warga negara bisa berfikir dan bersikap Arif dan bijaksana dalam upaya pelestarian budaya dan identitas bangsa ini. (PAR/nng)
