Sumpah Budaya

Budaya, Aksara,

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA ° Rangkaian Sumpah Palapa (1336), Sumpah Pemuda (1928) dan Sumpah Budaya (2026) adalah untaian mutiara Nusantara. Semua sumpah itu menyatukan keragaman: keragaman pulau, etnik dan bahasa. Tapi tidak melupakan akarnya.

Sumpah Palapa, Sumpah Pemuda, dan Sumpah Budaya adalah tiga pilar historis yang membuktikan bahwa kekuatan terbesar Indonesia justru terletak pada kemampuannya merajut keberagaman tanpa harus mencabut akar identitas lokal.

Kita tahu apa itu Sumpah Palapa yang terjadi di era kerajaan Majapahit. Lalu Sumpah Pemuda pada masa masa pergerakan yang menuju kemerdekaan. Pada masa kemerdekaan, digagas lah Sumpah Budaya yang melibatkan segenap budayawan dan pegiat budaya se Jawa Timur dan siswa SMA/SMK yang mengikuti Lomba Menulis Aksara Jawa pada Bulan Bahasa dan Sastra di bulan Oktober 2026 mendatang.

 

Apa tujuan Sumpah Budaya ini?

Sumpah Budaya. Foto: courtesy of kompasiana

Tujuannya adalah bersama berkomitmen untuk bisa saling berkomunikasi dengan rendah hati dan berbudi luhur serta menolak bentuk tutur kata yang memecah belah, menghina adat, dan merendahkan martabat kemanusiaan.

Selain itu juga berjanji untuk membuka mata, telinga, dan hati dalam memahami setiap perbedaan adat, bahasa, dan keyakinan di seluruh pelosok negeri.

Serta bertujuan menjaga warisan nilai luhur di ruang digital dan jagat nyata.

Sumpah Budaya adalah ikatan atau komitmen adat dan nilai luhur yang hidup di tengah masyarakat. Sumpah ini dikaitkan sebagai bentuk komitmen kultural (seperti pelestarian aksara atau identitas lokal) yang meneruskan semangat persatuan bangsa setelah Sumpah Palapa dan Sumpah Pemuda.

Sumpah Budaya (2026) hadir dalam kekinian yang merajut dua sumpah sebelumnya: Sumpah Palapa (1336) dan Sumpah Pemuda (1928). (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *